Edarkan Sirip Hiu Ilegal, Usaha Perikanan di Sidodadi Digerebek

Edarkan Sirip Hiu Ilegal, Usaha Perikanan di Sidodadi Digerebek

Laporan: Tom.

SURABAYA Suara-Publik - Polisi terus gencar melakukan sidak jelang lebaran. Sabtu sore (17/6), Tim Satgas Pangan Polrestabes Surabaya menggerebek usaha perikanan di kawasan Sidodadi, Simokerto Surabaya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dilapangan, usaha perikanan tersebut dimiliki oleh seorang pria bernama Agus Margono. Usaha milik pria berusia 60 tahun itu digerebek karena diduga tidak memiliki izin alias ilegal.

"Penggerebekan yang kami lakukan ini berdasarkan informasi dari masyarakat," beber Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Bina Gunawan Silitonga di lokasi penggerebekan, Sabtu (17/6).

Sesuai informasi tersebut, usaha perikanan yang bertempat di Jalan Sidodadi 9, Simokerto itu langsung didatangi polisi. Setiba disana dan melakukan penggerebekan, polisi mendapat temuan jika benar adanya usaha perdagangan dalam bidang perikanan.

Dari situ, korps seragam cokelat langsung melakukan penggeledahan di dalam rumah yang bersangkutan. Hasilnya, petugas menemukan beberapa jenis sirip ikan Hiu. Satu di antaranya adalah sirip ikan Hiu Koboi. "Berdasarkan peraturan menteri kelautan, informasinya barang-barang ini telah dilindungi," jelas Shinto.

Shinto yang memimpin langsung penggerebekan itu, lantas segera menginterogasi pemilik usaha, Agus Margono. Dari keterangan Agus, jika sirip ikan Hiu yang dilindungi itu didapat dari nelayan di sekitar Pantai Kenjeran, Surabaya maupun dari luar kota hingga Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Yang bersangkutan mengaku, jika sirip ikan Hiu ini dibelinya dari para nelayan dengan harga Rp 1 juta/kilogram. Setiap kilogramnya, jika diolah kembali oleh yang bersangkutan bisa menjadi dua kilogram," imbuh polisi asal Medan itu.

Shinto melanjutkan, setelah sirip ikan Hiu tersebut usai diolah, oleh Agus (pemilik usaha) lantas kembali dijual ke wilayah sekitar Surabaya. Dari penjualan itu, Agus memperoleh keuntungan lebih besar. "Setiap kilogram sirip ikan Hiu dalam kemasan, dijual oleh pelaku dengan harga Rp 700 ribu," ucap Shinto.

Tidak hanya sirip ikan Hiu, polisi juga menemukan adanya pengolahan perut ikan Kakap. Kemudian kerang mutiara, dan beberapa barang berasal dari sumber daya kelautan.

Dalam konteks ini (penemuan bukti selain sirip ikan Hiu), polisi mendalami bahwa si pelaku usaha juga mengemas barang-barang dari laut dalam bentuk plastik biru. "Kemudian siap diedarkan ke masyarakat. Sehingga kita melihat bahwa kemasan ini tidak memiliki izin edar dari Badan BPOM," kata Shinto.

Sementara berdasarkan analisa dan temuan di TKP, tersangka Agus akan dijerat dengan Pasal 92 Undang-Undang Nomor 54/2009 tentang kelautan, yang menegaskan bahwa setiap usaha kelautan harus memiliki izin usaha perikanan (IUP).

"Selain itu, karena ada kegiatan pengemasan pangan yang tidak ada izin edarnya, maka kita lapis dengan Undang-Undang Nomor 18/2012 tentang pangan, terutama pada Pasal 143," tandas alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) 1999 tersebut.

Sebelumnya Muspika Sawahan Dukung Forum Anak Surabaya Adakan Sahur on The Road
Selanjutnya Awali Operasi Ramadniya Semeru 2017, Kapolres Pasuruan AKBP Raydian Kokrosono, S.I.K. Pantau Pospam.