Di Kawasan Driyorejo Gresik dan sekitarnya, pasti banyak yang mengenal sosok Mbah Marali. Meski badannya kurus kering, dan giginya hampir ompong karena dimakan usia, namun semangat kerja Mbah Marali, tak kalah dengan pemuda usia puluhan tahun. Tapi siapa sangaka, Petani yang juga berprofesi sebagai Tukang Tambal Ban ini, ternyata dulunya adalah mantan pejuang.
Menurut kakek berusia 84 tahun ini, dulu pemimpinnya dikenal dengan sebutan Pak Jenggot, namun ketika ditanya nama asli dari Pak Jenggot, ia mengaku lupa. “Pak Jenggot niku Pimpinan kulo di Kodam Brawijaya. Kulo namung sekedik-sekedik mawon tumut perang, terakhir wonten daerah Perning (Pak Jenggot itu Pimpinan saya di Kodam Brawijaya. Saya hanya sedikit-sedikit saja ikut perang, terakhir di daerah Perning),” ungkapnya merendah.
Perlu diketahui, di daerah Perning memang masih nampak beberapa bangunan kuno yang mempunyai nilai sejarah. Sayangnya, upaya pemda setempat kurang serius untuk menjaga kawasan yang termasuk cagar budaya tersebut. Terbukti, sebagian dari bangunan tersebut hampir musnah, karena dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Setelah perang usai, Marali memulai kehidupan barunya sebagai petani. Kakek yang mempunyai Dua orang anak dan beberapa cucu ini sama sekali tidak pernah mendapat penghargaan/apresiasi dari pemerintah, setelah sekian lama ikut berjuang. “Kersani. Kulo niki tiang bodoh, mboten sumerap ngoten niku (Biar saja. Saya ini orang bodoh, tidak tahu soal itu),” ujarnya polos, sembari memasukkan ban ke dalam air, untuk memastikan ban yang ditambalnya tidak bocor lagi.
Tetapi boleh dibilang, semasa mudanya Marali termasuk pria yang suka humor, serta doyan kawin. “Lha niku simah enten ping Gangsal, kulo niki sing terakhir,” sahut istri Marali yang dari tadi menyimak cerita suaminya, sementara dengan tersipu malu, Marali mengiyakan ucapan istrinya.
Editor : Pak RW