suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Aparat Hukum "Keder" Usut Pejabat yang Disebut

avatar suara-publik.com
  • URL berhasil dicopy
Siapakah Santi Tersangka kasus penipuan penerimaan CPNS? 
 
Heboh..!! Sosok Elizabeth Susanti atau lebih dikenal dengan sebutan Santi dikalangan tertentu, sontak mencuri perhatian publik khususnya Surabaya, Jawa Timur saat dirinya "bernyanyi" soal keterlibatan Pejabat Pemprop yang tak lain adalah orang kepercayaan Gubernur Jatim sendiri. Siapa lagi kalau bukan Sekdaprov Jatim, Rasiyo serta beberapa Politisi yang duduk di kursi DPRD Jatim. "Nyanyiannya" yang ceplas ceplos membuat "meradang" banyak Pejabat. Baik eksekutif maupun Legislatif, baik Pusat maupun daerah. Bisa dimaklumi jika banyak pejabat yang tidak mengenal dengan nama Elizabeth Susanti, bagaimana jika dengan nama pendeknya, Santi mantan Tim Sukses Soekarwo di Pilgub Jatim.?? Meski demikian,Santi yang kini telah berada di Rutan Medaeng mendapat dukungan dari kelompok yang mengatasnamakan diri East Java Coruption Wacth Organisation (EJCWO) untuk segera membuka semua nama yang terlibat dalam modusnya, dengan menggelar aksi yang melibatkan puluhan anggotanya.
 
SURABAYA- Tersangka kasus penipuan penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), Santi, rupanya bakal hanya “ditemani” mantan “suaminya” Hartoyo.Tampaknya kasus penipuan perekrutan CPNS ini bakal “berhenti” hanya sampai pada Ketua Kepemudaan dan Kemasyarakatan (OKK) DPD Partai Demokrat Jatim ini.
 
Posisi para mantan Tim Sukses Soekarwo pada waktu Pilgub Jatim ini semakin terdesak, apalagi pihak Rasiyo yang “diseret” Santi (Elizabeth Susanti) terkait kasus ini memberikan conferensi pers bahwa dirinya (Rasio) tidak terlibat. Didampingi kuasa hukumnya, Moch Arifin SH dan Kepala Biro Hukum Setdaprov Jatim Supriyanto, mantan kepala Dinas Pendidikan Jatim ini membagikan lembaran surat pernyataan dari Elizabet yang berisi pengakuan tertulis.
 
Didalam Surat Pernyataan tulisan tangan itu, Elizabeth menyatakan bila dirinya tidak pernah menyerahkan uang hasil menipu para pelamar CPNS dalam bentuk apapun, baik secara langsung atau tidak langsung kepada Rasiyo. “Surat pernyataan ini ditulis sendiri oleh Saudari Elizabeth tanpa tekanan dan paksaan dari pihak manapun. Dengan ini, segala tuduhan yang selama ini dialamatkan kepada klien saya, Pak Rasiyo sama sekali tidak benar. Ketika saya tanyakan langsung, Elizabeth mengakui bahwa Pak Rasiyo tidak terlibat,”papar pengacara pribadi sekdaprov itu saat pers rilis dengan wartawan di ruang Kadiri, Pemprov Jatim, Kamis (19/1).
 
Bantahan yang disampaikan dalam waktu hampir bersamaan, serta kesamaan materi bantahan itu memunculkan dugaan, bahwa dua pihak yang dituding terlibat dalam skandal penerimaan CPNS tersebut sengaja mengorbankan Hartoyo. Tujuannya tak lain adalah untuk menyelamatkan Sekdakprov Rasiyo dan 11 anggota DPRD Jatim yang namanya disebut didalam testimoni yang ditulis tersangka Elizabeth beberapa waktu lalu.
 
Sekedar diketahui Berikut Testimoni Elizabeth Susanti yang dia bagikan kepada wartawan sebelum pernyataan yang disampaiakan pihak Rasiyo: Kasus CPNS ini berawal dari pertemuan tertutup di hotel Sheraton Surabaya pada bulan Mei 2009, yang dihadiri oleh Sekda Prov Jatim Bapak DR Rasio, Hartoyo (mantan suami) yang merupakan ketua OKK Partai Demokrat Jatim dan juga ketua LSM saya Laskar Cinta SBY. Di situ bapak Rasio selaku Sekda Prov yang baru menjabat memerintahkan kepada saya dan mantan suami saya, Hartoyo untuk mencari orang-orang yang akan masuk jadi pegawai CPNS di provinsi Jatim.
 
