suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Kampanye "Berkedok" Kunker Makan APBD, Bukti Arogansi Bupati Bondowoso

avatar suara-publik.com
  • URL berhasil dicopy

Deklarasi peserta pemilu kepala daerah, nama calon Aswaja berlangsung sangat meriah. Pada 26 Januari 2013 lalu, seluruh komponen mulai dari pejabat pemkab hingga perangkat desa ikut terlibat aktif menggalang masa untuk hadir pada deklarasi. Sehingga ribuan orang tumplek blek di alun-alun Ki Bagus Asra Bondowoso.

 

BONDOWOSO – Kampanye pasangan Aswaja/incumbent (Bupati Bondowoso) dinilai sangat arogansi. Sebab, para camat dan kepala desa se-Kabupaten Bondowoso dipaksa untuk mengirim masyarakatnya ke alun-alun. Belum lagi, bupati sering berkampanye yang dikemas dalam bentuk kunker dananya bersumber dari APBD.

Sebagian masyarakat menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh incumbent hanya demi mempertahankan kekuasaan agar langgeng jadi penguasa, walaupun banyak aturan yang dilanggar, seperti memobilisasi aparat pemerintah untuk mendukung dirinya.

Seain itu, Bupati Bondowoso terang-terangan melakukan kampanye yang dikemas kenjungan kerja ke tiap-tiap kecamatan. Dengan tidak merasa salah telah melanggar peraturan dan perundangan meneriakkan yel-yel.Padahal kegiatan kunker tersebut dananya bersumber APBD.

Terkait dengan deklarasi dan kunker bupati, Ketua DPD P2KN JATIM As’ad Widodo kepada sejumlah wartawan menyatakan, bahwa cara-cara yang dilakukan oleh calon incumbent politiknya sangat tidak demokratis dan tidak mendidik. Menurutnya ini bentuk ketakutan untuk menerima kekalahan dari rival politiknya yang lain.

Saya hanya berharap kepada calon incumbent agar tidak melibatkan aparat pemerintah mulai dari tingkat kabupaten hingga ke perangkat desa,” ujarnya kepada sejumlah wartawan di kantornya Rabu (30/1).

Masih As’ad, jika kegiatan semacam itu tetap dilakukan, akan menimbulkan preseden buruk bagi kepentingan demokrasi di Indonesia, khususnya di Kabupaten Bondowoso. Sebab, pemaksaan dan intimidasi yang dilaukan oleh aparat pemerintah kepada masyarakat untuk mendukung incumbent adalah merupakan gaya-gaya rezim ordebaru karena caranya sangat tidak mendidik,” ujarnya.

Ditambahkan pula, “Kalau sudah seperti ini caranya, bagaimana jika terpilih nanti, mau dijadikan apa pemerintahan ini, apa mau kembali kepada sistem kerajaan?” pungkasnya q her

 

 

Editor :