Juru Potret Sudin Komunikasi Informatika dan Kehumasan Jakarta, Jadi Korban Pemukulan

Juru Potret Sudin Komunikasi Informatika dan Kehumasan Jakarta, Jadi Korban Pemukulan

Jakarta - Suara-Publik.com
HUT Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2011 ke-66 di Kantor Walikota Administrasi Jakarta Selatan, kiranya telah dinodai dengan insiden pemukulan terhadap seorang juru potret yang juga PNS dari institusi Sudin Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Jakarta Selatan bernama Yanto. Dimana perilaku tidak terpuji tersebut, disinyalir telah dilakukan oleh seorang pejabat Assisten Perekonomian Dan Administrasi Jaksel, Ahmad Sotar Harahap, SH, MS.i.
 
Menurut sumber, pemukulan yang keras sebanyak dua kali di bagian tengkuk itu mengakibatkan korban yang sedang memotret terhuyung-huyung dan nyaris jatuh dihadapan banyak pejabat dan karyawan Walikota Administrasi Jaksel. Sehingga buntut dari tragedi pemukulan tersebut membuat korban jadi melaporkannya ke Polres Jaksel, namun ironisnya laporan korban sebanyak dua kali ke Polres itu tampaknya kurang mendapat perhatian. Tentu saja, hal itu akhirnya menimbulkan dugaan bernada negatif. Dari beberapa orang yang memang mengetahui insiden tersebut, hampir senada mengomentari, kalau hal itu terkesan karena disebabkan pelaku yang dilaporkan adalah seorang pejabat di Lingkungan Walikota Jakarta Selatan.
 
" Maklumlah namanya juga pejabat penting, coba kalau orang biasa, pasti sudah ada tindak lanjutnya bung..!" tutur sumber yang enggan ditulis namanya kepada Wartawan, baru-baru ini saat ditemui di lantai 10 Kantor Walikota Jakarta Selatan.
 
Sementara itu, saat ditanyakan dugaan terjadinya pemukulan tersebut, korban mengatakan kondisi badannya masih terasa sakit serta mengalami sering pusing-pusing. Korban juga membeberkan secara gamblang kejadian yang dialaminya itu dan menurutnya Assperek Ahmad Sotar Harahap, SH, MS.i, disamping arogan juga pandai mengatur dan menjadikan beberapa pejabat di bawahnya tersebut sebagai Boneka. Bahkan menurutnya, pelaku juga sering cari muka terhadap kinerja Walikota Jaksel. Lantaran kearoganannya itulah, sehingga telah membuat dirinya yang tengah bertugas mengabadikan peristiwa perayaan HUT RI malah dipukuli.
 
“ Saat saya sedang asyik memotret, tiba-tiba tengkuk saya dipukul Pak Sotar sebanyak dua kali dan akibatnya saya terhuyung-huyung dan nyaris jatuh di depan banyak orang Pak,” paparnya.
 
Selanjutnya Yanto juga membeberkan, kalau pihaknya hingga saat ini tidak tahu alasannya mengapa dirinya dipukul  Yang jelas pemukulan tersebut tidak bisa didiamkan. Karena sudah dua kali melapor ke Polres dan ironisnya kurang diperhatikan, maka iapun berencana akan melaporkan peristiwa itu langsung ke Polda Metro Jaya dengan didampingi LSM dan Pengacaranya.
 
" Memang Saya akui, saat itu Pak Sotar mencoba merayu Saya agar masalah tidak diperbesar dan bahkan sempat meminta Sekko, Drs. H. Syamsudin Noor, untuk memberikan sejumlah uang kepada Saya. Sekko memang memberikan uang Rp 5 juta ke Saya, dengan disertai rayuan agar Saya tidak memperpanjang masalah. Dan memang Saya menerima uangnya dari Pak Syamsudin Rp 5 Juta, Cuma Saya bilang uang itu untuk membayar karya foto Saya sebanyak beberapa album, jadi itu bukan untuk uang damai, walaupun menurut mereka adalah uang damai. Kalau benar, mana buktinya Saya telah damai dengan Mereka..?! ”  ungkap Yanto Via SMS kepada wartawan.
 
Kebulatan tekad Yanto melaporkan kasusnya ke Polda Metro Jaya merupakan tindakan yang menurutnya positif, dan ia ingin agar Sotar jera tidak melakukan tindakan kekerasan semaunya seperti itu.
 
“ Bukan apa-apa Pak, dulu waktu jadi Camat PS. Minggu juga pernah mukul Satpol PP, Cuma tidak ada tindakan hukum,  kalau Saya tidak mau seperti itu, Kasus ini harus di proses secara hukum, biar buat pelajaran Dia,” pungkasnya pula.
 
Selanjutnya Yanto juga menyatakan, kalau pihaknya akan membuat laporan Ke Gubernur DKI Jakarta, juga Ke DPRD, agar kalangan Eksekutif dan Legislatif mengetahui, bahwa pada perayaan HUT RI di kantor Walikota Jakarta Selatan, ada pejabat yang diduga bermental penjajah karena suka main pukul terhadap bawahannya.
 
Sementara, berkaitan dengan dugaan adanya praktik suap yang dilakukan Setko Jaksel, Drs. H. Syamsudin Noor dengan memberikan uang sebesar Rp 5 juta untuk meredam kasus tersebut, wartawan telah berulang kali mencoba untuk mengkonfirmasi, namun pamdal selalu mengatakan kalau Sekko sedang tidak ada atau tidak bisa diganggu lagi rapat.
 
(Goesti/Adel/Ikbal)

Sebelumnya Dedy Chandra, Anggota DPRD Bondowoso, Sayangkan Pernyataan Agus Salam Kadiskoperindag.
Selanjutnya Jambret Kusuma Bangsa di Hadiahi Timah Panas