Dan setelah pertemuan tersebut, Hartoyo mantan suami saya membuat surat perjanjian yang diberikan kepada peserta yang akan mengikuti penerimaan CPNS provinsi Jawa Timur.
Waktu terus bergulir, sekitar bulan Mei 2009 mulai banyak peserta CPNS yang mandaftar melalui koordinatornya masing-masing. Dari koordinator tersebut dana peserta saya terima lalu saya serahkan ke Hartoyo mantan suami saya. Kemudian dari Hartoyo dana dan berkas langsung diserahkan pada bapak Rasiyo selaku Sekda Prov Jatim.
 
Pertemuan selanjutnya terjadi pada bulan September 2009 tetap di Hotel Sheraton Surabaya, dan kali ini selain dihadiri bapak DR Rasio dan istri mudanya yang bernama Ida Aryani juga dihadiri Hartoyo dan saya sendiri.
Dan yang tidak kalah penting dihadiri oleh 11 anggota DPRD Jatim Fraksi Demokrat yaitu:
1. Agus Dono
2. Heri Prasetyo
3. Suhartin
4. Ferial Natalia
5. Dini Riyanti
6. Lilik, selaku ketua ketua fraksi Demokrat DPRD Jatim
7. Sugiri Sancoko
8. Sunardi, selaku ketua DPRD Jatim
9. Ibu Anti
10. Bapak Sutoyo (alm)
11. Marisi
 
Dan di situlah disepakati jumlah kuota yang bisa lolos sebagai CPNS Jatim. Waktu terus berlanjut dan semakin banyak yang ikut dan semua dana dari peserta yang masuk saya serahkan full pada Hartoyo mantan suami saya. Menurut mantan suami saya, selain dari dana tersebut diserahkan kepada bapak Rasiyo, juga dibagi kepada 10 anggota DPRD Jatim, hanya 1 orang yang tidak menerima yaitu (Alm) bapak Sutoyo karena bapak Sutoyo 10 hari setelah itu meninggal dunia di Jakarta. Pada kenyataannya, sampai akhir tahun 2009 proyek ini belum menampakkan hasil. Malah pada awal 2010 Rasiyo memerintahkan saya dan Hartoyo untuk meminta pada para peserta CPNS untuk melunasi dan semuanya sudah dilunasi dan tidak ada yang tidak membayar. Namun beberapa kali SK yang dijanjikan tidak turun-turun. Lalu saya yang dikejar-kejar oleh koordinator karena mereka juga dikejar para peserta.
Namun setiap saya lapor pada Rasiyo selaku penanggungjawab proyek ini, beliau selalu biang sabar dan sabar. Apalagi 10 anggota DPRD Jatim dari Fraksi Demokrat yang terlibat sepertinya mau lepas tanggungjawab.
Di sini saya juga akan menjelaskan bahwa HUT 1 yang dilakukan secara besar-besaran LSM saya yaitu LSM Laskar Cinta SBY bukan saya dapat dari proyek CPNS ini, melainkan sumbangan dari para donatur sahabat saya di Jakarta yang banyak saya bantu waktu saya menjabat sebagai sekretaris pribadi mantan Presiden Alm. KH. Abdurrahman Wahid.
Kembali ke pokok permasalahan kasus CPNS ini lama kelamaan desakan peserta ini semakin keras sampai akhirnya kasus Ahmadi meletus dan Ahmadi tertangkap dan karena Bapak Rasiyo panik dan ketakutan meminta saya dan memberi uang saya untuk sembunyi di Hotel Ibis, Semarang.
Namun karena saya merasa kasihan dengan para koordinator saya dengan para koordinator yang didesak peserta maka saya pulang ke Surabaya, sampai akhirnya kasus perebutan anak antara mantan suami saya Nandar dan keluarga saya akhirnya saya tertangkap.
Begitu sampai di Polrestabes, Rasiyo melalui Hartoyo berpesan kepada saya agar tidak membuka kasus ini dengan kompensasi sejumlah uang, namun sampai detik ini dana yang dijanjikan tersebut tidak sampai kepada saya malah dibawa Hartoyo.
Demikianlah testimoni yang saya buat. Harapan saya agar kasus yang telah merugikan rakyat kecil miliaran rupiah bisa terungkap dengan jelas siapa otak dan dalangnya. Usut tuntas keterlibatan Rasio, Hartoyo dan ke sepuluh anggota DPRD Jatim.
 
