Demi Rp 50juta/Tahun, Tanpa Menghiraukan Keselamatan,  Pemilik Lahan Tega Membohongi Warga

Demi Rp 50juta/Tahun, Tanpa Menghiraukan Keselamatan, Pemilik Lahan Tega Membohongi Warga

Meski Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perizinan Kabupaten Malang pernah menegaskan, akan menindak tegas pemohon atau pemilik tower, termasuk melakukan penyegelan terhadap tower di wilayah Kabupaten Malang yang tidak memiliki perizinan lengkap. Masih saja ada yang tidak menghiraukan himbauan tersebut. Seperti yang terjadi Desa Ketawang RT.29, Kecamatan Gondang Legi, Kabupaten Malang. Sontak persoalan ini membuat warga sekitar geram. Bagaimana jika perijinan Tower milik provider Satelindo ini lengkap, namun penuh manipulasi yang dilakukan oleh pemilik lahan yang hanya memikirkan keuntungan pribadi saja tanpa memikirkan keselamatan Warga sekitar.? Sampai sejauh mana pihak provider terlibat.? Ikuti Investigasinya.....

MALANG (suara-publik.com)- Keberadaan Tower  milik provider Satelindo ini, awalnya memang sudah ditolak warga warga Desa Ketawang. Namun karena rayuan atau keterngan dari pemilik lahan H Effendi, sehingga berdirilah Tower didekat rumah warga tersebut. Sontak keberadaan Tower yang dinilai warga melenceng dari keterangan H Effendi ini membuat warga geram.

Dari keterangan H Bambang yang dipercaya selaku koordinator warga yang menolak adanya Tower tersebut menerangkan pada awalnya warga menolak dan tidak mau menanda tangani surat persetujuan yang disodorkan ole H Effendi. Kuat dugaaan H Effendi mengelabui warga sehingga mendapatkan tanda tangan beberapa warga. “Proses berdirinya Tower atau proses  ijin lingkungan H. Efendi mengelabui masyarakat terkait mengajukan tandatangan atau meminta persetujuan pada masyarakat. Beberapa warga tidak mempersetujui dan tidak mau tandatangan dengan alasan takut kena radius Tower itu. Namun, tetapi Haji Efendi berkali-kali memaksa pada masyarakat , katanya,  jarak radius Tower itu jauh dan jaraknya masih 50 meter dari rumah. Dari dasar katanya itu lah masyarakat sempat dan mau menandatanganinya,” terang H Bambang.

Dari hasil penelusuran wartawan ini, Tower dengan sewa lahan Rp 50juta/tahun selama 20th. Ternyata memang tiak berjarak 50meter. Malahan sangat berdekatan, sekitar hanya 9meter. Alhasil, protes keras dilakukan warga. Terutama H Bambang yang rumahnya hanya berjarak 9meter dari tower. “Saya mengajukan protes dan meminta tandatangannya di cabut dan harap di batalkan. Karna saya merasa di tipu oleh Haji Efendi. Tentang radius dari rumah saya 50 meter, ternyata radiusnya 9 meter antara Tower dengan rumah saya,” tegasnya.

Bahkan  Haji Bambang beserta warga sanggup mengganti biaya pembongkaran untuk dipindah lebih jauh dari pemukiman warga. “Tandatangan saya itu sempat saya ajukan untuk di batalkan dan harus di cabut. Namun Haji Efendi tidak menghiraukan saya sama sekali dan saya akan tetap menuntut sampai tuntas dan selesai mengenai tandatangan saya itu.  Saya menuntut pembongkaran tower itu secepatnya. Bila perlu pembongkaran tower itu saya yang membiayai atau tower itu di pindah ke agak jauh dari lingkungan Warga dan saya pun sanggup membiayai untuk pindah tower itu,” tegasnya dengan nada lantang.

Apalagi berdirinya tower ini, tidak ada kesepkatan pemberian jaminan keselamatan,  jaminan kesehatan, dan dispensasi masyarakat sekitar dampak radiasi tower. Ironisnya, pemilik lahan tidak menanggapi protes warga. “Setelah berdirinya tower itu, saya sempat memanggil pemilik tanah dan klarifikasi ke Kamituo. Namun, hasil kelarifikasi itu di abaikan dan tidak di gubris oleh H. Efendi dan Kamituo beserta Kepala Desa. Saya beserta masyarakat meminta pihak Satelindo atau pemilik tanah Haji Efendi meneribtkan surat pernyataan atau surat perjanjian secara tertulis tentang tandatangan saya dan tuntutan-tuntutan yang saya sebutkan terutama tuntutan masyarakat di lingkungan. Mengenai tandatangan dan ansuransinya,” tandas H Bambang pada Suara Publik.

Masih Haji Bambang, meminta pemilik lahan dan pihak provider Satelindo memberi kejelasan secara tertulis kepada  masyarakat soal kepastian ganrti rugi bila terjadi bencana, baik langsung maupun tidak langsung, sebesar 100% -200% yang di sebabkan oleh  tower itu. Utamanya  kekawatiran timbulnya gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh radiasi tinggi.Bahkan menurut pakar kesehatan yang saya temui, radiasi yang di pancarkan tower semacam ini, jauh lebih tinggi dan lebih berbahaya dari pada sutet,” katanya. mex

 

Sebelumnya Polsek Wringin Diduga Diamkan Kasus Penganiayaan.
Selanjutnya Jambret Kusuma Bangsa di Hadiahi Timah Panas