suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Sopir Dan Kernet Truk Tangki Pertamina Gelapkan BBM Cara Kencing 1200 Liter, Dua Pembeli BBM Kencing Ikut Diringkus

avatar suara-publik.com
Foto: Keempat terdakwa, sopir dan kernet yakni, Ahmad Mustakim, Suprayitno, Adi Setiawan dan Ma'ul Nanang Widiyanto, menjalani sidang di ruang Sari 3 PN Surabaya, Senin (21/11/2022).
Foto: Keempat terdakwa, sopir dan kernet yakni, Ahmad Mustakim, Suprayitno, Adi Setiawan dan Ma'ul Nanang Widiyanto, menjalani sidang di ruang Sari 3 PN Surabaya, Senin (21/11/2022).
suara-publik.com leaderboard
Surabaya, suara publik - Sopir dan kernet truk tangki PT Pertamina menggelapkan barang bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax yang mereka angkut dengan cara kencing atau mengambil muatannya lalu dikumpulkan di drum. 

Keempat sopir dan kernet itu di antaranya, Ahmad Mustakim, Suprayitno, Adi Setiawan dan Ma'ul Nanang Widiyanto. Mereka menjual BBM hasil kencing itu kepada M. Agus Sulaiman yang kemudian dijual lagi kepada Cipto. Agus dan Cipto juga menjadi terdakwa dalam perkara ini.

Jaksa penuntut umum Uwais Deffa I. Qorni dalam dakwaannya menjelaskan, keempat sopir dan kernet itu awalnya ditugaskan untuk mengantar BBM dari Depo Pertamina di Jalan Perak Barat ke sejumlah SPBU di Jawa Timur. Mereka kencing dengan cara membuka segel yang terpasang di tangki. Setelah segel lepas kemudian mereka mengeluarkan BBM dari tangki.

"Setelah proses kencing selesai, kemudian disegel kembali dengan menggunakan segel asli yang telah dibuka," jelas jaksa Uwais dalam dakwaannya yang dibacakan dalam sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (21/11/2022).

Para terdakwa lalu mengumpulkan BBM hasil kencing itu di drum besar yang kemudian disimpan di gudang Osowilangun, Benowo. BBM hasil kencing itu dijual keempat terdakwa kepada terdakwa Agus Sulaiman yang kemudian dijual lagi kepada terdakwa Cipto.

Terdakwa Cipto membeli 6 drum atau 1.200 liter BBM jenis Pertalite dengan harga Rp 7.400 per liter. Cipto membayar Rp 8,8 juta untuk semua BBM yang dibelinya. Cipto kemudian menjual lagi BBM yang dibelinya dari hasil kencing itu. BBM seharga Rp 7.400 liter itu dijualnya seharga Rp 8.500 per liter.

Keenam terdakwa dianggap telah memperjualbelikan BBM secara ilegal. Jaksa Uwais mendakwa keenam terdakwa dengan Pasal 55 Undang-undang Nomot 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja jo. Pasal 55 Undang-undang Nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi jo. Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Para terdakwa tidak membantah dakwaan jaksa.(Sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper