Salah satu tokoh masyarakat, Slamet Susilo kepada suara-publik.com mengaku, warga melakukan hal itu tidak ada niatan lain, kecuali hanya bertujuan untuk mempererat sillaturrohmi. “Anda tadi tahu sendiri kan, kami sebelum makan Ketupat juga berdoa terlebih dahulu. Momen seperti ini memang sangat langka, dan kami gunakan sebaik-baiknya bertemu dengan warga lainnya,” paparnya.
Awalnya, kata Slamet yang juga tokoh agama ini, sebelum bulan puasa dan pada bula Suro, warga memang sering menyambangi kuburan kerabat atau keluarganya. “Lalu sesuai kesepakatan bersama, kami menjadikan kebiasan ini sebagai ajang sillaturrohmi. Jika tidak bisa pada Jumat Kliwon, maka Jumat Wage menjadi hari pilihan warga,” ulasnya.
Mereka semua bukan orang lain, tetapi ahli waris yang ada di makam ini,” terang Slamet yang diamini kepala desa bersama warga lainnya.
“Warga membawa sendiri Ketupat tersebut dari rumah dan dimakan bersana-sama. Meski sangat sederhana, yang penting tetap kompak, dan saling menjaga kebersamaan serta kerukunan,” imbuh kepala desa, mengakhiri pembicaraan. (had)
Editor : Pak RW