Telasen Topa adalah bahasa Madura yang artinya Lebaran Ketupat. Tradisi ini biasanya diadakan Satu Minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Di Desa Parseh, Jeddih dan Bilaporah, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, siang tadi masyarakatnya merayakan Telasen Topa dengan cara mengadakan parade Cikar, Dokar dan mobil yang telah dihias. Acara ini bertajuk Pesta Rakyat, Parade Kendaraan Hias Tradisional.
BANGKALAN (suara-publik.com)- Tradisi yang sudah ada sejak tahun 1950-an ini bertujuan untuk melestarikan budaya daerah. Selain itu, warga yang selama ini bekerja di luar daerah, sengaja memanfaatkan pesta rakyat itu sebagai ajang silaturrahmi dan mempererat persaudaraan.
Ketua Panitia Telasen Topa, M. Abbas kepada suara-publik.com (Suara Publik Grup) membenarkan, acara ini sebagai ungkapan rasa syukur dan bertujuan untuk mempererat tali silaturrahmi, sekaligus memberikan contoh kepada generasi muda untuk ikut melestarikan budaya daerah mereka.
Choirul Anam, salah satu Panitia Pesta Rakyat ini terlihat cukup senang dan terharu dengan acara yang diselenggarakan setiap setahun sekali ini. “Semua kerabat atau teman yang berada atau bekerja di luar daerah banyak yang datang. Mereka senang bisa bernostalgia dan bercanda ria,” paparnya.
Lanjutnya, “Atas nama warga dan panitia, kami menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada Polsek Socah dan petugas lainnya yang telah berpatisipasi dalam acara ini, sehingga dapat berjalan dengan lancar,” akunya.
Pria berusia 43 tahun ini mengisahkan, dulu warga menggunakan Cikar yang ditarik dengan Sapi sebagai sarana angkutan. “Mereka merasa bersyukur dengan hasil yang didapatkan, sehingga setiap setahun sekali mengadakan parade Cikar dan Dokar yang telah dihias,” tandasnya.
Namun, imbuhnya, seiring dengan perkembangan jaman, maka sekarang sudah menggunakan mobil. “Maka jangan heran, mobil juga dihias,” celetuknya setengah bercanda.
Di sela-sela acara itu, A. Roni, salah satu warga Surabaya yang kebetulan ikut menonton pesta rakyat ini menjelaskan, biasanya kaum wanita saat bulan Ramadhan ada yang berhalangan menjalankan ibadah puasa, (karena datang bulan).
“Setelah lebaran mereka membayarnya, dan sebagai rasa syukur pada hari ke Tujuh, mereka membuat Ketupat (Topa). Ini mitos yang pernah saya dengar,” ungkapnya.
Acara bertambah seru, karena dimeriahkan dengan hiburan live musik dan penyerahan hadiah bagi pemenang kendaraan hias, serta salah satu peserta parade hias yang lihai dalam beratraksi dengan kudanya. (dai)
Editor : Pak RW