Jaksa Hadirkan 3 Saksi, Terkait Kasus Kayu Merbabu Tidak Sesuai Volume Kubikasi
Foto Atas: Terdakwa Wempi Darmapan,saat persidangan di ruang Candra PN.Surabaya, secara online.Senin (26/07/2021).

Foto bawah: Tiga saksi yang dihadirkan JPU, guna memberikan keterangan dipersidangan.

Jaksa Hadirkan 3 Saksi, Terkait Kasus Kayu Merbabu Tidak Sesuai Volume Kubikasi

Surabaya, Suara Publik - Sidang perkara pengiriman kayu jenis Merbau yang tidak sesuai dengan jumlah volume kubikasi nya, dengan terdakwa Wempi Darmapan, diruang Candra PN Surabaya, secara online, Senin (26/07/2021).

Hakim ketua Tumpal Sagala pada sidang sebelumnya telah menolak eksepsi terdakwa Wempi, selanjutnya masuk pada pokok perkaranya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ubaydillah, SH,menghadirkan tiga saksi yang sebelumnya telah memberikan keterangan didepan penyidik.

100%

Saksi tersebut yakni, Miftahul Niam dan saksi Khoirul Anam, keduanya selaku tim Operasi Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) pembalakan liar, dan saksi Muklis selaku manager PT Anugrah Jati Utama.

Kedua saksi secara bersamaan memberikan keterangan, kalau mendapatkan perintah dari atasannya tanggal 6 Pebruari 2021, mengamankan barang bukti pengiriman kayu jenis marbau di dalam kapal darlin isabet yang dokumennya tidak sesuai dengan volume kubikasi.

Dijelaskan pula, kalau muatan kapal tersebut terdiri dari muatan kayu yang belakangan diketahui milik terdakwa, dan ada juga muatan sembako. yang pada saat itu tidak dilakukan pengangkutan, karena kapal darlin isabet dalam pantauan dan pengawasan petugas.

Setelah berkoordinasi dengan penyidik saat itu, baru kegiatan bongkar muat dapat dikerjakan.Saat itu selain kayu ke is Merbau juga ikut diamankan oleh petugas berupa 2 dokumen.

" Berapa jumlah kayu atau kubikasi kayu Merbau yang diamankan saat itu," tanya Jaksa Ubay.

" Kami tugasnya hanya mengamankan barang bukti pak, perihal volume dan jumlahnya ada sendiri tim penguji untuk mengetahui jumlah kayu yang sebenarnya," jawab saksi Muftahul Niam.

'Saat diamankan, selanjutnya barang bukti kayu Merbau tersebut dibawa ke 

PT Anugerah Jaya Utama (AJU) jalan Gempol Pasuruan.Diamankan disitu." tambah saksi.

" Berapa kubikasi yang sesuai dokumen dan yang tidak sesuai dokumen," tanya hakim.

" Dipisahkan dengan volume 54 M3 dan 10 M3, yang memisahkan dari tim penguji,"ujar saksi.

Giliran saksi Muklis manager PT.Anugrah Jati Utama dalam jual beli kayu gergajian. Perusahaan itu berada di Pasuruan.

Saksi menerangkan kalau sudah lima kali berhubungan dengan terdskwa wempi dalam jual beli kayu Merbau.

Dalam perjanjian kerjasama tersebut, terdakwa melakukan pengiriman kayu sebanyak 500 M3 selama tenggang waktu 1 tahun sampai 2 tahun kepada saksi Muklis.

Terakhir memesan kayu ditahun 2020, yang saat ini kayu tersebut ditahan oleh penyidik.Muklis menjelaskan pembayaran kayu akan dibayar jika sudah sampai di gudang, dan dilakukan pengecekan fisik kayu secara menyeluruh.

" Kalau tidak sesuai dengan dokumen pengiriman, apa tetap akan dibayar kayu yang dikirim," tanya jaksa.

" Tidak kami bayar pak, yang kita bayar yang sesuai dengan dokumen volume kubikasi pengiriman, kami tidak mau ambil resiko," jelas saksi.

" Penyidik titip kayu digudang saudara, dalam volumenya 74 M3, kalau sesuai dokumen hanya 64 M3," tanya jaksa.

