suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Kapolres Bondowoso Membunuh Pemberontak

avatar suara-publik.com
  • URL berhasil dicopy

BONDOWOSO(suara-publik.com)-Kapolres Bondowoso, AKBP. M.Sabilul Alif, berhasil membunuh pemberontak, Ario Gledag, dengan Tombak tunggul Wulung. Kejadian ini hanya terjadi dalam drama kolosal memperingati Hari Jadi Bondowoso yang Ke-195. Drama yang mengisahkan babat alas Ki Ronggo, yang dperankan oleh Kapolres ini menceritakan cikal bakal Bondowoso.

Ribuan warga antusias menyaksikan jalannya cerita babat Bondowoso, adalah Kapolres Bondowoso berperan sebagai Ki bagus Asra, yang dibantu oleh beberapa perwira yang berperan sebagai Panglimanya dan sejumlah perwira polisi.

Dikisahkan dalam lakon drama itu, seorang anak angkat Bupati Besuki, Ronggo Kiai Suroadikusumo, yang diusulkan oleh Ki Patih Alus, agar Mas Astrotruno, putra angkatnya untuk mendirikan sebuah kerajaan kecil yang sekerang menjadi Keruhan Blindungan, yang didampingi oleh 4 orang asisten yaitu, Puspo Driyo, Jotirto, Wirotruno, dan Jiwo Truno, untuk membabat hutan belantara.

Kemudian berangkatlah Mas Astrotruno bersama Roro Sadiyah Istrinya, yang masih Putri Joyolelono, Bupati Probolinggo. Rombongan kecil itu  menerobos ke timur dan sampailah mereka di Dusun Wringin, melewati gerbang yang disebut Lawang Saketeng. Sementara desa-desa yang dilalui adalah Tanggulangin, Kupang, Poler, dan Mandiro, lalu menuju selatan di sebuah desa yang bernama Kademangan. Yang kemudian membangun sebuah pondok tempat peristirahatan di sebelah barat daya. (diperkirakan di Desa Nangkaan sekarang).

Kemudian dibangunlah senuah istana kecil di sebelah selatan sungai Blindungan, di sebelah barat Sungai Kijing, dan di sebelah utara Sungai Growongan (Nangkaan). Tempat itu kemudian dikenal sebagai Kabupaten Lama Blindungan, yang terletak kurang leih 400 meter di sebelah utara Alun-alun.

Kejadian yang bersejarah itu Ki Ronggo memperluas wilayahnya hingga Jember di bawah otoritas kekuasaannya. Kekuasaan Ki Ronggo Bondowoso meliputi wilayah Bondowoso dan Jember, dan berlangsung antara 1819-1830.

Pada saat itu Patih Puger merasa tersinggung karena wilayah kekuasaannya dibabat, ditebangi hutannya, lalu dijadikan sebuah kota baru yang diperintah oleh seorang Ronggo baru. Patih Puger sangat tidak menyetujui kebijaksanaan Pangeran Prawiroadiningrat dalam cara menjalankan pemerintahan.

Akhirnya Patih Puger mulai melakukan pemberontakan. Sebagai kesatria utamanya, diutus seorang kepala penyamun Ario Gledak, seorang yang ganas dan berani. Sasaran pertama adalah melumpuhkan kekuatan Pangeran Prawiroadiningrat di Bondowoso, yaitu menghadapi Ki Ronggo.

Keganasan dan kekejaman Ario Gledak hingga mengusai beberapa wilayah di Jember selatan, sehingga ingin memperluas wilayahnya hingga ke Bondowoso. Namun, ketika mendengar Ario Gledag mau menyerbu Bondowoso, Ki Ronggo telah mempersiapkan ribuan bala tentaranya untuk menghadangnya, didaerah Sentong. Pertempuran itu dipimpin sendiri oleh Ki Ronggo, dengan mengendarai kudanya.

Pertempuran sengitpun tak terelakkan, ratusan orang dari pasukan Ki Ronggo maupun Ario Gledag mati ditembus oleh pedang dan tombak, hingga akhirnya Ario Gledag mati ditangan Ki Ronggo (Sabilul Alif) dengan tombak pusaka yang bernama Tombak Tunggul Wulung

Setelah sukses dan maraih kemenangan, Ki Ronggo yang semakin hari semakin sepuh, apalagi setelah melihat putranya sudah anggap mampu untuk melajutkan perjuangannya, dan berencana untuk menyerahkan kekuasaannya kepada Putranya.

Pada 1830 Kiai Ronggo I mengundurkan diri dan kekuasaannya diserahkan kepada putra keduanya yang bernama Ki Djoko Sridin yang pada waktu itu menjabat Patih di Probolinggo. Jabatan baru itu dipangkunya antara 1830-1858 dengan gelar Mas Ngabehi Kertokusumo dengan predikat Ronggo II, berkedudukan di Blindungan sekarang, atau tepatnya di jalan S Yudodihardjo (Jalan Ki Ronggo) yang dikenal masyarakat sebagai Kabupaten Lama.

Setelah mengundurkan diri, Ronggo I (Mas Ngabehi Kerto­negoro) giat menekuni bidang dakwah agama Islam, kemudian mengembangkan pengaruhnya dengan bermukim di Kebundalem Tanggul Kuripan (Tanggul, Jember). Akhirnya Ronggo I wafat pada 19 Rabi’ulawal 1271 H atau 11 Desember 1854 dalam usia 110 tahun. Jenazahnya dikebumikan di sebuah bukit (Asta Tinggi) di Desa Sekarputih. Masyarakat Bondowoso menyebutnya sebagai Makam Ki Ronggo.

Kapolres Bondowoso, AKBP M.Sabilul Alif.SH.SIk, mengaku, bahwa peran tokoh Ki Ronggo yang dilakoninya, sangat mempengaruhinya. Sebab, sosok Ki Ronggo sebagai tokoh sentra sengat dirasakan dalam dirinya. Apalagi ia tidak pernah menyangka kalau dirinya dapat memerankan tokoh pendiri Bondowoso.

 “Peran ini merupakan kebanggaan bagi saya, dan saya tidak pernah menyangka bisa mampu menyedot pengunjung yang datang membludak sehingga saya sendiri merasa terharu dan bangga menjadi bagian dari masyarakat Bondowoso,” kata Kapolres.

Menurutnya, kejadian ini merupakan sejarah penting untuk selalu diingat oleh kita semua, karena mengingat perjuangan Ki Ronggo untuk menjadikan Kota Bondowoso menjadi seperti sekarang ini, penuh pengorbanan darah dan nyawa.

 “Untuk itu, saya hanya berpesan kepada seluruh warga masyarakat Bondowoso, agar selalu ingat dan meneruskan perjuangan pendiri Bondowoso ini, tentunya dengan meningkatkan sumberdaya manusianya yang kelak dapat mewarisi perjuangan Ki Ronggo. Dan saya berharap untuk tahun depan ada tokoh Bondowoso yang dapat memerankan Ki Ronggo menggantikan saya,” tegasnya. (her/mul)

 

 

Editor :