Surabaya, Suara-Publik.com - Surabaya sebagai kota Metropolis terbesar setelah DKI Jakarta menyimpan banyak banyak misteri tentang seks. Kehidupan bebas di Surabaya sangat memprihatinkan, dari kalangan remaja usia 14 tahun hingga kakek-kakek. Hal ini yang mengakibatkan tingkat permakluman(cuek) pada pasangan kumpul kebo berdalih nikah sirih di kampung- kampung.
Berikut ini investigasi partisipatif Dollynews.com (Suara-Publik Group) yang dimulai dari peselingkuh ecek-ecek alias kalangan ekonomi lemah. Aris(samaran) seorang pria yang berusia 49 tahun berprofesi sebagai pengayuh Becak. Memiliki 2 anak 1 istri, namun hoby selingkuhnya(jajan) dengan wanita pekerja seks membuat anak istrinya kabur. "gara-gara suka selingkuh anak istri saya pulang ke desa" tutur Aris pada awal perkenalan dengan wartawan Suara-publik group di kawasan Kremil(bangun sari) Surabaya. Disebuah warung kopi sebelah timur lapangan Jl. Bangun Sari, kami asyik memperbincangkan selingkuh itu indah.
"sehari hasil saya narik becak 50.000, 20 untuk belanja yang 30 untuk selingkuh. Tapi saya biasanya bayar 20.000 karena banyak yang kenal saya. Cipto mas, icip-icip pokok roto ha ha ha ha" ucap Aris sambil terawa. Nanti satu jam lagi dilapangan ini akan ada permainan dadu, uang 10.000 ini modal bermain saya. Kalau menang mas tak ajak ke Dolly, disana kelasnya beda mas, pokonya sip deh, lanjutnya.
Dalam hati saya berkata, wah orang ini bener-bener peselingkuh tulen. Karena memang ingin mengetahui bagaimana kehidupan para peselingkuh, maka saya mengamini saja. Ternyata apa yang dikatakan oleh Aris benar adanya. Sebab lapangan itu menjadi tempat yang ramai dikunjugi orang karena ada beberapa bandar dadu. Aris pun terlihat asyik bertaruh angka yang keluar di atas dadu tersebut. Dua jam berselang dia sudah menang 200.000, padahal dia cuma punya modal 10.000.
Aris lalu mengajak saya ke Dolly, dengan segera Aris mengayuhkan Becaknya ke arah Selatan dengan tujuan Dolly. Sesampai di lokalisasi Dolly, pria ini memarkir Becaknya sekalian mandi di ponten umum. Setelah berganti pakaian Aris tidak nampak kalau profesinya pengayuh becak.Sesaat kemudian kami pun berjalan menyusuri jalan Jarak mulai dari Gang 1 hingga Gg 8.
Lagu dangdut terdengar keras, hal ini menurut Aris kebiasaan pengelola rumah bordir untuk menarik minat hidung belang. Dikiri kanan terlihat banyak perempuan yang melirik nakal para hidung belang yang berlalu lalang. Usia Pekerja Seks Komersil di Jarak bervariatif, ada yang masih belasan tahun. Namun ada juga yang sudah nenek-nenek alias berumur 40 tahun keatas.
Setelah putar-putar melihat suasana, Aris pun mulai meraya salah satu penghuni rumah bordir di jarak gang 2. Mimin demikian nama samaran PSK tersebut,mengaku pada kami. Sambil minum kopi, kami ngobril ngalor ngidul. Akhirnya Aris masuk kamar perempuan berusia 22 tahu tersebut setelah kesepakatan short time atau sekali main tarif Rp. 40.000. Kesempatan Aris masuk kekamar, saya pun mencari narasumber warga sekitar.
Ternyata di kawasan jarak ini memiliki tarif bervariasi, mulai dari Rp. 20.000 hingga Rp. 80.000. Tergantung usia dan kecantikan wajahnya. Hampir sama dengan lokalisasi Bangunsari(kremil) yang telah saya kunjungi siang harinya.
