DEPOK (suara-publik.com) - Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Depok yang
akan membangun ratusan Unit Pengolahan Sampah (UPS) sebagai salah satu
upaya untuk dapat menangani permasalahan sampah di Kota sejuta Belimbing
ini nampaknya bakal menghambur-hamburkan lebih banyak uang rakyat saja.
Bagaimana tidak. Dari target RPJMD Kota Depok, hingga tahun 2016 mendatang, rencananya Pemkot melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) akan membangun 100 unit hanggar UPS.
Jika sampai tahun 2011 lalu Pemkot Depok telah membangun 44 unit hanggar UPS, artinya hingga tahun 2016 mendatang, target yang harus dipenuhi tinggal 56 unit lagi.
"Saat ini, UPS yang sudah terbangun ada 44 unit. Jadi tinggal 56 unit lagi yang akan di bangun sesuai target RPJMD hingga tahun 2016 mendatang", ungkap Kepala Bidang Pelayanan Kebersihan di DKP, Rahmat Hidayat.
Dari data rekapitulasi belanja Organisasi Perangkat Daerah (OPD) APBD Kota Depok tahun 2011, diketahui bahwa untuk peningkatan manajemen pengelolaan persampahan, seperti pembangunan hanggar UPS, Pelaksanaan Pengolahan Sampah, Optimalisasi fungsi UPS, gerakan depok memilah, pengadaan mesin pengolah sampah dan penyusunan DED Pembangunan hanggar UPS, dana yang dialokasikan mencapai Rp 23,5 Miliar.
Belum lagi dana yang dialokasikan untuk peningkatan manajemen pengelolaan sampah di TPA yang jumlahnya mencapai Rp 16,8 Miliar.
Dana untuk pelayanan pengangkutan sampah pun tidak bisa dibilang kecil. Mendapat alokasi dana sebesar Rp 10,7 Miliar, pelayanan pengangkutan sampah di Kota Depok tahun 2011 ternyata belum sesuai harapan.
Seperti telah diberitakan sebelummya, perkiraan volume sampah yang dihasilkan di Kota Depok dalam setiap harinya mencapai 4.250 m kubik.
Dari perkiraan volume tersebut, sampah yang terangkut ke TPA volumenya hanya 1.200 m kubik per hari. Sementara sampah yang di angkut ke UPS hanya 600 m kubik saja.
Jika dilihat dari angka diatas, artinya dalam satu hari, ada sekitar 2.450 m kubik sampah yang tidak tertangani.
"Sepanjang tahun 2011, sampah yang tertangani volumenya tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya (2010, red) karena jumlah armadanya juga tetap, yakni 57 armada truk", ungkap Rahmat menjelaskan. (ferry sinaga)
Bagaimana tidak. Dari target RPJMD Kota Depok, hingga tahun 2016 mendatang, rencananya Pemkot melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) akan membangun 100 unit hanggar UPS.
Jika sampai tahun 2011 lalu Pemkot Depok telah membangun 44 unit hanggar UPS, artinya hingga tahun 2016 mendatang, target yang harus dipenuhi tinggal 56 unit lagi.
"Saat ini, UPS yang sudah terbangun ada 44 unit. Jadi tinggal 56 unit lagi yang akan di bangun sesuai target RPJMD hingga tahun 2016 mendatang", ungkap Kepala Bidang Pelayanan Kebersihan di DKP, Rahmat Hidayat.
Dari data rekapitulasi belanja Organisasi Perangkat Daerah (OPD) APBD Kota Depok tahun 2011, diketahui bahwa untuk peningkatan manajemen pengelolaan persampahan, seperti pembangunan hanggar UPS, Pelaksanaan Pengolahan Sampah, Optimalisasi fungsi UPS, gerakan depok memilah, pengadaan mesin pengolah sampah dan penyusunan DED Pembangunan hanggar UPS, dana yang dialokasikan mencapai Rp 23,5 Miliar.
Belum lagi dana yang dialokasikan untuk peningkatan manajemen pengelolaan sampah di TPA yang jumlahnya mencapai Rp 16,8 Miliar.
Dana untuk pelayanan pengangkutan sampah pun tidak bisa dibilang kecil. Mendapat alokasi dana sebesar Rp 10,7 Miliar, pelayanan pengangkutan sampah di Kota Depok tahun 2011 ternyata belum sesuai harapan.
Seperti telah diberitakan sebelummya, perkiraan volume sampah yang dihasilkan di Kota Depok dalam setiap harinya mencapai 4.250 m kubik.
Dari perkiraan volume tersebut, sampah yang terangkut ke TPA volumenya hanya 1.200 m kubik per hari. Sementara sampah yang di angkut ke UPS hanya 600 m kubik saja.
Jika dilihat dari angka diatas, artinya dalam satu hari, ada sekitar 2.450 m kubik sampah yang tidak tertangani.
"Sepanjang tahun 2011, sampah yang tertangani volumenya tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya (2010, red) karena jumlah armadanya juga tetap, yakni 57 armada truk", ungkap Rahmat menjelaskan. (ferry sinaga)
Editor : Pak RW