Usaha RPU Milik JT Disinyalir Bodong, Buang Limbah di Kali.

Usaha RPU Milik JT Disinyalir Bodong, Buang Limbah di Kali.

Barangsiapa yang mendirikan usaha wajib hukumnya mematuhi peraturan yang ada. Apalagi usaha tersebut menimbulkan dampak negatif yang luas disekitarnya. Hal ini yang semestinya dipikirkan oleh para pengusaha tersebut.

Tak hanya para pengusaha, pengawasan yang dilakukan pemerintah daerah wajib diterapkan. Seperti RPU (Rumah Pemotongan Unggas) Di wilayah Surabaya Barat ini patut di periksa.

Surabaya, suara-publik.com -  Dalam Keppres tersebut dinyatakan bahwa perusahaan peternakan ayam yang melakukan kemitraan wajib memiliki sarana penanganan dan pemotongan ayam. Ayam pedaging dan petelur yang dihasilkan harus memenuhi syarat kehalalan, kebersihan, dan kesehatan.

Pengembangan usaha industri pemotongan ayam diarahkan untuk meningkatkan daya saing produk perunggasan. Kenyataannya, banyak peternak yang menjual ayam broiler dalam bentuk hidup. Padahal salah satu penyebab penyebaran virus flu burung atau virus AI adalah pengiriman ayam hidup antar daerah, antar kota dimana virus flu burung sedang mewabah.

Hingga kini pemotongan ayam umumnya dilakukan di rumah potong ayam tradisional yang tidak memenuhi standar SNI dengan teknik, peralatan yang sederhana dan sanitasi kurang terjamin, sehingga menghasilkan karkas bermutu rendah dan kebersihannya belum terjamin.

Saat ini, Rumah Pemotongan Unggas (RPU) yang resmi dari pemerintah hanya ada 2, yakni di Pasar Wonokromo dan Pasar Tambakrejo. Namun, kenyataan nya yang terjadi di Surabaya sebaliknya. Praktek RPU "liar" yang berani beroperasi ini tak mematuhi rambu-rambu aturan resmi pemerintah.

Seperti halnya, yang terjadi di RPU di wilayah Surabaya Barat, Tengger, Kandangan. RPU tersebut disinyilir tak mengantongi ijin resmi alias bodong.

Dari pengamatan media ini menerangkan, bahwa praktek pemotongan ayam ini sudah berjalan cukup lama. Dalam melakukan aktivitasnya, pekerja potong ayam ini mengerjakan mulai subuh. Adapun lokasi tempat usaha potong ayam ini, berada di Kelurahan Kandangan, Kecamatan Benowo, tepatnya di Jalan RayaTengger.

Tempat tersebut nampak sekali terkesan jauh dari bersih. Air dalam mencuci ayam di ambilkan dari sumur bor. Dalam sehari pengusaha ayam ini bisa memotong ayam sekira ratusan ayam.

Dalam jarak yang cukup jauh pewarta ini sudah mencium aroma tak sedap. Setelah lebih dekat lagi, bau nya semakin menyengat. Dalam hitungan beberapa menit, rasanya mau muntah. Bahkan perut terasa mual dan kepala terasa pening.

Tak hanya itu, saat ayam datang ke lokasi bulu ayam bertebaran. Menurut informasi yang berhasil di gali Suara Publik mengatakan, tempat usaha potong ayam ini sudah berjalan lama. "Sudah lama itu mas, " ujar salah satu sumber yang nama nya tidak mau di publikasikan.

Salah satu warga yang lainnya, sebut saja Ay mengungkapkan, usaha ini dikelola oleh owner Jt ini sudah lama berjalan. Namun, sampai saat ini masih aman. Nama pemiliknya Pak Jt mas, " tutur Ay sambil mengingatnya.

Dampak adanya tempat potong ayam menurut Ay sangat meresahkan warga dan mencemari kali. Sehingga setiap hari harus menghirup udara yang tercemar. "Sebenarnya dari dulu saya manahan bau gak enak mas, ayam ini dipotong lalu dikulak oleh pedagang kemudian dijual dipasar, tapi saya takut melaporkan, " terang nya sambil mengernyitkan dahi.

"Terus terang saya gak kuat tiap hari menghirup udara gak sedap ini mas, apalagi cuacanya sekarang panas sekali, saya sampai megap-megap mas," tambah sumber.

Sekedar diketahui, usaha pemotongan unggas (ayam) sudah tercantum dalam beberapa peraturan pemerintah yang ada. Artinya, para pengusaha RPU wajib mengantongi ijin. Apabila melanggar, pemilik akan dikenai sanksi ataupun hukuman penjara.

Saat dikonfirmasi owner RPU, Jt melalui whatsapp 082xxxxxx410 dirinya enggan menemui kuli tinta ini. "Maaf gak bisa mas ini habis perawatan operasi dan operasi lagi, " katanya.

Ketika di tanya berapa ekor pemotongan ayam setiap harinya, dirinya hanya menjawab ala kadarnya. "Wong cuman 100 ekoran mas, " akunya.

"Usaha ini hanya untuk cukup makan, usaha ini bukan pemotongan besar yang beromzet besar, maaf nggih mas saya sudah tua pingin nya hidup tenang di usia senja ini, " tambahnya.

Saat disinggung terkait perijinan usaha yang digelutinya ini, dirinya enggan membalas, bahkan nomor whatsapp tiba-tiba di backlist. (Dre)

Sebelumnya Disbudpar Surabaya Terkesan Tebang Pilih, Terkait Pencabutan Ijin Hiburan Malam.
Selanjutnya Komunitas BOC Bunglon Benjeng, Gowes ke Setigi dan Pantai Delegan