" Saya gak mau menerima kalau yang dititipkan sebanyak 74m3 pak," ucap saksi.

" Ya, tapi volume yang dititipkan 74m3 itu ditanda tangani direktur saudara loh," kejar jaksa lagi.

" Dan dasarnya saudara gak setuju itu apa, kalau pengukuran belum tentu bisa sama," tanya hakim.

" Terus saudara bilang tadi kasih pinjaman dulu untuk terdakwa,maksudnya gimana itu," tanya hakim ketua.

" Ya yang mulia, kalau pak Wempi membutuhkan untuk biaya operasional dilapangan kami pinjamkan uang dulu, nanti tinggal dipotong pembayarannya," jawab saksi.

"Baiklah keterangan tiga saksi sudah didengarkan, sidang akan kita lanjutkan hari Kamis 29 Juli 2021, ya, dengan agenda masih mendengarkan saksi lainnya," tutup hakim ketua dengan ketokan palunya.

Diketahui,Terdakwa merupakan Pengawai Negeri Sipil (PNS) dan Ketua Koperasi Serba Usaha (KSU) Cendrawasih Lestari, di Kepulauan Aru, Provinsi Maluku.dengan tugas dan kewenangan mengendalikan jalannya roda koperasi.

KSU Cendrawasih Lestari mempunyai kerjasama dengan PT Anugrah Jati Utama dalam jual beli kayu gergajian. Perusahaan itu berada di Pasuruan.

Sebelum dilakukan pengiriman kayu ke perusahaan tersebut, tenaga tehknis (Ganis) menerbitkan dokumen Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan Kayu Olahan (SKSHH-KO).

Namun saat kejadian itu, yaitu di 2020, Ganis tadi tidak melihat langsung atau menghitung jumlah kayu. Tapi, Ganis itu percaya kalau data yang diberikan terdakwa melalui telepon itu benar. Sebab, terdakwa merupakan atasan Ganis.

Kayu yang diangkut berupa, Kayu Gergajian 10.0156 meter kubik. penerbitan 28 Januari sampai 21 Februari dengan alat angkut berupa Kapal Darlin Isabet. Juga ada daftar kayu olahan (DKO) tanggal 27 Januari sebanyak sembilan lembar.

Satu lembar DKO yang diterbitkan pada 27 Januari 2020 yang tidak dilengkapi dengan SKSHH-KO. Kondisi itu rupanya sudah diketahui oleh tim Operasi Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) pembalakan liar.

Sehingga, mereka melakukan operasi di Pelabuhan Tanjung Perak.

Kapal Darlin Isabet lalu menjadi sasaran mereka. Sebab, menurut informasi yang mereka dapatkan, kapal itu memuat kayu yang tidak sesuai dengan dokumennya. 

Saat kapal bersandar di pelabuhan tersebut, kapal yang mengangkut kayu tadi tidak langsung membongkar muatan mereka. Karena, dari ekspedisi sudah mengetahui kasus tersebut.

Sehingga mereka tidak mau mengambil resiko. Namun, setelah ada kesepakatan antara balai pengamanan dan penegakan hukum lingkungan hidup dan kehutanan Wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara (BPPHLHK Jabalnusra), akhirnya kayu tersebut diangkut ke PT Anugrah Jati Utama.

Setelah itu, Tim SPORC tadi langsung mengamankan kayu tersebut. Dalam dokumen SKSHH-KO, hanya ada DKO-nya saja. Yaitu Kayu gergajian Merbau sebanyak 1.231 keping dengan volume 3.1697 Meter kubik. 

Sehingga, terdakwa dinilai telah melakukan penyalahgunaan dokumen angkutan hasil hutan Kayu yang diiterbitkan oleh pejabat yang berwenang. 

Terdakwa didakwa dengan Pasal 88 ayat (1) huruf c Junto Pasal 15 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.(sam)

Sebelumnya Tilap Uang Perusahaan Rp. 588 Juta, Nunuk Widianingrum Diadili
Selanjutnya Bintang Mahendra Dituntut 18 Bulan Penjara, Akibat Rugikan Korban nya Rp.18 Miliar