Anggota Komisi B, Hidayat Darminto menjelaskan, di antara empat BUMD itu yang mendapat perhatian khusus adalah PD Seger. Menurutnya, sejak tahun 1996 hingga sekarang, PD Seger tidak ada peningkatan pendapatan secara signifikan. Padahal, lanjutnya, BUMD ini sering mendapatkan biaya dari pemerintah daerah.
“Hampir setiap tahun, tidak pernah mendapatkan keuntungan, justru malah merugi. Ini menunjukkan BUMD tersebut kinerjanya tidak sesuai dengan target pencapaian yang diharapkan,” ujar Hidayat, Rabu (28/12).
Ia menambahkan, dari target yang dibebankan oleh pemerintah daerah pada tahun 2011 sebesar Rp 60 juta, hanya terpenuhi sebesar Rp 50 juta. Padahal, sambungnya lagi, yang sebelumnya hanya menangani bidang apotik, dan sekarang menambah usahanya pada bidang percetakan, masih tidak dapat memenuhi target. “Setiap tahunnya, terus saja merugi,” kata politisi dari PKS, ini.
Dayat melanjutkan, meski PD Seger mengalami kerugian setiap tahunnya, namun hal itu tidak dirasakan oleh jajaran direksinya. Terbukti, untuk tahun anggaran mendatang, ada permintaan penambahan anggaran yang terlalu tinggi dan tidak rasional dan targetnya selalu saja tidak terpenuhi.
“Contoh misalnya, sudah tahu kalah bersaing dengan apotik swasta, PD Seger justru meminta ada perluasan lahan parkir. Ini harus dirubah managemennnya dan restrukturisasi. Sehingga PD Seger tidak terus menjadi beban bagi pemerintah daerah yang selama ini tidak pernah mencapai target,” pungkas. (fer) Foto: Hidayat Darminto
Editor : Pak RW