Terpisah saat rasiyo dikonfirmasi mengelak keras atas tuduhan Santi (seperti yang disebut Santi dalam testimoni pertama). Rasiyo juga mengatakan hal tersebut sangat tidak masuk akal. “Ya jelas tidak masuk akal mas dengan jabatan yang saya emban jika sampai melakukan hal konyol seperti itu. Elizabet itu ngawur dan plin plan orangnya. Lihat aja nanti siapa yang benar akan terungkap,” ungkapnya saat ditemui Suara Publik dikantornya Jl. Pahlawan.
 
Sempat menjadi pertanyaan Suara Publik saat berpapasan dengan kedua anggota DPRD I Jatim di ruangan Rasiyo, disaat gencar-gencarnya pemberitaan Mantan Kadis P&K Jatim ini. Namun saat ditanya agenda pertemuanya. Salah satu anggota Dewan ini menjawab, bahwa kedatangannya untuk menanyakan agenda Kedatangan Presiden (waktu itu). 

Dukungan Moral ECJWO 
Langkah East Java Coruption Wacth Organisation (ECJWO) menggelar aksi demo untuk memberikan dukungan moral kepada Elizabeth  tersangaka penipuan penerimaan CPNS , berawal dari rasa keprihatinannya terhadap nasib masyarakat Jatim yang dianggap telah ditipu oleh sistem penerimaannya. 
 
Seperti yang telah diketahui khalayak, bahwa ribuan masyarakat yang datang dari berbagai daerah Jawa Timur berbondong-bondong untuk berharap diterima menjadi PNS dengan mengikuti rangakaian testingnya. Sayangnya belakangan terbongkar bahwa testing yang dilakukan hanya formalitas karena ternyata bisa melalui jalur ilegal dengan membayar dana tertentu kepada sejumlah oknum yang tentu melalui pihak ketiga seperti Elizabeth. “Kami minta kepada aparat hukum agar membuka kasus ini benar-benar gambalang dan tuntas, penjarakan siapapun yang terlibat didalamnya, terutama pejabat dan politisi busuk yang pernah disebut-sebut Eizabeth” teriak sang orator di depan Rutan Medaeng (26/1/12).
 
Akhirnya empat perwakilan yang dikomandani Miko Saleh  ketu EJCWO dipersilahkan masuk oleh Agus Karutan Medaeng untuk bertemu langsung dengan Elizabeth di dalam selnya. “Atas nama rakayat jatim yang telah menangis karena telah tertipu oleh proses penerimaan CPNS, kami EJCWO  akan memberikan suport moral kepada Elizabeth agar tidak lagi takut untuk membuka nama-nama pejabat dan politisi yang terlibat dalam modusnya” terang Miko Saleh.
 
Sementara Agus Karutan  Medaeng  yang masih merasa kaget atas kedatangan para aksi di depan kantornya mengatakan bahwa dirinya tetap akan menerima dan bekerjasama dengan siapapun asal tujuannya baik. “Kami berusaha bekerjasama dengan siapapun, namun karena tempat kami adalah rutan, maka harus mengikuti aturan yang tertuang dalam protab kami” ucap Agus Karutan Medaeng. Disinggung soal lolosnya salah satu wartawan harian lokal Surabaya yang berhasil mewawancari Elizabeth, Agus Menjelaskan bahwa petugasnya di perdayai oleh kuasa hukumnya yang sedang membesuk, tetapi mengajak seseorang yang diakui sebagai anggotanya.
 
“Ya itu karena petugas kami diperdayai oleh kuasa hukum Elizabeth yang kami ijinkan menemui untuk kepentingan hukum, ternyata malah mengajak seseorang yang ternyata adalah wartawan itu, kalau kami tahu, pasti kami larang, karena dalam protab memang tidak dibenarkan mewawancari penghuni rutan di dalam selnya” imbuh Agus.
 
Karena perwakilan masa merasa telah diterima dengan baik dengan petugas Rutan Medaeng, akhirnya merekapun membubarkan diri dengan tertib setelah semua misinya tersampaikan. hans,Cox,Li

Editor :