Kejari Tanjung Perak Hadirkan 'Saksi Palsu' dan Ahli 'Awu-awu'
  
Kejari Tanjung Perak Hadirkan 'Saksi Palsu' dan Ahli 'Awu-awu'

Kejari Tanjung Perak Hadirkan 'Saksi Palsu' dan Ahli 'Awu-awu'

SURABAYA (suara-publik.com)-  Sidang dugaan illegal logging (mestinya illegal trading) yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya sangat memalukan. Bagaimana tidak, saksi pertama bernama Wahyudi diduga adalah palsu, sementara yang dihadirkan Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjung Perak Surabaya adalah Wahyuni Bahar (saudara Wahyudi). Parahnya lagi, saksi ke dua yakni Ahli, sekaligus Dosen UNAIR, mengajar Hukum Perdata dan Sistem Peradilan, Dr. Bambang Sugeng Hariwahyudi, SH., M Hum, ternyata tidak mengetahui lebih detail soal kayu seperti yang disidangkan, Kamis (27/10/2011) pukul 15.30 WIB.

Saksi Wahyuni Bahar (Wahyudi palsu) di depan Majelis Hakim PN Surabaya mengaku bahwa ia mengikuti pelatihan Penilaian Kinerja Tenaga Teknis Pengelolaan Hutan Produksi Lestari-Pengujian Kayu Gergajian Rimba (GANISPHPL-PKGR) 2010 dengan menggunakan nama Wahyudi. Padahal ia sendiri di hadapan hakim yang mengaku mengikuti pelatihannya.

Wahyudi palsu ini mengaku juga hanya sebagai pencatat Faktur Asal Kayu Olahan (FAKO) dari UD. Ratulangi (meski ijinnya sudah tidak berlaku), tidak mengetahui tujuan kayu, dan hanya bertugas teken saja. Sementara di hadapan Tim Jaksa, Wahyudi palsu yang hanya lulusan SMP ini mengaku sekali teken FAKO, ia mendapat bagian sebesar Rp. 50.000,-.

Nampaknya, saksi palsu ini ketika ditanya Gede, SH., MH., CD, tidak berkutik. Pasalnya, Gede bisa mengetahui siapa sebenarnya Wahyudi palsu ini. Namun Wahyudi palsu ini menyangkal ketika ditanya tentang tandatangan dirinya sebanyak 2 kali yakni yang dilakukan pada 27 Oktober, atas nama terdakwa Samsu Hami Andi Sempung, Wahyuni Bahar ikut tandatangan hasil lacak balak versi penyidik Polres Pelabuhan Tanjung Perak (sebenarnya hasil observasi) dan BAP atas nama terdakwa Gunawan Suhartono, hasil observasi versi penyidik pada 30 Oktober 2011, namun Wahyuni Bahar tidak ikut tandatangan, sehingga diduga jaksa tampak merekayasa hasil observasi.

Kemudian saksi selanjutnya yakni Bambang. Dosen UNAIR Surabaya yang mengajar Hukum Acara Perdata ini begitu lancar saat menjawab pertanyaan jaksa. Namun tidak bagi Gede, karena Bambang dianggap tidak mengetahui masalah kayu, seperti yang disidangkan, maka Gede enggan melanjutkan untuk memberikan pertanyaan. Sidang akhirnya dilanjutkan pada 8 Nopember 2011, dengan agenda keterangan saksi yang meringankan (ade charge) dari anggota DPRD Bulukumba, Sulsel, yang ikut menandatangani lacak balak, pada 6 September 2011 (ono, asmo)

 

 

 

Sebelumnya Kabupaten Bondowoso Bahas RAPBD 2012 Tercepat Di Seluruh Jawa Timur
Selanjutnya Jambret Kusuma Bangsa di Hadiahi Timah Panas