suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Kepsek SDI Cheng Hoo Gelapkan Dana Sekolah, 6 Tahun Embat Rp 1,1 Miliar, Terdakwa Tumoro Ikayanti Jadi Pesakitan

avatar suara-publik.com
Foto: Terdakwa Tumoro Ikayanti Aisyah menjalani sidang agenda pemeriksaan terdakwa, di Ruang Garuda 1 PN Surabaya secara online, Rabu (27/12/2023)
Foto: Terdakwa Tumoro Ikayanti Aisyah menjalani sidang agenda pemeriksaan terdakwa, di Ruang Garuda 1 PN Surabaya secara online, Rabu (27/12/2023)
suara-publik.com leaderboard

 

SURABAYA, (suarapublik.com) - Sidang perkara pidana Penggelapan dalam jabatannya sebagai Kepala Sekolah Sekolah Dasar Islam (SDI) Cheng Hoo, Jalan Gading 02 Surabaya, dengan gaji pokok Rp2.500.000 dan 

Tunjangan baca tulis Alquran Rp.500.000,-, telah menggelapkan dana yang masuk dari SPP bulanan, uang pangkal, daftar ulang, uang kegiatan, uang buku dan uang pembelian formulir, sejak tahun 2018 sampai 2023, mencapai Rp1.111.199.000, dengan Terdakwa Tumoro Ikayanti Aisyah, S.HI.M.HI, di Ruang Garuda 1 PN Surabaya, di pimpin Ketua Majelis Hakim, Sudar secara online, Rabu, (27/12/2023).

Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Estik Dilla Rahmawati, dari Kejari Tanjung Perak, menyatakan Terdakwa Tumoro Ikayanti Aisyah, S.HI, M.HI, melakukan tindak pidana. “Beberapa perbuatan,masing- masing merupakan kejahatan, ada hubungannya, sehingga dipandang suatu perbuatan berlanjut, dengan sengaja melawan hukum memiliki barang, sesuatu, seluruhnya atau sebagian, kepunyaan orang lain, tetapi ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan, penguasaannya terhadap barang disebabkan ada hubungan kerja atau atau karena mendapat upah untuk itu” "Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 374 Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP." Atau, "Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 372 Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP".

Dalam agenda pemeriksaan Terdakwa Tumoro Ikayanti Aisyah, mengaku kalau uang sudah itu dibuat untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk membayar pendidikan sekolah anaknya. Jumlah uang yang saya gunakan sebesar Rp730 juta, Yang Mulia,” ucapnya.

Menurutnya, sejak menjadi kepala sekolah, tidak ada sistem SOP dari yayasan. Saat itu admin tidak masuk, sehingga dirinya yang menggantikannya urusannya.

Sementara itu, Majelis Hakim yang di ketuai Sudar menanyakan apakah sistem SOP ada atau tidak ada ?

“Sejak saya menjadi kepala sekolah tidak ada SOP dan yang membantu hanyalah admin dan semua kewenangan sekolah dan kebutuhan sekolah,” tutup Tumoro.

Diketahui, bermula Saksi Desembasri Chandra, S.Sos, alias Ustad Hasan Basri Ketua Pelaksana Harian Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia bersama Ketua Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia merasa curiga laporan keuangan Sekolah Dasar (SD) Islam Cheng Hoo. Memerintahkan Saksi Siti Zulichah Konsultan Manajemen dan Keuangan Yayasan Haji Muhammad Chenghoo Indonesia melakukan audit internal.

Hasil audit di temukan selisih dana masuk, selisih tunggakan siswa, selisih dana yang telah dibayar, jumlah dana yang telah disetorkan, laporan penerimaan dan pengeluaran dana di Sekolah Dasar Islam Cheng Hoo, sehingga dilakukan konfirmasi ke Terdakwa Tumoro Ikayanti Aisyah, S.HI.M.HI, selaku Kepala Sekolah, SD Islam Cheng Hoo, Jalan Gading 02 Surabaya, gaji pokok Rp2.500.000, tunjangan baca tulis alquran Rp500.000.

Tugas terdakwa adalah mengangkat Wakil Kepala Sekolah, PKS dan petugas lain melalui mekanisme di SD Cheng Hoo. Membuat Rencana Kerja Sekolah (RKS), Rencana Operasional (RENOP), Rencana Anggaran Pendapatan & Belanja Sekolah (RAPBS) bersama Wakasek, PKS, guru dan komite serta melaksanakan sosialisasi dan dilaporkan kepada Yayasan. Mengelola dana sekolah dan melaporkan secara berkala kepada Yayasan.

Terdakwa sebagai Kepala Sekolah tidak melaksanakan tugas, tanggungjawab sesuai SOP, dengan mengambil uang pendapatan yayasan bersumber dari SPP bulanan, uang pangkal, daftar ulang, uang kegiatan, uang buku, uang pembelian formular dari wali murid.

Terdakwa meminta Saksi Novi Rahmawati selaku admin untuk melaporkan penerimaan pendapatan sekolah sebelum menyetorkan uang penerimaan pendapatan sekolah kepada yayasan, sehingga terdakwa bisa mengambil uang tersebut secara acak.

Terdakwa pernah meminta Saksi Novi Rahmawati secara tunai Rp236.547.000, dan meminta Saksi Novi Rahmawati melakukan transfer ke rekening BCA an. Tumoro Ikayanti, total Rp341.831.000.

Terdakwa juga melakukan penerimaan dana dari wali murid saat Saksi Novi Rahmawati sebagai admin berhalangan hadir. Uang yang diterima dari wali murid tidak diserahkan kepada Saksi Novi Rahmawati, juga disertai dengan tanda terima dari terdakwa ke wali murid yang telah menyetorkan uang SPP.

Kurun waktu 2018-2023, terdakwa melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan SOP dengan mengambil uang pendapatan sekolah, yang seharusnya masuk ke rekening yayasan. 

Jenis penerimaan dana, Tahun 2017/2018, SPP bulanan Rp31,800,000, uang pangkal Rp28,000,000, daftar ulang, uang kegiatan. Uang buku, uang pembelian formulir Rp2.400.000, total Rp64,000,000. Pada edisi tahun 2018/2019

Total Rp325,770,000. Pada tahun 2019/2020, mencapai total Rp128,440,000. Pada tahun 2020/2021, total Rp448,755,000. Kemudian tahun 2021/2022, total Rp 236,668,000. Selanjutnya pada tahun 2022/2023, total Rp253,436,000 dan pada tahun 2023/2024 ini, total Rp37,100,000. Total dana sekolah yang tidak disetorkan ke yayasan mencapai Rp1,111,199,000.

Akibat perbuatan terdakwa, Sekolah Dasar dari Yayasan Haji Muhammad Chenghoo Indonesia mengalami kerugian Rp1.111.199.000. (sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper