Terdakwa Fairuz di Konfrontasi Dengan Saksi 2 Satpam, Terkait Kasus Penyiksaan ART
Foto atas: Terdakwa Firdaus Fairus, menjalani sidang di ruang Candra PN.Surabaya, secara online, Rabu (15/09/2021). Foto bawah: Dua saksi sekuriti perumahan tempat tinggal terdakwa fairus, dihadirkan dipersidangan.

Terdakwa Fairuz di Konfrontasi Dengan Saksi 2 Satpam, Terkait Kasus Penyiksaan ART

Surabaya, Suara Publik - Firdaus Fairus disebut pernah menjemur pembantunya, Elok Anggraini di tengah terik matahari. Perbuatan itu diketahui Ishadi Purnowiyono, satpam di komplek perumahan tempat tinggal Fairuz di Jalan Manyar Tirtomoyo. Ketika itu, pada akhir April lalu sekitar pukul 11.00 Ishadi yang berpatroli di komplek istirahat sebentar di bawah pohon belakang pos satpam, tepat di depan rumah Fairus. 

Dia melihat Elok berdiri membungkuk di pinggir jalan depan rumah. Fairus berdiri di dekat pembantunya itu. Ishadi yang merasa iba kemudian bertanya kepada si majikan itu mengapa pembantunya di jemur. "Bu Fairus bilang biarin, biar dia rasain. Di jemur di luar pagar, pinggir jalan," ujar Ishadi saat memberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang di ruang candra Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (15/09/2021).

100%

Ishadi sempat menyarankan Fairus untuk memulangkan pembantunya itu kalau memang sudah tidak suka dengan kerjanya. Namun, Fairus menolaknya. Dia beralasan kasihan anak Elok yang dianggapnya pandai. Di rumah itu, Elok memang tinggal bersama anaknya yang masih kecil. 

Fairus sempat mengatakan alasannya menjemur Elok. Menurut dia, pembantunya itu telah mencuri. Namun, tidak jelas barang apa yang dicuri. "Nyuri apa, wong bukti tidak ada. Barangnya dibilang dijual di rombeng," katanya. 

Setelah beristirahat sekitar 15 menit, Ishadi kembali melanjutkan patroli dengan berkeliling komplek. Saat dia pergi, Elok masih dijemur. Setelah itu dia tidak tahu lagi nasib pembantu tersebut. 

Ishadi tidak sekali itu menemukan kejanggalan perilaku Fairus terhadap pembantunya. Dia juga pernah melihat Elok menyiram bunga di pinggir jalan depan rumah pukul 03.00 dini hari. "Ketika itu saya baru pulang patroli. Di komplek cuma rumah Bu Fairus saja yang pembantunya siram-siram pagi buta. Pembantu sebelumnya juga sering saya lihat," tuturnya. 

Setelah menyiram tanaman, sekitar pukul 06.00, Elok melanjutkan pekerjaan dengan menyapu halaman depan rumah hingga di pinggir jalan. Adi Mulya, satpam lain yang kerap melihatnya. Adi juga pernah melihat Elok melompat pagar rumah untuk membeli gorengan di dekat rumah. "Dia lompat pagar, jatuh, berdiri lagi. Dia jalan sambil pincang," katanya.

Ishadi dan Adi juga sama-sama bersaksi kalau Elok jarang keluar rumah. Keduanya tidak tahu alasannya. Dijemur di siang hari dan menyiram tanaman dini hari menambah daftar panjang perlakuan buruk Fairus terhadap pembantunya. Sebelumnya, Elok dan anaknya yang bersaksi dalam persidangan mengaku kerap disiksa secara fisik hingga diseterika dan dipaksa makan kotoran kucing. 

Menanggapi kesaksian kedua satpam, Fairus menyatakan, Ishadi salah menyebut waktu Elok menyiram tanaman. Bukan pukul 03.00, tetapi pukul 03.30. Kebiasaan itu disebut keinginan pembantunya itu sendiri dan bukan atas perintahnya. Dia juga membantah telah menjemur pembantunya. 

"Bukan saya jemur tapi karena menunggu rombeng," ujarnya.(sam)

Sebelumnya Gelapkan Setoran Uang Milik Perusahaan Sebesar Rp 2,046 Miliar, Agustina Handayani Diadili
Selanjutnya Jaksa Hadirkan Saksi Penangkap, M. Ali Usman Penerima Kiloan Sabu dan Ekstasi Terancam Hukuman Mati