Korban Banjir Desa Cangkring dan Walidono, Ancam Demo Pemkab Bondowoso.

Korban Banjir Desa Cangkring dan Walidono, Ancam Demo Pemkab Bondowoso.

Dilaporkan oleh : Mahfud Susyanto / Hery

BONDOWOSO, (Suara Publik) - Warga desa Cangkring dan Walidono yang menjadi korban jembatan putus akibat banjir, mengancam demo ke Pemkab Bondowoso. 

Pasalnya jauh sebelum banjir itu terjadi warga sudah melaporkan kepada dinas terkait agar dam Ampera tersebut segera diperbaiki. 

Hal itu ditegaskan oleh salah satu warga Cangkring, Akmari, mengemukakan, bahwa pada tahun 1966 yang lalu warga desa Cangkring membangun dam Ampera. Karena kondisi dam tersebut sudah tua itu sangat memprihatinkan dan perlu direhab, pihak warga berkirim surat kepada pemerintah untuk segera melakukan langkah-langkah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika menimpa masyarakat.

“Kami berkirim surat itu sekitar 4 bulan yang lalu, memberitahukan kepada pemerintah karena kondisi dam sudah bolong-bolong dan retak-retak. Kemudian dari pihak pemerintah turun ke lapangan melihat kondisi dam yang kami laporkan,”kata Akmari. 

Meski sudah dilakukan survey oleh pihak pemerintah dari dinas terkait, hingga dam jebol tidak ada tindak lanjutnya, sehingga akibat dari dam jebol dan jembatan putus ratusan warga Cangkring dan Walidono dirugikan karena kehilangan sawah akibat diterjang banjir.

“Air yang berasal dari dam Ampera itu untuk mengairi sawah seluas 250 hektar milik warga. Jika kemudian sawah itu tidak ada airnya, maka dipastikan akan berdampak kepada menurunya pendapatan masyarakat, dan ekonomi akan hancur,”ujarnya. 

Akmari mengungkapkan, pemicu jebolnya dam Ampera itu berasal dari penambangan pasir dialiran sungai tersebut, sehingga kondisi sungai menjadi dalam, karena pasirnya sudah digerus oleh penambang. Akibatnya dam bolong dan retak, dan ketika terjadi hujan lebat dam tidak bisa menahan debit air yang tinggi, akibatnya air meluap dan jebol.

“Nah, sebetulnya penambangan pasir itu yang menjadi pemicu dam jebol. Makanya, kami warga desa Cangkring dan Walidono akan melakukan demo ke Pemkab Bondowoso, untuk minta pertanggung jawaban atas kerugian yang kami alami, dan kami tidak mau menunggu lama, karena ini darurat,”tegasnya.

Menurutnya, warga sudah berkali-kali berkirim surat kepada pemerintah kabupaten agar menghentikan penambangan pasir itu. Namun, tidak ada tanggapan, bahkan terkesan melakukan pembiaran kepada para pelaku penambang pasir.

“Kalau sudah seperti ini, yang menjadi korban ada ribuan masyarakat desa Cangkring dan Walidono. Makanya, kami akan membawa seluruh masyarakat desa Cangkring dan Walidono untuk demo ke Pemkab Bondowoso,”imbuhnya.

Sementara itu, Camat Prajekan Abdurrahman, menyatakan, bahwa kemaren sudah di rapatkan dengan semua elemen masyarakat Cangkring dan Walidono, jika warga siap menunggu respon secepatnya dari dinas terkait. Persoalan unjuk rasa kedua desa tersebut sudah ditanggapi dan telah dijelaskan.

“Saya sebagai Camat bahwa tidak ada unjuk rasa semua, karena surat ke BNPB dan juga ke pak Bupati sudah di layangkan terkait yang urgency. Pada intinya kedua desa tersebut sudah bisa di redam dan akan melalui prosedur karena ini bencana,”ungkapnya (*)

Sebelumnya Seorang Spesialis Pencuri Gabah di Tangkap, 2 Lainnya Melarikan Diri.
Selanjutnya Walikota Pasuruan, Hadiri RAT Koperasi Dewi Shinta.