Cetak Generasi Tangguh, 60 Remaja Jatim Tuntaskan 'Adventurous Journey' JAYCA di Mojokerto

Reporter : Redaksi

MOJOKERTO, (suara-publik.com) – Sebanyak 60 remaja terpilih dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur sukses menyelesaikan tantangan Adventurous Journey (AJ) yang diselenggarakan oleh Jawatimur Young Changemaker Academy (JAYCA). Kegiatan intensif ini berlangsung selama tiga hari, di mulai 20 hingga 22 Desember 2025, dengan mengambil lokasi di Pondok Pak Guru, Claket, Mojokerto.

Adventurous Journey merupakan salah satu dari empat aktivitas syarat untuk mendapatkan The Duke of Edinburgh’s International Award (DofE), sebuah program penghargaan prestasi pemuda non-formal tingkat dunia yang diakui secara internasional. Melalui format ekspedisi, para peserta ditantang untuk keluar dari zona nyaman guna mengasah daya tahan fisik, ketangkasan navigasi, serta soliditas kerja sama tim dalam menghadapi medan alam terbuka. Berbeda dengan pendakian biasa, AJ yang diinisiasi oleh JAYCA ini mengintegrasikan unsur petualangan dengan metodologi penelitian ilmiah sederhana. Para peserta diwajibkan melakukan observasi lapangan yang kemudian hasilnya harus dipertanggungjawabkan di hadapan asesor.

Kegiatan dimulai pada hari pertama (20/12), fokus utama peserta adalah eksplorasi kawasan di sekitar Pondok Pak Guru untuk menguji kepekaan mereka terhadap lingkungan sekitar.

Dalam sesi observasi awal ini, para peserta menyisir berbagai titik penting di kawasan tersebut. Mereka melakukan pengamatan mendalam pada aliran sungai kecil dan parit untuk mengecek kualitas air, serta menjelajahi area perkebunan warga untuk memahami vegetasi lokal. Tidak hanya itu, peserta juga mengunjungi kandang hewan ternak (sapi dan kambing) milik warga untuk melihat hewan ternak apa saja yang dominan di Desa Claket. Data-data awal ini menjadi fondasi penting bagi para remaja tersebut dalam menyusun rencana penelitian yang lebih kompleks di hari berikutnya.

Tantangan fisik yang sesungguhnya terjadi pada hari kedua, (21/12). Peserta melakukan pendakian menuju puncak Puthuk Kentongan. Di tengah jalur yang menanjak, para remaja ini tetap menjalankan tugas observasi mereka. Fokus penelitian mereka beragam, mulai dari identifikasi keanekaragaman hayati (flora dan fauna), analisis kebersihan jalur pendakian, hingga Mendokumentasikan melalui fisik gunung melalui foto hasil lapangan.

Naila Shofwatul Awwaliyah (17), peserta asal Lamongan, mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberikan dimensi baru dalam memahami arti kepemimpinan.

"Melalui AJ JAYCA ini, kami belajar bahwa menjadi seorang changemaker tidak hanya butuh kecerdasan di dalam ruangan, tapi juga ketangguhan fisik dan kepekaan terhadap isu lingkungan di lapangan. Kebersamaan yang terjalin saat menghadapi medan sulit adalah pengalaman yang tidak terlupakan," ujar Naila.

Memasuki hari ketiga (22/12), kegiatan ditutup dengan sesi presentasi hasil observasi. Setiap kelompok memaparkan data yang mereka peroleh selama ekspedisi di hadapan para asesor. Sesi ini dirancang untuk menguji kemampuan analitis, cara berkomunikasi di depan publik, serta sejauh mana para peserta mampu memberikan solusi atau rekomendasi atas temuan mereka di lapangan.

Melalui program ini, para pemuda Jawa Timur tidak hanya dipersiapkan untuk memenuhi kualifikasi penghargaan internasional DofE, tetapi juga dibentuk menjadi individu yang mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian lingkungan.

Dengan berakhirnya kegiatan ini, 60 remaja tersebut diharapkan mampu membawa semangat agen perubahan (changemaker) ke daerah asal masing-masing, membuktikan bahwa generasi muda Jawa Timur siap bersaing dan berkontribusi secara nyata di tingkat global. (Bam)

Editor : suarapublik

Birokrasi
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru