Ati Mala, Pengidap Gondok Air Cerminan Kehidupan Warga Miskin Tanah Air

suara-publik.com

Sulsel, Suara-Publik.com - Nasib malang yang dialami Ati Mala (50 tahun), mungkin adalah satu dari sekian banyak potret kehidupan warga miskin tanah air  yang dilatar belakangi oleh persoalan sempitnya lapangan pekerjaan. Sehingga tak ada pilihan bagi Ati Mala dan keluarga besarnya, kecuali mencoba untuk tetap bertahan hidup dengan menggantungkan harapan dari hasil menggarap lahan tanah perkebunan diantara celah bebatuan yang terdapat di Desa Sambali, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan.

Sementara, kebanyakan warga masyarakat lain di sekitar lingkungan kehidupannya, lebih memilih, untuk hengkang, dan mengadu peruntungan di negeri orang, ketimbang tetap bertahan di kampung halaman.

Bagi seorang Ati Mala, keputusan untuk tetap bertahan di kampung halaman masih jauh lebih baik dari pada harus mengejar rupiah di negeri orang. Satu hal yang pasti baginya, bahwa, “hujan batu di negeri sendiri, masih jauh lebih baik, dari pada hujan emas di negeri orang”.  

“Biar miskin, asalkan tangan tetap di atas, atau dengan kata lain, biar miskin, asal jangan pernah menjadi pengemis yang hanya tahu menengadahkan tangan menanti belas kasih dari orang lain”.

Prinsip inilah yang senantiasa membesarkan jiwa Ati Mala dan keluarga besarnya untuk tetap menjalani perputaran roda kehidupan dalam segala bentuk kesederhanaan dan keterbatasan yang tengah dialaminya saat ini.

Tak ada pilihan lain baginya, kecuali pasrah pada kodrat Sang Ilahi dengan menyadari sepenuhnya, bahwa manusia diciptakan ke permukaan bumi, tiada lain, hanya untuk berdoa dan berusaha, sembari menanti turunnya rezeki dari Allah SWT.

Sebagai seorang hamba, Ati Mala berkeyakinan, tak kan pernah berubah nasib sebuah kaum, terkecuali kaum itu sendiri yang merubah nasibnya. Berangkat dari pemikiran tersebut, Ati Mala percaya sepenuhnya, bila suatu saat nanti nasib keluarganya akan jauh lebih baik, dari sebelum-sebelumnya.

Namun sayang seribu sayang, karena harapan tersebut, tinggallah menjadi sekedar impian tak bertepi. Pasalnya, pada usia sekira 23 tahun, Ati Mala tiba-tiba harus terserang penyakit gondok air yang dideritanya hingga kini.

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula, pepatah ini, kiranya tepat untuk menggambarkan penderitaan bertubi-tubi yang harus diemban Ati Mala, dan segenap keluarga besarnya ditengah himpitan ekonomi yang tengah melanda rumah tangganya.

 

Penderitaan Ati Mala kian sempurna, disaat sebahagian orang kerap mengungkapkan, “orang miskin dilarang sakit, karena biaya pengobatan sangat mahal”.Dalam kondisi seperti itu, Ati Mala didampingi Joho (Sang suami,red) hanya sanggup mendatangi salah seorang dr praktek di daratan Kabupaten Kepulauan Selayar, bernama dr. Mikail.

Itupun, dia hanya hanya sanggup membeli obat tablet seadanya, karena keterbatasan uang yang dimilikinya. Sekali waktu, Ati Mala juga pernah disarankan untuk menjalani operasi di Kota Daeng Makassar.

Atas dasar saran tersebut, dia bersama suaminya pun berangkat ke Makassar dengan tujuan untuk menjalani operasi. Setibanya di tempat tujuan, Ati Mala langsung mengunjungi rumah sakit umum Labuang Baji di Jl. Dr. Sam Ratulangi, Makassar, dan ikut berjubel, bersama pasien lain yang sementara mengantri  menunggu  giliran untuk mendapatkan  pelayanan tenaga medis rumah sakit setempat.

Pada saat bersamaan, rasa kecewa harus kembali dirasakan Ati Mala, saat dr yang meladeninya dengan terbuka menyampaikan besaran biaya operasi yang sangat jauh dari kemampuan finansialnya hari itu.

Sampai akhirnya, operasi tinggallah sekedar angan-angan belaka. Pasalnya, Ati Mala harus pulang ke kampung halaman lagi-lagi dengan hanya mengantongi obat seadanya yang diperoleh dari RSU Labuang Baji, Makassar.

Menyadari kebijakan pelayanan kesehatan yang kala itu, sama sekali tidak menunjukkan keberpihakannya kepada masyarakat miskin, Ati Mala dengan terpaksa harus menjalani pengobatan tradisional, mulai dari mengkonsumsi ramuan dedaunan, sampai kepada mengkonsumsi jamu yang dibeli dari toko obat langganannya.

Beruntung, empat ke empat orang anaknya, kini telah tumbuh dewasa dan bahkan satu diantaranya, telah membina rumah tangga sendiri. Sehingga dengan demikian, beban pemikiran yang diemban wanita paruh bayah kelahiran, Sambali Barat, 30-06-1959 ini pun, sedikit terasa lebih ringan.

Beban tersebut semakin dirasakan ringan oleh Ati Mala, disaat media ini datang menyambangi rumah kediaman, Andi Nomang, putra pertama, dari buah pernikahannya dengan Joho, tempat di mana, Ati Mala melewatkan hari-harinya bersama, Suhari, Sugira dan Aspa, yang juga masih merupakan anak kandungnya.

            Saat ini, Ati Mala hanya sanggup berharap, saban hari, akan ada keajaiban yang mampu menyembuhkan penyakit gondok air di lehernya yang semakin hari semakin terlihat membesar dan membusung.  

 

Ernawati & Fitrawan, Dua Bocah Miskin Penderita Benjolan

Selain Ati Mala, penderitaan yang tak kalah memprihatinkan juga turut menimpa dua orang siswa di lingkungan SD No. 14 Sambali, yakni Ernawati, siswa kelas lima dan Fitrawan, siswa kelas enam, yang tiba-tiba saja terserang benjolan besar tepat dipertengahan kepalanya, tanpa sebab yang jelas.  

Informasi yang berhasil dihimpun di lapangan menyebutkan, kedua bocah ini masih memiliki ikatan kekeluargaan dengan Ati Mala, wanita penderita gondok air asal Desa Sambali Barat, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan, yang saat ini, tengah menanti turunnya keajaiban dari langit dengan seuntai harapan, dia bisa segera terbebas dari beban penderitaan.(fadly)  

 

Editor : Pak RW

Birokrasi
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru