Jakarta, Suara-Publik.com – Komisi III DPR RI mengumumkan empat nama Pimpinan KPK periode 2011-2015. Keempat nama tersebut adalah, Bambang Widjojanto, Abraham Samad, Adnan Pandu Pradja, dan Zulkarnaen. Dari keempatnya, Abraham kemudian yang terpilih menjadi Ketua. Ketua KPK terpilih Abraham Samad berjanji akan menuntaskan semua kasus korupsi kelas kakap. Hal ini ditujukan untuk memenuhi ekspektasi masyarakat soal keberadaan KPK di Tanah Air.
"Kita selesaikan kasus besar, semua kasus besar yang memenuhi kriteria, dan sudah masuk ke tahap penyidikan akan kita tuntaskan," ujar Abraham Samad kepada Metro Tv di Jakarta, Jumat (2/12/2011).
Ia mengatakan, KPK sepatutnya menjadi lembaga pemberhangus tindak pidana korupsi kelas kakap lantaran infrastruktur KPK yang tidak terlalu kuat. Untuk itu dibutuhkan skala prioritas dalam penanganan tindak pidana korupsi di Indonesia. "Kalau menjangkau semua nanti akan kehabisan energi," ungkapnya.
Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menjelaskan, ada tiga hal yang akan dijalani dirinya saat menjadi komisioner KPK. Menurutnya, langkah pertama KPK perlu membuat indikator perihal tindak pidana korupsi sehingga bisa termasuk dalam kategori korupsi kakap. Kedua, KPK pun perlu membuat tugas khusus terhadap penanganan korupsi yang menjadi prioritas KPK. "Dan ketiga, harus ada limit waktu," imbuhnya.
seperti banyak perkiraan orang Bambang Widjoyanto akhirnya terpilih jadi Pimpinan KPK. Walau tidak menjadi Ketua KPK, namun masuknya Bambang diharap banyak orrang untuk mengubah Image KPK yang mulai luntur dengan berbagai kejadian dimasa lalu. Untuk memperlancar tugasnya sebagai pimpinan KPK yang baru, Bambang berencana akan sowan atau silaturahmi bertemu empat pimpinan KPK seperti Bibit Samad Riyanto, Chandra Hamzah, M. Jasin dan Haryono Umar.
Pertemuan itu
rencananya akan dilakukan setelah paripurna DPR mengesahkan empat pimpinan KPK
terpilih. "Kayaknya pascaparipurna ketemunya," ujar Bambang saat
ditemui di kediamannnya Kampung Bojong Lio, Depok Timur, Sabtu (3/12/2011).
Menurut Bambang pertemuan itu dirasa penting dilakukan agar dirinya beserta
komisioner KPK terpilih lainnya bisa mengetahui progres-progres kasus yang
ditangani.
"Penyelesaian kasus-kasus saya berharap betul dengan pimpinan sekarang
ini, menjelaskan progres-progres mengenai perhatian kasus-kasus, apakah ada
problem mengenai soal pembuktian, apakah ada problem pembuktian dengan begitu
baru dirumuskan treatment-treatment yang akan kita lakukan nanti,"
jelasnya.
Dengan begitu, kata Bambang penjelasan-penjelasan secara spesifik dan bagaimana
cara menangani kasus-kasus dapat dengan mudah untuk dilakukan.
"Kalau mau jujur kita mau progress yang dihasilkan kalau sudah tahu bisa
membuat pernyataan kita lebih spesifik, problemnya harus dipelajari,"
tegas Bambang.
Istri Bambang Widjojanto, Sari Indra Dewi berharap dengan terpilihnya Bambang menjadi pimpinan KPK tidak mengubah kebiasaan suaminya untuk tetap naik ojek ataupun menggunakan moda transportasi lainnya
"Keluarganya pun meminta agar Bambang tidak pindah bila diberikan rumah dinas. Saya tetap ingin mas Bambang apa adanya selama ini," ujar Dewi yang ditemui di rumahnya, Jalan Kampung Bojong Lio RT 01/28 Kelurahan Cilodong, Kecamatan Sukmajaya, Depok Timur, Jumat (2/12/2011).
Mengenai tersitanya waktu untuk keluarga setelah Bambang Widjojanto terpilih, Dewi mengatakan hal itu telah dibicarakan semenjak suami mendatarkan kembali menjadi pimpinan KPK.
"Kami sudah terbiasa dengan aktivitasnya yang padat dan itu konsekuensi yang sudah didiskusikan," katanya.
Sementara, tukang ojek langganan Bambang Widjojanto, Rosyid mengaku bersyukur sekaligus kecewa atas hasil voting Komisi III DPR.
"Bersyukur karena pak Bambang terpilih jadi pimpinan KPK tapi kecewa karena tidak terpilih menjadi ketua KPK," imbuhnya. Rosyid berharap langganannya itu dapat mengembangkan KPK dan menindak para koruptor tanpa pandang bulu. Ia juga mengharapkan agar Bambang tetap seperi biasa dengan kepribadian yang bersahaja. "Semoga Pak Bambang tetap mau naik ojek saya," katanya sambil tersenyum.
Sementara itu, Ketua DPP Partai Hanura Yuddy Chrisnandi mempertanyakan
keputusan Komisi III DPR RI
yang tidak memilih Abdullah Hehamahua sebagai salah satu pimpinan KPK.
"Sayang sekali orang sebaik Abdullah Hehamahua yang dikenal bersih dan
memiliki integritas pribadi yang terjaga, harus tersingkir," kata Yuddy,
Sabtu (3/12/2011).
Pertanyaannya, kata Yuddy, apakah DPR tidak suka pada orang yang 'lurus' dan
benar-benar bersih yang bertekad membongkar korupsi tanpa tedeng aling-aling?
Seperti diketahui dalam pemilihan pimpinan KPK kemarin siang, Komisi III DPR
memutuskan tidak memilih Hehamahua. Komisi III menilai Hehamahua selama
menjabat sebagai penasihat KPK empat tahun terakhir tidak memberikan kinerja
memuaskan.
Hasil voting Komisi III memperlihatkan Hehamahua hanya mendapat dua suara. Adapun Handoyo, rekan Hehamahua di KPK, yang kini menjabat Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat KPK tak mendapat dukungan sama sekali. Abdullah Hehamahua, satu dari empat calon pimpinan KPK yang kandas di tangan anggota Komisi III mengaku tak kecewa dengan kegagalannya menjadi suksesor Chandra M Hamzah Cs.
"Saya tidak kecewa. Untuk apa saya harus kecewa? Kan saya sudah bilang,
sejak awal saya sudah duga DPR tak akan pilih saya," ujarnya kepada
Tribun, Sabtu (3/12/2011).
Menurut Abdullah, tak masalah dirinya tak dipilih cukup banyak anggota Komisi
III DPR pada pemilihan Jumat (2/12/2011) kemarin. Yang penting, katanya, dia
sudah mengingatkan para anggota dewan yang terhormat itu jika mereka harus mempertanggungjawabkan
pilihan yang mereka ambil kemarin.
"Yang penting saya sudah ingatkan bahwa setiap pilihan mereka akan
dipertanggungjawabkan dunia akhirat," ucapnya. (kus-tribun-hesti)
Editor : Pak RW