Bobol 30000 Data Warga AS Guna Bantuan Covid, Saksi Tim Cyber Polda Jatim: Terdakwa Shofiansyah Untung 480 Juta dan Michael 80 Juta
Foto atas: Terdakwa Shofiansyah dan Michael Zeboth, menjalani sidang di ruang Candra PN.Surabaya secara online.Kamis (24/06/2021). Foto bawah: Saksi Tim Ciber Polda Jatim, dihadirkan dipersidangan.

Bobol 30000 Data Warga AS Guna Bantuan Covid, Saksi Tim Cyber Polda Jatim: Terdakwa Shofiansyah Untung 480 Juta dan Michael 80 Juta

Surabaya, Suara Publik - Dua pemuda asal Indonesia telah mengguncang dunia, sampai membuat Amerika Serikat kalang kabut. Mereka ialah Michael Zeboth Melki Sedek Boas Purnomo dan Shofiansyah Fahrur Rozi.

Keduanya ditangkap pada Maret 2021, Karena telah membobol 30 ribu data warga di negara Amerika, digunakan untuk mendapatkan bantuan pandemi Covid-19 dari pemerintah Amerika Serikat.

Terdakwa Shofiansyah dan Michael Zeboth Melki Sedek Boas Purnomo, menjalani sidang diruang Candra PN.Surabaya, dipimpin Hakim Martin Ginting, Kamis (24/06/2021).

Aksi mereka dilakukan hanya dengan membuat scampage atau website palsu. Scampage ini disebar di 14 negara bagian di Amarika. Tindakan itu, mereka lakukan bersama Sourav warga India yang masih buron.

Jaksa Novan dari Kejati Jatim menghadirkan dua saksi polisi Polda Jatim bagian Ciber. Saksi Polisi tersebut membeberkan Sekitar bulan Pebruari 2021 tim Ciber Polda Jatim lakukan profeling di Grup FB dengan akun Kolam tuyul untuk mendapatkan SMS blaz mendapatkan data data warga asing dengan cara jebakan Swamming. Dan mengantongi data aku milik Shofiansyah.

100%

Saat diklarifikasi dengan terdakwa Shofiansyah, ditemukan adanya kegiatan Swamming SMS Blaz, untuk mendapatkan data-data. Hingga diketahui ada orang lain yang membantu kegiatan racikan swamming yaitu Michael Zeboth. Dilakukan klarifikasi terhadap Michael di stasiun pasar Turi saat mau pulang ke Cepu Jawa tengah.

Selanjutnya tim Ciber yang telah menelusuri, mendapat perintah untuk menangkap kedua terdakwa. Shofiansyah ditangkap di tanggul Jember tanggal 9 Maret, sedangkan Michael ditangkap di Cepu. Dengan barang bukti masing masing 1 Laptop, dan 1 buah HP.

Jaksa Novan menanyakan terdakwa Shofiansyah lakukan swamming negara mana saja, " Terdakwa Shofiansyah lakukan swamming di 14 negara bagian Amerika serikat menggunakan wubesite palsu, yang buat wubesite adalah Michael persis sepeeti aslinya." Ulas saksi Diky.

Perbuatan terdakwa mengecoh warga Amerika, yang akan meng klik dan mengisi form permohonan bantuan Covid 19 di negaranya. Data yang diretas oleh terdakwa sebanyak 30 ribu, setiap data dibayar 1 dollar, sehingga terdakwa Shofiansyah mendapatkan uang sebanyak 480 juta, dan terdakwa Michael mendapat sekitar 80 juta. Yang dibayarkan oleh Sourav warga India (DPO) oleh FBI, dengan bentuk bit coin.

Sidang akan dilanjutkan Kamis pekan depan masih agenda saksi dari JPU Novan.

Diketahui, Kerjasama kedua terdakwa ini bersama Sourav ini berawal dari diskusi pribadi. Mereka berkenalan melalui grup facebook bernama Kolam Tuyul. Di grup itu anggotanya para hacker, spammer dan carder.

Sourav (DPO) mengaku bisa mengelolah data pribadi milik warga negara di negara bagian Amerika. Karena itu, terdakwa membuat 14 website palsu. Setelah membuat scampage itu, terdakwa Michael langsung menyerahkan kepada Sourav.

Selanjutnya, para pelaku mengirimkan SMS blast kepada warga di negara tersebut. Targetnya mengira kalau website yang mereka buat adalah website resmi dari pemerintah.

Setelah warga yang tertipu itu mengisi identitas mereka, secara otomatis, data tersebut akan masuk ke email terdakwa Shofiansyah yang telah terdaftar tadi.

Di negara tersebut setiap orang akan mendapatkan bantuan USD 2.000 per orang. Sehingga, karena perbuatan terdakwa ini, pemerintah Amerika Serikat mengalami kerugian sebesar USD 60 ribu, telah dilakukan satu tahun.

Para terdakwa diancam pidana pasal 35 junto pasal 51 ayat 1 undang-undang (UU) RI nomor 19/2016. Tentang perubahan UU nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) junto pasal 55 ayat 1 KUHP.

Sebelumnya Covid-19 Melanda Sampang, 1 Tenaga Medis Meninggal Dunia
Selanjutnya Nyabu Dulu Sebelum Njambret, Lutfi dan Fiski Diadili