Kades Bandilan Akui, Terima Fee 1,5 Perhektar Dari Transaksi Tanah Negara.
Foto: Suwandi Kades Bandilan

Kades Bandilan Akui, Terima Fee 1,5 Perhektar Dari Transaksi Tanah Negara.

Laporan : M.Susyanto.

BONDOWOSO, suara-publik.com - Kepala desa Bandilan Kecamatan Prajekan, Suwandi, mengaku blak-blakan, setelah mendengar Komisi Pemberantasan Korupsi memanggil sejumah pejabat Pemkab Bondowoso yang terkait dengan dugaan penjualan tanah Negara. “Saya sudah pasrah dan siap dipanggil KPK. Saya akan mengakui semua yang terjadi di pada diri saya,”kata Suwandi kepada suara-publik.com. Sabtu, (19/5/2018).

Menurutnya, awal terjadinya transaksi tanah Negara itu, karena ada tawaran dari Camat Prajekan kepada dirinya selaku kepala desa untuk mendata tanah Negara yang ada di desa Bandilan.

Tawaran pak Camat itu disampaikan kepada Suwandi selaku Kades. “Saya menerima tawaran pak Camat, karena warga saya mendapat konpensasi alih garap tanah Negara kepada PT BSI, dan dirasa menguntungkan,”katanya. Selanjutnya, sambung kades Suwandi, bersama-sama dengan petugas dari PT BSI mendata semua tanah Negara yang ada di desa Bandilan, setelah dianggab memenuhi syarat, baru dilakukan transaksi.

Namun, transaksi itu dilaksanakan sesuai dengan ketentuan uang pengganti alih garap disepakati 15 juta perhektar. “Transaksi tanah Negara kepada PT BSI itu totalnya seluas 109 hektar, dari transaksi itu, saya mendapat fee 1,5 juta perhektar, dan Camat mendapat fee 1 juta perhektar. Itu saja yang saya tahu,”ungkap Kades.

Suwandi menambahkan, untuk uang pengganti alih garap dari PT BSI kepada warga, langsung ditransfer ke rekening warga sebesar 15 juta perhektar. Kalau nantinya terjadi masalah yang menyangkut permintaan, Kades Suwandi akan menyampaikan apa adanya kepada KPK.

“Saya sudah mendengar kalau KPK turun ke Bondowoso untuk mengusut transaksi tanah Negara, dan saya akan berterus terang apa adanya sesuai fakta yang terjadi dilapangan,”imbuhnya.

Sebelumnya Samsul Hadi: Saya Bukan Firaun Yang Selalu Mempertahankan Jabatan.
Selanjutnya Terduga Teroris Kedungturi, Ternyata 2 Tahun Terakhir Menjauhi Keluarganya.