Senin malam 13 Mei 2013, atau 4 Rajab 1424 H, genap 40 hari berpulangnya almarhum, R. Moh. Sjarifudin Miftah Bin Miftahol Abidin atau akrab disapa Gus Udin. Bacaan Surat Yasin dan Tahlil menggema di Perumahan Geriya Permata Hijau M/15, Candi-Sidoarjo, guna mengenang sosok yang semasa hidupnya pantang menyerah dalam mensyiarkan Islam melalui syair-syairnya.
Acara tersebut dipimpin langsung oleh Kyai H. Sjaichul Ghulam Bin Muqodas Said dari Ponpes Hasbunallah, Lawang-Malang. Setelah membaca Surat Yasin dan Tahlil, Kyai yang dikenal sangat low profil dan unik, yang sering dipanggil dengan sebutan Abi ini, sempat menceritakan sedikit tentang almarhum. Menurutnya, Gus Udin adalah termasuk salah satu santri kepercayaannya. “Saya suka dengan perjuangan Gus Udin yang pantang menyerah,” tutur Abi.
Sekedar diketahui, Gus Udin adalah kelahiran Pamekasan-Madura pada 12 September 1959. Sejak menginjak SMU, ia sudah berhijrah ke Surabaya. Di Kota Pahlawan inilah, Gus yang dipanggil dengan nama Ayik di lingkungan keluarganya ini, mulai aktif dalam organisasi kepemudaan dan kesenian.
Sekitar tahun 80-an, karir Ayik semakin menanjak, mulai mengikuti lomba baca puisi tingkat kelurahan, hingga tingkat nasional. Banyak prestasi yang diraihnya selama ia mengikuti lomba baca puisi, bahkan karena seringnya menjadi juara, Ayik sempat diminta membaca puisi di Taman Ismail Marzuki, berdampingan dengan aktor Dedy Mizwar. Selanjutnya, Ayik tidak lagi menjadi peserta lomba baca puisi, namun malah didaulat untuk menjadi dewan juri.
Pertemuan Ayik dengan seorang wanita bernama Wiwin Winarti, yang kini menjadi istrinya, juga tidak lepas dari puisi. Bahkan setelah mereka menikah, dan dikaruniai 3 orang anak, juga tetap masih aktif melantunkan syairnya, bahkan sering berduet bareng dengan Ke tiga anaknya tersebut.
Menginjak usia 30 tahun, tepatnya pada tahun 1990, Ayik baru mengenal Abi. Saat itu Ayik menimba ilmu kepada sang Guru mengenai Islam, sekaligus ikut menyebarkan Islam di wilayah sebelah Barat, dengan sasaran dakwah terutama untuk mengurangi kenakalan remaja. Sementara di wilayah Kapasan dan sekitarnya, Abi mempercayakan kepada Gus Rudi, wilayah Ampel dan sekitarnya kepada Gus Rahman (sudah meninggal beberapa tahun lalu), dan daerah Pengampon dan sekitarnya dipercayakan kepada Gus Suja’. Dan sejak saat itu, Mas Ayik atau Gus Udin sering berdakwah dengan gayanya yang cukup khas, yakni bersyair dan bersyiar.
Selain itu, Gus Udin juga pernah dipercaya untuk membina peserta MTQ dari Jatim untuk tingkat Nasional, dalam bidang Musabaqoh Syahril Quran (MSQ) bersama almarhum Kepala Bidang Penais Depag Jatim, A. Achin. Hingga Gus Udin dipercaya untuk pembina MSQ, pada kegiatan MSQ di Jatim.
Setelah merayakan ulang tahun pernikahannya yang ke-27, Gus Udin akhirnya menghadap kepada Sang Maha Pencipta, Alloh SWT, pada 5 April 2013. “Selamat jalan Ayah/Guru/Teman! Semoga amal dan ibadahmu diterima di sisihNYA. Kami akan selalu mengenang perjuanganmu dalam mensyiarkan Islam,” demikian yang diucapkan oleh keluarga, kerabat, teman seniman, para santri dan simpatisan lainnya. foto: Almarhum Gus Udin
Editor : Pak RW