Drs. H. Suigsan, MM: KIT Bisa Meningkatkan Perekonomian & Kesejahteraan Masyarakat Lumajang
(Kiri) Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Lumajang, Drs. H. Suigsan, MM & Direktur Quadrant Consulting, Ronny H. Mustamu

Drs. H. Suigsan, MM: KIT Bisa Meningkatkan Perekonomian & Kesejahteraan Masyarakat Lumajang

LUMAJANG (Suara Publik)-Belum adanya Kawasan Industri Terpadu (KIT) di Kabupaten Lumajang mendapat perhatian dari kalangan wakil rakyat. Ketua Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar)- Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lumajang, Drs. H. Suigsan, MM mengatakan, pihaknya segera mengusulkan KIT di Kabupaten Lumajang untuk peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, Selasa (23/2/2021).

“Potensi Kabupaten Lumajang sangat besar, mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, hingga hutan rakyat. Sekarang ini industri di Kabupaten Lumajang belum terpadu dan terintegrasi,” ujar Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Lumajang, Drs. H. Suigsan, MM.

Menurut Suigsan, syarat KIT diantaranya, berada di jalan nasional atau provinsi, jauh dari pemukiman, situasi keamanan dan ketertiban kondusif, serta lahan yang luas dan representatif. Suigsan mengatakan, di KIT nantinya bisa dibangun pabrik dan pergudangan. "Salah satu manfaat KIT menurut saya, selain peningkatan perekonomian juga mencegah keruwetan lalu lintas, meminimalkan konflik dengan warga sekitar dan meminimalkan polusi," ucap Drs. H. Suigsan, MM yang juga menjabat anggota Badan Anggaran DPRD Kabupaten Lumajang. 

“Kita butuh dukungan dari birokrat sebagai regulator dan tentunya, publik atau masyarakat. Apabila KIT disetujui bisa diatur dengan Peraturan Daerah (Perda) dan semua perizinan sekaligus pembangunan pabrik atau pergudangan diarahkan ke KIT tersebut,” pungkas pria kelahiran Lumajang ini kepada www.suara-publik.com.

Ahli ekonomi yang menjabat Direktur Quadrant Consulting, Ronny H. Mustamu mengapresiasi usulan Ketua Fraksi Partai Golkar-Hanura, Suigsan tersebut. Ronny, begitu sapaan akrabnya, Rabu (24/2/2021), berpendapat kawasan pesisir selatan Provinsi Jawa Timur (Jatim) memang perlu dioptimalkan potensinya. Laki-laki bergelar Doctor of Philosophy (PhD) lulusan Assumption University Bangkok ini mengatakan selama ini sisi selatan Jatim cenderung dijadikan lumbung pertanian, namun kurang mengalami sentuhan tekhnologi dan sistem yang modern.

“Dampaknya nilai tambah yang dinikmati para pelaku usaha termasuk petani menjadi tidak terlalu besar,” tutur Ronny H. Mustamu.

Staf ahli Rektor Universitas Kristen Petra Surabaya tersebut mengaku beberapa kali berdiskusi dengan tokoh-tokoh di kawasan selatan Provinsi Jatim yang berkesimpulan perlu dikembangkan beberapa titik kawasan industri terpadu, terutama berbasis pertanian dan perikanan. Ia optimistis jika bisa dibangun sebuah pelabuhan samudera lengkap dengan fasilitas pengelolaan kontainer dan kawasan pergudangan industri modern dan berkapasitas besar, maka transportasi kargo raksasa dari dan ke wilayah Australia, Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, Eropa, serta Amerika Latin bisa lebih murah dan cepat.

“Pelayaran lanjutannya bisa dilakukan melalui laut dalam di selat Lombok dan Selat Makassar untuk menuju ke Utara, yaitu kawasan Asia Timur dan Amerika Utara,” tandas Ronny H. Mustamu.

Selanjutnya dengan adanya pelabuhan samudera, menurutnya bisa juga dibuka satu dermaga khusus untuk pelabuhan kapal penangkap ikan. Ronny menyampaikan potensi perikanan laut lepas di barat Pulau Sumatera, Selatan Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sangat tinggi.

“Selama ini banyak kapal penangkap ikan asing yang bekerja disana. Ironisnya kapal-kapal nelayan Indonesia berukuran kecil, sehingga tidak bisa bekerja di laut lepas Samudera Indonesia,” ungkap Ronny H. Mustamu.

Ronny menjelaskan, dengan dibangunnya dermaga samudera untuk kapal penangkap ikan berukuran besar, diharapkan potensi perikanan di Samudera Hindia dapat dinikmati oleh nelayan Indonesia. Dia menerangkan tentunya pelabuhan samudera untuk kapal penangkap ikan berukuran besar perlu diintegrasikan dengan fasilitas cold storage (gudang pendingin) sekaligus pabrik pengolahan dan pengalengan ikan, terutama yang berorientasi ekspor.

Mencermati topografi kawasan Selatan Provinsi Jawa Timur, Ronny berpesan, kawasan pelabuhan samudera yang terintegrasi dengan kawasan industri terpadu tersebut, perlu dihubungkan dengan jalan tol yang tersambung dengan jalan tol Trans Jawa di Probolinggo.

Ronny H. Mustamu memberi catatan dan harus berhati-hati yakni jangan sampai kawasan industri terpadu itu justru mengkonversi lahan pertanian produktif, sehingga wajib ditempatkan pada lokasi yang sedikit dampaknya pada turunnya produktivitas pertanian. Kemudian Ronny mengingatkan perlu kajian teknis terkait resiko gempa bumi dan tsunami, sebab pesisir selatan Jatim pernah mengalami gempa dan tsunami yang cukup besar kerusakannya di tahun 1992.

“Kalau pemerintah tidak punya dana, jangan ragu lakukan itu dengan dukungan swasta. Sebagaimana bandara Kediri dan berbagai pelabuhan peti kemas yang ada di Indonesia,” ujar Ronny H. Mustamu.

Manfaat pengembangan kawasan industri terpadu di pesisir selatan menurutnya juga bermanfaat mengurangi beban di pesisir Utara. Kalau dipercaya, dirinya bisa mempertemukan dengan investor asing yang bukan China dan Amerika, sehingga resiko konflik untuk ‘digoreng’ (dimainkan) bisa lebih sedikit. Pembangunan kawasan industri terpadu seperti yang dia paparkan tersebut tidak mungkin bisa dikelola hanya oleh satu kelompok usaha yang ada.

“Pasti perlu konsorsium internasional. Syaratnya hanya satu, tidak diganggu polisi dan birokrat terkait perizinan,” pungkas Ronny H. Mustamu. (dwi)

Sebelumnya Gelar UKW Mandiri Angkatan III, Solopos Institute Uji 36 Wartawan Dari 19 Media Massa
Selanjutnya Berantas Mafia Tanah di Jatim, Polda Jatim Sediakan Hotline 0813-3623-1994