Sulsel, Suara-Publik.com - Masyarakat di sekitar pesisir pantai Batu Lohe, Desa
Balang Butung, Kecamatan Buki Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan,
sudah sejak lama meyakini bahwa dari sekian banyak batu batu di pesisir pantai
Batu Lohe, salah satu diantaranya merupakan kapal Sawerigading yang dalam
pelayarannya menuju negeri cina
terdampar di tepian pantai Batu Lohe, sampai akhirnya kapal tersebut
berubah wujud menjadi sebuah batu.
Yakin, batu tersebut adalah kapal milik sawerigading
yang terdampar di pesisir pantai Batu Lohe, masyarakat setempat kemudian sepakat
menamakan batu ini “Batu Opu Gele Moni”
atau dalam dialek bahasa Indonesia dimaknai Batu dari keturunan bangsawan yang
tidak mampu bersuara.
Batu yang menurut legenda merupakan kapal sawerigading
ini terletak sekira 2 kilo meter dari Kampung Rallaiya, Desa Balang Butung,
Kecamatan Buki. Kendati, keberadaan batu ini sendiri masih membutuhkan
penelitian ahli geolog untuk dapat memastikan, apakah batu tersebut berasal
dari fosil, atau memang berasal dari
kapal dengan melihat bentuknya yang menyerupai sebuah perahu.
Pasalnya, batu sejenis sangat banyak ditemui di
sekitar perairan laut Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan,
sepertihalnya yang terdapat di pesisir pantai barat Sangkulu-Kulu, Kecamatan
Bontosikuyu, tepatnya, di dekat areal penemuan harta karun yang berada di wilayah Dusun Tile-Tile
Selatan.
Selain batu berbentuk perahu, di wilayah Dusun Tanah
Tappu, tepat di sekitar kawasan kawah Tanah Tappu atau yang dalam dialek bahasa
Selayar sehari-hari banyak diistilahkan dengan “andara” terdapat sebuah
perbukitan mirip body perahu yang oleh masyarakat setempat diberi nama
“Kappalana Sawerigading”
Pemandangan bukit ini bisa dinikmati pengunjung dari
arah jembatan kedua menuju Dusun Tanah Tappu. Batu dan perbukitan berbentuk
bodi perahu seperti ini, tersebar di
beberapa daerah pedesaan di Kabupaten Kepulauan Selayar, sebut saja, di Dusun
Batu Palangka, Desa Tambolongan, Kecamatan Bontosikuyu.
Wajar, bila kemudian fenomena semacam ini menjadi
bahan kajian bersifat kontroversial di tengah-tengah masyarakat. Bahkan, tidak
sedikit pula tokoh masyarakat yang berpendapat, bahwa dalam pelayarannya ke
negeri Cina, Sawerigading menggunakan banyak armada perahu, terutama saat
melintasi selat Kabupaten Kepulauan Selayar.
Perahu-perahu tersebutlah, yang kemudian karam di
perairan laut Kabupaten Kepulauan Selayar dan terseret arus gelombang
selanjutnya, terdampar di beberapa wilayah perairan, sebelum berubah wujud
menjadi batu dan perbukitan.
Dalam kaitan itu, sekali lagi kehadiran ahli geolog
sangat dibutuhkan di Kabupaten Kepulauan Selayar untuk melakukan penelitian
terhadap beberapa profil bebatuan yang terdapat di daerah berjuluk Bumi
Tanadoang ini. Terutama, untuk memastikan kebenaran tentang Legenda Kapal
Sawerigading. (*)
Editor : Pak RW