suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Ingin Mengenal Seni Ludruk Lebih Dalam, Puti Guntur Sukarno Kunjungi Latihan Jula-Juli Ludruk Arboyo.

avatar suara-publik.com
  • URL berhasil dicopy

Surabaya, Suara Publik - Kamis malam, 12/3/2020, Puti Guntur Soekarno  mengunjungi latihan Kidungan Jula-Juli komunitas ludruk Arboyo di gedung GNI, jl. Bubutan no. 85-87, Surabaya. 

Pertama kali datang, Puti sempatkan terlebih dahulu sungkem ke makam pahlawan nasional dr. Soetomo, yang  lokasinya ada di area tersebut.

Setelahnya melakukan diskusi dan melihat langsung latihan kidungan jula-juli yang diperagakan oleh siswa binaan ludruk Arboyo, pimpinan Cak Lupus dan Cak Hengki.

“Untuk kenal Surabaya, ya harus kenal ludruk donk,” kata Puti, cucu Bung Karno ini.

Menurut Puti, kesenian ludruk harus mulai diangkat kembali. “Terima kasih bu Risma yang telah memberikan ruang latihan ludruk di pendopo Gedung GNI ini.  Yang sepengetahuan saya gedung ini juga punya nilai sejarah terhadap kesenian ludruk yang ada di Surabaya,” kata Mbak Puti, panggilan akrab anggota komisi X DPR RI Dapil Surabaya – Sidoarjo, dari Fraksi PDIP ini.

Ditengah diskusi, Puti mendapatkan telpon dari Guntur Soekarno Putra ayahandanya. Dalam telponnya (loudspeaker) Mas Guntur, Putra pertama Bung Karno, mengatakan sangat kangen sekali melihat pementasan ludruk, khususnya tari remo dan kidungan jula-juli ludruk Surabaya.

Mas Guntur juga ceritakan, Bung Karno hampir tiap 3 bulan sekali undang Ludruk Marhaen Surabaya tuk pentas di Istana. “Bung Karno sangat kagum dengan tari Remo,” kata Mas Guntur dalam telponnya.   

Mendengar itu secara spontan Cak Lupus beranjak berdiri dan melantunkan Kidungan Jula-Juli khas Arek Suroboyo. “Kidungan Jula-Juli merupakan ciri khas ludruk, tanpa kidungan juli-juli itu bukan ludruk,” terang Cak Lupus usai ngidung.

“Dan penari remo ludruk, juga harus bisa ngidung jula-juli,” tambah pendiri komunitas ludruk Arboyo, yang anggotanya banyak dari kalangan muda pelajar ini.

Selain itu sebagai seniman ludruk, Cak Lupus dan Cak Hengki, menyampaikan keprihatinan dan harapannya.

“Untuk saat ini animo masyarakat terhadap kesenian ludruk memamg tidak sebaik dulu. Namun ini merupakan tantangan bagi kami untuk terus melestarikan kesenian ludruk asli Surabaya. Karena dengan seni budaya, seperti ludruk ini, kita bisa bersatu dengan segala keaneka ragaman suku, agama yang dimiliki bangsa ini,” kata mereka bersemangat. (JP)

Editor :

Ukw pjs