suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Dokter Specialis Penyakit Dalam RSUD dr.Koesnadi Temukan Penyakit Langka Mematikan

avatar suara-publik.com
  • URL berhasil dicopy

BONDOWOSO, Suara Publik - Agus Jufriardi (30) warga Dusun Sumber Pinang RT 17, RW 07 Desa Kemirian Kecamatan Tamanan Kabupaten Bondowoso, saat ini sedang mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU Rumah Sakit Umum Daerah Koesnadi, Bondowoso, karena diduga mengidap penyakit langka.

Agus Jufiradi yang kesehariannya bekerja sebagai buruh di salah satu pabrik tahu di Kecamatan Tamanan ini, dinyatakan positif mengidap penyakit Leptospirosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira, setelah dilakukan pemeriksaan sampel darah ke dinas kesehatan Bondowoso.

Dokter specialis penyakit dalam, Yusdeni Lanasakti yang secara khusus merawat pasien mengemukakan, bahwasanya pasien mengalami keterlambatan diagnosa dan pengobatan, sehingga mengalami penyakit Leptospirosis berat, dan kecil kemungkinan pasien bisa tertolong karena sulit untuk diobati.

Penyakit ini disebar melalui urine atau darah hewan yang tercemar bakteri Leptospira. Bakteri Leptospira ini paling dominan ditularkan oleh Tikus. Hewan lainnya seperti Anjing, Babi, atau hewan ternak seperti Kambing dan Sapi, juga bisa menularkan tapi kemungkinannya kecil sekali,” kata Yusdeni Lanasakti, Kamis (20/4/2017)

Menurutnya, kalau pasien datang dengan tahap awal atau cepat ditemukan responnya pasti baik. tapi ketika pasien datang dengan keterlambatan diagnosa, keterlambatan pengobatan, mortalitasnya bisa 90 persen. “Karena itu susah sekali diobati,”kata dokter ahli ini.

Dia menambahkan, bakteri Leptospira pada urine tikus, saat masuk ke dalam tubuh akan bereaksi dan mengeluarkan racun yang mengakibatkan kegagalan multi organ.

“Jika racun yang dikeluarkan bakteri ini paling sering menyebabkan gagal ginjal. Ada juga gagal hati, radang otak dan peradangan pada otot jantung,”katanya.

Sehinga ia berharap kepada masyarakat harus waspada saat kontak langsung dengan Tikus, atau saat membersihkan tempat-tempat kotor yang menjadi sarang Tikus, seperti gorong-gorong atau selokan. Sebab, begitu menemukan ciri-ciri penyakit pada pasien pihaknya mencari tahu data riwayat pekerjaan pasien, dan ternyata pekerjaannya sering kontak dengan tikus.

“Bahkan pasien mengaku sering membersihkan gorong-gorong atau selokan yang memang menjadi sarang tikus,” terangnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, kasus Leptospirosis merupakan kasus pertama di Bondowoso. Sehingga, dr. Yusdeni mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai kontak langsung dengan tikus ataupun tempat-tempat kotor yang menjadi sarang hewan pengerat ini.

“Kalau boleh saya bilang, kasus ini pertama di Bondowoso, karena saya sempat menanyakan kepada dokter senior yang ada di RSUD Koesnadi, ini satu-satunya pemeriksaan darah yang positif Leptospira,” ujarnya.

          Kendati demikian, upaya antisipasi agar tidak tertular virus Leptospira, Yusdeni mengimbau kepada masyarakat untuk menghindari hewan Tikus. Jika masyarakat akan membersihkan tempat-tempat yang menjadi sarang tikus, hendaknya memproteksi diri dengan memakai sepatu boat atau pengaman lainnya, untuk menghindari air yang tercemar urine tikus yang mengandung bakteri Leptospira.

“Jika ada luka supaya ditutup, karena bakteri ini menembus kulit yang tidak utuh, dan kemudian masuk ke dalam peredaran darah yang berakibat fatal,” pungkasnya.(her)

Editor :