PT Sentral Benoa Utama, Tak Berprikemanusiaan, ABK di Beri Minum Air Asin Makan Nasi Bau Solar

PT Sentral Benoa Utama, Tak Berprikemanusiaan, ABK di Beri Minum Air Asin Makan Nasi Bau Solar

Surabaya-Suara Publik. Hati-hati bila bekerja di kapal penangkap ikan, bila belum jelas kontrak kerja dan honor yang didapat. Bila sudah terlanjur bekerja dan ada ketidak cocokan antara pekerja dan perusahaan. Biasa nya pekerja kapal atau yang biasa disebut anak buah kapal (ABK) yang menjadi korban.

Permainan calo dalam dunia pelayaran hingga kini belum tersentuh hukum, sudah puluhan tahun calo ABK berkeliaran tanpa ada pengawasan dari Syahbandar. Mulai dari Kapal Pesiar, Kapal Pengeboran Minyak sampai ke Kapal Penangkap Ikan selalu ada calo yang bermain.

Seperti hal nya 3 ABK yang tinggal di kawasan Tambak Segaran ini, Wahyu Putra Laksono 13 April 1995.
Agus Haribono 10 Agustus 1967. Pondra Ferbiansyah 16 Februari 1990. Ketiganya warga Surabaya merasa jadi korban kontrak kerja yang tidak jelas, karena yang bersangkutan masuk kerja lewat seorang calo.

Menurut pengakuan 3 ABK ini, mereka bekerja di PT Sentral Benoa Utama berkedudukan di Bali. Mereka bekerja jadi ABK di kapal Sanjaya 97. Yohones dan Maryono adalah calo di Surabaya yang mengajak 3 ABK menuju Bali untuk ketemu Dion Calo yang ada di Bali.

Setelah ketemu Dion ketiganya di ajak ke PT SBU 18 di jln. Teluk Benoa Denpasar Bali dan bertemu dengan menejem PT tersebut. Oleh menejemen ketiganya masing-masing diberi pinjaman sebesar Dua Juta Lima Ratus Ribu (Rp. 2.500.000). Namun yang diterima mereka masing-masing cuma Satu Juta, sedang yang Satu Juta Lima Ratus diberikan kepada calonya.

Pemberian kepada calo itu dilakukan didepan apara ABK tersebut, setelah proses kontrak kerja. Mereka langsung dipekerjakan di kapal Sanjaya 97. Kapal tersebut langsung berlayar menuju laut Merauke untuk menangkap ikan dan cumi-cumi.

Betapa kaget dan sengsaranya ke 3 ABK saat bekerja di laut, mereka minum air laut yang rasanya sangat asin. Demikian juga dengan nasinya tidak sehat karena rasanya seperti solar, air minumnya juga rasa solar. Saat minta air tawar mereka tidak diberikan, alhasil para ABK terserang penyakit.

Merasa tidak kuat dengan kondisi tersebut, akhirnya ketiganya minta pulang. Namun oleh perusahaan mereka dipindah ke kapal lain Sanjaya 68. Kemudian mereka dipindah lagi ke kapal Sanjaya 01, di kapal ini kesejahtraannya semakin parah dari sebelumnya. Mereka juga bertemu dengan korban lain yang lebih parah dengan kapal sebelumnya.

Di kapal Sanjaya 01 sering terjadi penganiayaan terhadap ABK oleh centeng-centeng perusahaan yang ada di kapal tersebut. Merasa lebih sengsara mereka pun minta pulang dan dikirim ke kapal sanjaya 88 menuju Bali. Sesampai di Pelabuhan Benoa, mereka dijemput oleh petugas dari perusahaan.

Setelah kantor PT Sentral Benoa Utama 18, bukanya mendapat gaji selama 3 bulan mereka bekerja. Tapi malah diminta mengembalikan hutang dan denda sebesar 3,5 juta rupiah. Karena tidak memiliki uang untuk membayar, mereka disekap selama 5 hari. Akhir nya Pondra Ferbiansyah dan Agus Haribono mendapat kiriman uang dari keluarganya untuk membayar hutang dan denda. Keduanya pun bisa pulang ke Surabaya, sementara Wahyu Putra Laksono akan dikirim ke kapal untuk bekerja lagi.

Merasa tertekan dan tidak kuat dengan perlakuan perusahaan, Wahyu berontak untuk pulang. Oleh centeng perusahaan Wahyu pun di pukul. “ketika centeng lengah, saya melarikan diri melewati hutan bakau. Sempat terjadi kejar-kejaran di hutan bakau tersebut. Akhirnya saya lolos dan meminta pertolongan pada warga setempat” papar wahyu dengan mimic sedih.

Masih Wahyu, oleh warga saya diantar sampai tempat yang dirasa aman. Terus saya naik taksi ke terminal Tabanan. Barang-barang saya dan identitas KTP masih disita perusahaan mas, tuntas Wayu pada Suara Publik.

Nano Ketua Garad sebagai pendamping ketiga korban sangat geram dengan ulah perusahaan yang keji tersebut. Pekerjaan dilaut itu membutuhkan stamina dan energy yang cukup, kalau diberi minum air asin dan nasi rasa solar. Itu tidak berprikemanusian, Menteri Kelautan dan Perikanan harus turun tangan. Ini seperti kejadian di Papua yang saat itu ditindak oleh bu Menteri Susi, kecam Nano

Sebelumnya Keji, Gadis Berumur 6 Tahun Disetubuhi, Odik Terancam Hukuman 15 Tahun
Selanjutnya Adakan Buka Puasa Bersama dan Santuni Anak Yatim