Kadisperta Jombang: Kalau Dilelang Siapa Yang Makan

Kadisperta Jombang: Kalau Dilelang Siapa Yang Makan

JOMBANG, suara-publik.com  -  Kepala Dinas Pertanian Jombang, Dr Priadi, sepertinya sengaja bersikap tidak ngeh saat ditanya soal paket pengadaan langsung belanja penambah daya tahan tubuh di Instansinya yang terduga dipecah-pecah, dan karenanya berpotensi menabrak ketentuan Perpres tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah. Entah kenapa sikap seperti itu dipilihnya. Padahal Suarapublik.com merasa bahwa pertanyaan yang dikirim via sambungan whatsapp sudah begitu jelas. Tapi yang terjadi, jawaban yang dikirim malah lari kemana-mana dan keluar dari topik. 

Sebagaimana diketahui, pada kalender anggaran 2021, Disparta (Dinas Pertanian) Jombang telah melaunching 11 paket Pengadaan Langsung untuk kegiatan yang memiliki sifat, sumber anggaran, serta tahun pelaksanaan yang sama. Adalah paket belanja penambah daya tahan tubuh pegawai. Berdasarkan data Sirup LKPP, 11 paket tersebut memiliki kode RUP masing-masing. Atau dengan kata lain, ada 11 paket penambah daya tahan tubuh di Disparta Jombang yang masing-masing bernilai pagu Rp 49.940.000, dan ditransaksikan setiap bulan. Sedang pemiliham penyedia dilakukan serentak pada Januari 2021. 

Sebelas paket PL tersebut masing-masing memiliki: (1) kode RUP 28801376, (2) kode RUP 28801495, (3) kode RUP 28801567, (4) kode RUP 28801634, (5) kode RUP 28801698, (6) kode RUP 28801842, (7) kode RUL 28801900, (8) kode RUP 28802029, (9) kode RUP 28802060, (10) kode RUP 28802105, serta (11) kode RUP 28802169. Dari 11 paket pengadaan langsung ini, jadwal pemelihan penyedia dilakukan serentak pada Januari 2021. Sedang pelaksanaan kontrak dan pemanfaatan jasa dilakukan setiap bulan terhitung mulai Pebruari hingga Desember 2021. 

Perpres 16/2018 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah sebagaimana telah diperbarui dengan Perpres 12/2021, pasal 20 ayat (2) menegaskan bahwa dalam melakukan pemaketan pengadaan barang dan jasa dilarang: huruf (b) menyatukan paket pengadaan barang dan jasa yang menurut sifat dan jenis pekerjaannya harus dipisahkan. Sedang huruf (d) berbunyi: memecah pengadaan barang dan jasa menjadi beberapa paket dengan maksud menghindari tender/seleksi. Nah, apakah 11 paket pengadaan langsung penambah daya tahan tubuh di Disparta Jombang yang memiliki sifat dan jenis kegiatan, serta sumber anggaran yang sama tersebut tidak terbilang pemecahan?  

Atas pertanyaan tersebut, Kadisparta Jombang membantahnya. Menurutnya, tidak benar pihaknya melakukan pemecahan paket, tapi yang terjadi adalah penyesuaian jadwal dan bentuk kegiatan paket. Priadi lantas membeber lebih jauh, bahwa paket mamin di Disparta tidak mungkin dilakukan hanya dengan sekali lelang. Karena kebutuhan mamin tersebar dibanyak kegiatan dan dibanyak momen, sehingga tidak bisa disatukan. Misalnya mamin untuk kebutuhan rapat atau kegiatan sosialisai yang jadwalnya tidak bisa direncakan. 

"Mas kalau mamin dilelang 1 kali siapa yang makan mas. Karena ada mamin harian untuk pegawai setial hari, ada mamin rapat pengadaannya setiap ada kegiatan rapat, ada mamin kegiatan sosialisasi dll diadakan sesuai kebutuhan dan waktu kegiatan. Pengadaan mamin terserah pelaksananya masing-masing karena lokasi kegiatan tidak selalu berada pada satu tempat. Contoh mamin untuk sekolah lapang, dimana lokasi kegiatannya ada dihamparan2 sawah se Jombang. Jadi itu bukan pemecahan paket, tapi menyesuaikan dengan jadwal kegiatan masing-masing, "tulis Priadi via chat whatsapp, Kamis (15/07).

Lho kenapa jawabnya melebar ke kegiatan mamin yang lain, ini kan khusus soal mamin penambah daya tahan tubuh pegawai saja? Pertanyaannya, kenapa kegiatan yang memiliki sifat dan jenis, serta sumber anggaran yang sama itu harus dipecah menjadi 11 kegiatan? Terhadap penegasan ini Priadi tidak memberikan respon. Termasuk, dia juga tidak menjawab ketika ditanya soal apakah pihak penyedia yang dipilih hanya satu bendera atau kah lebih, juga menu apa yang didapat setiap pegawai atas anggaran mamin Rp 10 ribu per orang per hari itu. (din)

Sebelumnya Rubuha 2021, Di Klaim Mengacu Hasil Penelitian Perguruan Tinggi
Selanjutnya Jaksa Bacakan Kesaksian Mertua Terdakwa Aulia Rahman, Terkait Kasus Tipu Gelap Kitab Islami Yang Rugikan Korban Rp. 1,2 Miliar