Gelapkan Uang Tagihan 1,1 M, Mantan Karyawan PT. HMP Jadi Terdakwa.

Gelapkan Uang Tagihan 1,1 M, Mantan Karyawan PT. HMP Jadi Terdakwa.

Laporan Mulyono.

Surabaya (Suara Publik.com) -  Eks Karyawan PT. Harvest Metalindo Perkasa (HMP) Liem Eko Wahyudi didudukan di kursi pesakitan pengadilan negeri Surabaya, ia diadili lantaran telah melakukan penggelapan uang tagihan PT. HMP sebesar Rp. 1,1 miliard.

Jaksa Penuntut Umum, Andhi Ginanjar,SH,MH, dari Kejari Tanjung Perak menghadirkan delapan saksi untuk dimintai keterangan didalam persidangan. Delapan saksi tersebut diantaranya saksi korban Roy Limantoro sebagai direktur PT. HMP.

Dihadapan majelis hakim, Roy mengungkapkan, jika terdakwa saat itu sebagai karyawan pada perusahaan tersebut dibagian marketing dan penagihan PT. HMP. Pada tanggal 7 Juni 2017 lalu terdakwa telah melakukan penggelapan uang tagihan dari toko Harapan Jaya sebesar Rp. 1.159.355.350 (satu miliard seratus lima puluh sembilan juta tiga ratus lima puluh lima ribu tiga ratus lima puluh rupiah).

Padahal uang tagihan tersebut seharusnya diserahkan (disetorkan) oleh terdakwa kepada PT. HMP, akan tetapi justru uang tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi oleh terdakwa. "Dalam perkara ini, terdakwa tidak menyetorkan uang tagihan dari toko Harapan Jaya kepada PT. HMP yang nominalnya lebih dari satu miliard" ujar saksi korban Roy Limantoro dihadapan majelis hakim.

Roy menambahkan jika nominal kerugian PT. HMP tersebut diketahui setelah dirinya melakukan audit eksternal. "Total Kerugian tersebut diketahui  setelah kami melakukan audit eksternal" tambahnya.

Pada keterangan saksi Ellen Meinita Limantoro (Accounting PT. HMP) menyebut jika terdakwa pada Rabu 7 Juni 2017 hingga Rabu 4 Oktober 2017 melakukan perbuatan pemalsuan nota tanda terima. "Itu dilakukan terdakwa secara berlanjut. Serta diketahui bahwa nota tersebut palsu setelah melihat adanya perbedaan tanda tangan pada nota tersebut" ujar saksi Ellen saat memberikan keteranganya dihadapan majelis hakim.

Menanggapi keterangan saksi, ketua majelis hakim Dewi Iswani SH MH memberikan kesempatan bagi terdakwa untuk menanggapi keterangan saksi yang telah diberikan. Atas semua keterangan saksi, dibenarkan oleh terdakwa. Setelah terdakwa membenarkan keterangan saksi, terdakwa berdalih telah menawarkan ithikad baik kepada PT. HMP dengan cara diangsur.

Akan tetapi setelah menyampaikan penawaran tersebut ditolak oleh PT. HMP melalui karyawanya. "Pada saat itu saya beritikad  baik dengan menawarkan untuk mengembalikan uang sebesar nominal Rp. 200juta kepada PT. HMP, namun ditolak." ujar terdakwa.

Perlu diketahui, bahwa terdakwa Liem Eko Wahyudi Sakti, pada hari rabu tanggal 7 Juni 2017 hingga 4 Oktober 2017 bertempat di PT. Harvest Metalindo Perkasa (Perusahaan Bidang Distributor Alumunium) yang beralamat di Jln. Manukan Wetan, Pergudangan 60 Blok D 3-3 Surabaya memberikan penawaran penjualan kepada customer toko Harapan Jaya yang beralamat di Jln. Suko Legok Rt-15, Rw-5, Taman Sidoarjo.

Setelah toko Harapan Jaya memesan barang-barang berupa Aluminium beserta Accsesoris dari PT. HMP senilai Rp. 1.159.355.350 selanjutnya dibuatkan nota pemesanan dan surat jalan. Setelah terdakwa membawa uang hasil dari penagihan toko Harapan Jaya kemudian menyetorkan kepada kasir PT. HMP, Novita Anindya untuk mendapatkan tanda terima uang masuk dari penagihan yang dilakukan terdakwa.

Selanjutnya tanda terima itu diserahkan kepada  bagian Accounting yakni saksi Ellen Meinita Limantoro untuk dilakukan pengecekan nota tagihan yang belum dibayar,  untuk  dilakukan penagihan kembali. Namun kenyataanya, nota tanda terima dari toko Harapan Jaya yang diberikan oleh terdakwa pada bagian Accounting PT. HMP tersebut ternyata dipalsukan.

Atas perkara ini, PT. HMP telah dirugikan sebesar Rp. 1.159.355.350 Akibat perbuatan terdakwa, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 374 KUHP Jo. Pasal 64 Ayat (1) KUHP...(Mul).

Sebelumnya 2 Mantan Peselancar, di Vonis 5,6 Tahun Penjara.
Selanjutnya Dinas PU PR Kab. Blitar Bangun 12 Jalan dan Jembatan Yang Rusak.