Kamis, 22 Agustus 2013 - 18:37:43 WIB

Kategori: Hukum - Dibaca: 825 kali

Mantan Kapolda, Kapolrestabes, Kasat Reskrim Tukang Peras


mantan-kapolda-kapolrestabes-kasat-reskrim-tukang-peras

SURABAYA (suara-publik.com)- Kasus interen di Institut Teknologi Pembangunan Surabaya (ITATS) hingga kini belum rampung. Namun, di balik permasalahan ini ada dugaan kasus pemerasan yang dilakukan oleh Mantan Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Coki Manurung, beserta mantan Kasat Reskrim-nya yang saat itu dijabat oleh, AKBP. Anom Wibowo, serta mantan Kapolda Jatim, Komjen Pol, Badrodin Haiti.

Menurut Kurniadi, peristiwa ini terjadi sekitar Januari 2011. Saat itu pembantu Rektor 1 ITATS, Didik Purwanto, mendapat informasi dari pejabat PR-3, Efrita, tentang adanya seseorang yang mengaku bernama Anom Wibowo, yang akan membantu menyelesaikan kasus hukum (pidana dosen ITATS) atau sengketa YPTS-ITATS. Didik selanjutnya memberitahukan hal ini kepada Kurniadi selaku Rektor ITATS.

Guna mengetahui kebenarannya, Kurniadi selanjutnya menemui Isbari (anggota Polrestabes) di lapangan tenis, tepatnya sebelah Barat RS. Dr. Soetomo, Surabaya. Dipastikan oleh Isbari, bahwa nomor HP yang dimaksud tersebut memang milik Anom.

Pada 24 Januari 2011, lanjut Kurniadi, ia mencoba menelfon Anom. Selanjutnya Perwira yang pernah mejadi Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ini meminta Kurniadi agar mentransfer uang Rp. 85.000.000,- di nomor rekening tetentu, dan menyarankan Kurniadi agar selanjutnya menemui Coki.

Sesuai dengan saran Anom, Kurniadi Pada 25 Januari 2011, menghubungi Coki. Selanjutnya, Coki meminta Kurniadi uang sebesar Rp. 215.000.000,- dan mereka berjanji bertemu di Rumah Makan Ikan bakar Mataram di Jalan Kusuma Bangsa. Kurniadi ditemani PR-2 ITATS, Agus Setiawan, sementara Coki batal datang, dan meminta uangnnya ditransfer saja ke rekening tertentu.

Pada 26 Januari 2011, Coki meminta lagi sebesar Rp. 200.000.000,- untuk kepentingan Badodrin. Dan pada 27 Januari Badodrin melalui telfon meminta ketemuan lagi di rumah makan Ikan Bakar Mataram, dan meminta uang Rp. 250.000.000,- katanya untuk kepentingan pusat dan Kejati. Kenyatannya, Badrodin juga tidak datang dan uang ditrasnfer lagi ke rekening tertentu.

“Bahwa kenyatannya, Badrodin, Coki dan Anom tidak mau bertemu secara langsung. Dan para Dosen ITATS tetap dipenjara atas laporan arogan Zikri,” kata Kurniadi.

Masjid Diganti SPBU

Seperti diketahui, Zikri CS diduga menggelapkan uang Mahasiswa ITATS lebih Rp. 57 Milyar. Mem-PHK ratusan karyawan dan dosen, serta mempolisikan belasan karyawan dan dosen. Tidak hanya itu, aset tanah milik ITATS juga ludes dijual Ketua palsu YPTS ini. “Seandainya pengangkatn Zikri itu sah, mestinya sudah habis masa berlakunya pada beberapa tahun kemarin. Tapi anehnya, ia tetap ngotot menjadi Ketua YPTS,“ jelas sumber.

Masih sumber, kini Zikri sibuk mengobrak para PKL di lingkungan masjid Kampus ITATS. Rumornya, masjid tersebut akan diganti dengan SPBU, dan di dalam kampus akan dibangun Musholah yang lebih kecil, sebagai pengganti masjid.

Baik Zikri maupun Coki, hingga kini enggan menjawab pertanyaan suara-publik.com (Suara Publik Grup) Mereka, terkesan seperti pengecut, Kamis (22/8/2013) pukul 15.45. WIB.

Sementara salah satu perkembangan terkahir yang diperoleh suara-publik.com (Suara Publik Grup) bahwa rival Zikri meminta perlindungan hukum kepada KOMPOLNAS atas perampasan sewenang-wenang Kampus ITATS yang saat itu dikoordinir oleh Coki, selaku Kapolrestabes Surabaya, Kamis (22/8/2013). sore tadi. (ono)foto.Coki

 

 

 

 

 

 

 

Foto Berita