Jakarta, Suara-Publik.com - Sebanyak 200 personil pasukan marinir
Amerika Serikat telah tiba di Australia untuk berlatih bersama militer
Australia,sebagai gelombang pertama dari 2.500 pasukan yang direncanakan sampai
2017 mendatang,Rabu (4/4).
Kedatangan pasukan AS ini disambut hangat oleh Menteri Pertahanan Australia
Stephen Smith.
“Penempatan pasukan AS di Australia ini merupakan evolusi dari berbagai
kegiatan dan pelatihan angkatan bersenjata kedua negara dalam kerja sama
militer yang sudah dibuat sebelumnya,” jelas Smith (Swatt)
Penempatan pasukan AS ini menjadi babak baru dalam 60 tahun kerja sama
pertahanan antara Australia dengan AS. Rencananya AS akan menempatkan sebanyak
2.500 prajuritnya di Australia pada 2017 nanti. Penempatan ribuan pasukan AS di
Darwin ini menunjukkan pergeseran strategi global yang sangat signifikan.
Menanggapi pernyataan dan situasi tersebut, pemerintah Indonesia bereaksi
dengan mengirim nota protes kepada Pemerintah Australia dan AS dan meminta
penjelasan terkait rencana pembangunan pangkalan militer AS tersebut.Juru
bicara Menteri pertahanan Indonesia Brigadir Jendral Hartind Asrin berpendapat
sebaiknya pemerintah Australia dan AS menjelaskan apa tujuan pembangunan
pangkalan tersebut untuk menghindari kesalah pahaman.
Menyikapi hal tersebut diatas Lili Chadidjah Wahid Komisi I DPR RI,dengan tegas mengatakan,”walaupun tidak diakui oleh Dubes Amerika,saya berpendapat ada hubungannya dengan meningkatnya suhu politik di Indonesia,Asset perusahaan-perusahaan Amerika di Indonesia banyak,kalau terjadi pemakzulan Presiden sebagai akibat naiknya suhu politik,saya menduga pasukan Amerika akan masuk ke Papua untuk mengamankan Freeport,Caltex di Pakan Baru,Chevron di Jawa Tengah dan lain sebagainya,maka kita perlu waspada,”ungkap Lili saat di hubungi lewat telpon genggamnya.
Hal senada disampaikan oleh tokoh muda Nasionalis Nio Soeprapto, yang juga Ketua DPD DKI Jakarta Partai Pelopor, mengatakan bahwa pemerintah Indonesia harus berhati-hati dengan penempatan pasukan dari Amerika,
”karena ini kan sudah mendekati wilayah Indonesia,saya rasa wajar saja sebagai bangsa Indonesia kita perlu juga mempertanyakan keberadaan mereka,karena dikhawatirkan ini sebagai upaya penyususan strategi untuk masuk wilayah Indonesia dan tidak menutup kemungkinan akan menyerang Indonesia jika pertahanan kita untuk mempertahan kan Freeport,Caltex dan Chevron gagal,”ungkapnya.
“Jadi pemerintah dalam hal ini jangan menganggap sepele dan hanya mementingkan diri sendiri saja, saya pun menghimbau kepada SBY selaku Presiden Republik Indonesia untuk tidak selalu mengizinkan apa yang diinginkan oleh Pemerintah Amerika. Kami semua melihat akhir-akhir ini SBY pun terlalu banyak berbicara tentang Partai, Ketimbang memikirkan rakyat nya,SBY harus bersikap tegas, berpkir jernih jangan selalu manut,negara kita negara yang kaya semua potensi, saya sebagai masyarakat Indonesia sangat prihatin dengan apa yang telah terjadi dengan pemerintahan ini. Cobalah kita mulai benahi mulai dari diri sendiri, dan kembali ke moral, kita sudah terkoyak-koyak,dan para elit serta pejabat hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya saja,” imbuh Nio yang juga sebagai Ketua Umum Forum Reformasi Masyarakat Lenteng Agung (Formala).(Hesty)
Editor : Pak RW