Tanah Pengairan Diduga Jadi Ajang Bisnis Lendir, Kadis Mengaku Tidak Tahu.

suara-publik.com
Foto: Pendataan administrasi usai penggrebekan pasangan mesum.

Laporan : Anies Septivirawan

SITUBONDO, (suara-publik.com) - Sebuah lahan tanah yang di atasnya berdiri sebuah rumah kosong di dusun Kotakan Utara selama bertahun tahun diduga dijadikan ajang bisnis lendir alias esek-esek. Menurut salah satu warga setempat, rumah kosong tersebut diduga sering disewakan kepada pria berhidung belang yang sering membawa wanita tak berintegritas dengan harga sewa kamar berkisar 30 hingga 40 ribu sekali main.

Informasi yang dihimpun di lapangan, rumah kosong itu berdiri di atas tanah milik pengairan. Namun, kondisi yang dijadikan tempat mesum itu ditengarai sudah tersebar, hanya saja pihak-pihak terkait terkesan tutup mata. "Kegiatan mesum itu sudah bertahun tahun berlangsung, dan warga di sekitar sini sangat resah mas, dan akibatnya sering terjadi penggerebekan mas," ujar warga berinisial R kemarin. 

Puncaknya beberapa waktu lalu terjadi penggerebekan terhadap seorang oknum pegawai sebuah BUMN dengan wanita lokal desa itu. "Pria dan wanita itu menyewa kamar dan ketika digerebek mengaku telah kawin siri," tambah warga tadi. Meskipun telah digerebek oleh satuan Polisi Sabhara dan sejumlah warga, sepasang pelaku mesum itu tak ditahan namun hanya menulis pernyataan untuk tak mengulangi lagi.

Sementara itu ketika kepala Dinas PU Situbondo, H. Ir Gatot dikonfirmasi seputar kepemilikan status tanah yang diduga dijadikan tempat esek-esek mengaku tidak. "Soal tanah itu saya tak tahu apa itu milik pengairan kabupaten, Balai Besar atau apa milik pengairan pusat saya gak tau, mas,," ujarnya kemarin.

Editor : Redaksi

Birokrasi
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru