Nenek Atrani Kondisinya Memprihatinkan, Pemerintah Bondowoso Gagal Tekan Angka Kemiskinan.

Nenek Atrani Kondisinya Memprihatinkan, Pemerintah Bondowoso Gagal Tekan Angka Kemiskinan.

Dilaporkan oleh : Hery Masduki   

BONDOWOSO, (Suara Publik) - Sosok dua orang perempuan renta yang berenama Salma, (73) warga Dusun Krajan 1, RT 4/ RW 7, dan Atrani (70), janda renta warga Dusun Jumas, RT 6/ RW 13, Desa Gayam Kidul, Kecamatan  Botolinggo, Kabupaten Bondowoso hidup dalam kondisi serba kekurangan dan terlantar.

Keluarga miskin ini tinggal di sebuah rumah yang sangat tidak layak untuk dihuni. Namun untuk kebutuhan sehari-hari mereka mengandalkan bantuan tetangga. Meskipun keduanya hidup dalam serba kekurangan, namun mereka tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. 

Baik itu jaminan kesehatan masyarakat, untuk orang miskin (Jamkesmas), bantuan untuk orang miskin, dari pemerintah Desa maupun Kabupaten Bondowoso. "Kalau untuk makan terkadang masih ada yang membantu dari tetangga dan H.Nezar," kata nenek Atrani yang tinggal gubuk yang berdinding anyaman bambu bekas berukuran 3x2,5 meter ini. 

Nenek Atrani sudah tidak mampu lagi berjalan karena kondisi buta. Ia juga sudah lama tidak lagi diberi bantuan beras jatah bantuan pemerintah (Rastra), sehingga ia terpaksa menunggu bantuan dari tetangga. Bahkan anak cucu terkadang mengirim makan, meski mereka juga dalam kekurangan.

“Kebutuhan makan saya dapat dari bantuan anak dan tetangga disini. Tapi saya iri dengan warga yang menyandang gelar haji, keadaannya sudah makmur, serta berkecukupan tetap mendapat beras bantuan,“ keluh nenek Atrani.

Sementara kondisi kekurangan yang dialami Salma (63), masih lebih baik dari Atrani. Sebab, ia masih bisa bekerja dengan memelihara kambing milik orang lain. Namun, ia juga mengaku sudah setahun sudah tidak lagi menerima beras bantuan pemerintah. Sehingga untuk makan mengandalkan kiriman tetangga sekitar dan itupun tidak setiap hari.

“Saya udah lama tidak menerima bantuan beras murah dari pemerintah. Padahal saya bukan orang mampu, dan untuk makan tiap hari saya banyak dibantu tetangga setiap hari,”ujarnya. 

Ketua badan permusyawaratan desa (BPD) Desa Gayam Kidul, H.Nazar ketika dimintai tanggapannya terkait kondisi kemiskinan yang dialami kedua nenek miskin dan renta membenarkan, bahwa satu rumah ditempati dua orang yang sudah lanjut usia tersebut  kondisinya sangat memprihatinkan.

“Kita kalau melihat kondisi rumah yang ditempati dua orang itu memang sangat miris sekali, apalagi rumah yang yang mereka tempati tidak layak untuk dihuni, karena sempit,”kata Nazar. Untuk bertahan hidup dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, setiap bulan keluarga Nazar membantu kebutuhannya meski ala kadarnya. Bahkan separuh rumahnya yang hampir ambruk, pernah diperbaiki oleh pihak NU. Sebetulnya, masyakat miskin itu adalah tanggung jawab pemerintah, baik pemerintahan desa dan kabupaten,”katanya. 

Kemiskinan warga Desa Gayam Kidul merupakan satu fakta ketidak berhasilnya pemerintah dalam menekan angka kemiskinan. Bahkan pemerintah lebih mengedepankan pembangunan yang bersifat fisik tanpa perduli dengan kondisi warga miskin yang membutuhkan bantuan.

“Kalau melihat kondisi warga yang sepertri ini berarti pemerintah gagal dalam menekan angka kemiskinan warganya. Saat ini warga miskin sangat membutuhkan kahadiran pemerintah,”imbuhnya. (*)

Sebelumnya Seminar Posisi Kejaksaan Dalam Amandemen ke 5 UUD 1945.
Selanjutnya Polrestabes Surabaya Grebek Rumah Penyimpanan Jutaan Pil Koplo.