Saya mencoba mencari pendapat pada warga yang berbatasan antara lokalisasi dan kampung yang tidak digunakan untuk pelacuran. Sebut saja pak Is, pria berusia setengah baya ini sangat risih dengan keberadaan lokalisasi ini. Sebab hinggar bingarnya mengganggu istirahat warga yang bukan mucikari. Namun dirinya merasa tidak berdaya untuk melawan para mucikari yang konon memiliki persatuan yang kuat. "surabaya sorga bagi penganut seks bebas, Dolly Jarak adalah ibu kotanya Sorga itu mas" papar pak Is geram. (bersambung)
Berikut ini investigasi partisipatif Dollynews.com (Suara-Publik Group) yang dimulai dari peselingkuh ecek-ecek alias kalangan ekonomi lemah. Aris(samaran) seorang pria yang berusia 49 tahun berprofesi sebagai pengayuh Becak. Memiliki 2 anak 1 istri, namun hoby selingkuhnya(jajan) dengan wanita pekerja seks membuat anak istrinya kabur. "gara-gara suka selingkuh anak istri saya pulang ke desa" tutur Aris pada awal perkenalan dengan wartawan Suara-publik group di kawasan Kremil(bangun sari) Surabaya. Disebuah warung kopi sebelah timur lapangan Jl. Bangun Sari, kami asyik memperbincangkan selingkuh itu indah.
"sehari hasil saya narik becak 50.000, 20 untuk belanja yang 30 untuk selingkuh. Tapi saya biasanya bayar 20.000 karena banyak yang kenal saya. Cipto mas, icip-icip pokok roto ha ha ha ha" ucap Aris sambil terawa. Nanti satu jam lagi dilapangan ini akan ada permainan dadu, uang 10.000 ini modal bermain saya. Kalau menang mas tak ajak ke Dolly, disana kelasnya beda mas, pokonya sip deh, lanjutnya.
Dalam hati saya berkata, wah orang ini bener-bener peselingkuh tulen. Karena memang ingin mengetahui bagaimana kehidupan para peselingkuh, maka saya mengamini saja. Ternyata apa yang dikatakan oleh Aris benar adanya. Sebab lapangan itu menjadi tempat yang ramai dikunjugi orang karena ada beberapa bandar dadu. Aris pun terlihat asyik bertaruh angka yang keluar di atas dadu tersebut. Dua jam berselang dia sudah menang 200.000, padahal dia cuma punya modal 10.000.
Aris lalu mengajak saya ke Dolly, dengan segera Aris mengayuhkan Becaknya ke arah Selatan dengan tujuan Dolly. Sesampai di lokalisasi Dolly, pria ini memarkir Becaknya sekalian mandi di ponten umum. Setelah berganti pakaian Aris tidak nampak kalau profesinya pengayuh becak.Sesaat kemudian kami pun berjalan menyusuri jalan Jarak mulai dari Gang 1 hingga Gg 8.
Lagu dangdut terdengar keras, hal ini menurut Aris kebiasaan pengelola rumah bordir untuk menarik minat hidung belang. Dikiri kanan terlihat banyak perempuan yang melirik nakal para hidung belang yang berlalu lalang. Usia Pekerja Seks Komersil di Jarak bervariatif, ada yang masih belasan tahun. Namun ada juga yang sudah nenek-nenek alias berumur 40 tahun keatas.
Setelah putar-putar melihat suasana, Aris pun mulai meraya salah satu penghuni rumah bordir di jarak gang 2. Mimin demikian nama samaran PSK tersebut,mengaku pada kami. Sambil minum kopi, kami ngobril ngalor ngidul. Akhirnya Aris masuk kamar perempuan berusia 22 tahu tersebut setelah kesepakatan short time atau sekali main tarif Rp. 40.000. Kesempatan Aris masuk kekamar, saya pun mencari narasumber warga sekitar.
Ternyata di kawasan jarak ini memiliki tarif bervariasi, mulai dari Rp. 20.000 hingga Rp. 80.000. Tergantung usia dan kecantikan wajahnya. Hampir sama dengan lokalisasi Bangunsari(kremil) yang telah saya kunjungi siang harinya.
Saya mencoba mencari pendapat pada warga yang berbatasan antara lokalisasi dan kampung yang tidak digunakan untuk pelacuran. Sebut saja pak Is, pria berusia setengah baya ini sangat risih dengan keberadaan lokalisasi ini. Sebab hinggar bingarnya mengganggu istirahat warga yang bukan mucikari. Namun dirinya merasa tidak berdaya untuk melawan para mucikari yang konon memiliki persatuan yang kuat. "surabaya sorga bagi penganut seks bebas, Dolly Jarak adalah ibu kotanya Sorga itu mas" papar pak Is geram. (bersambung)
Editor : Pak RW