Rawan Banjir dan Membahayakan Pengguna Jalan
SURABAYA (suara-publik.com)-Minimal selama 9 bulan ke depan wilayah Balongsari dipastikan tidak aman. Belakangan ini saja terbukti banyak kendaraan roda Dua tergelincir karena jalan yang licin,pengendara maupun maupun pejalan kaki terperosok ke lubang bekas galian dan rawan banjir. Hal ini disebabkan dampak pembuatan saluran dan pemasangan U-Gutter yang diduga menyalahi spek serta mangkrak.
Fakta di lapangan menemukan, pengerjaan saluran dan pemasangan U-Gutter ini dikerjakan dengan cara yang tidak profesional dan menyimpang dari ketentuan. Terbukti, pemasangan U-Gutter di depan Kantor Koramil Balongsari nampak renggang dan bergelombang. Selain itu, jalan aspal juga retak dan pecah. Dikuatirkan, jalan tersebut akan ambrol jika dilewati oleh mobil besar.
Bahkan banyak lubang di sisih kanan dan kiri U-Gutter yang mestinya harus diurug dengan sirtu, tetapi diurug dengan kayu, bambu, sampah dan tanah liat. Sehingga jika turun hujan,tanah liat tersebut akan habis karena menyusut.
Di akhir tahun 2013, diadakan rapat RT, RW se-Kelurahan Balongsari, LKMK dan Lurah Balongsari. Salah satu materi yang dibahas dalam rapat tersebut adalah dampak pemasangan U-Gutter. Beberapa Ketua RT dan RW mengeluhkan dampak proyek senilai milyaran tersebut, yang malah menimbulkan rawan banjir. Karena saluran lama makin mengecil dan kini tidak berfungsi.
Kekuatiran para Ketua RT dan RW ini akhirnya terbukti. Di awal tahun 2014,di Balongsari sudah Dua kali dilanda banjir. Padahal, saat itu hanya terjadi hujan selama kurang lebih Satu jam.
Anwar, warga Driyorejo Gresik mengaku ban motor depan kendaraannya terperosok ke lubang bekas galian. “Waktu itu banjir, saya melewati jalan di Balongsari dan ban sepeda motor saya terperosok di lubang,” akunya.
Tidak hanya Anwar, seorang wartawan koran harian lokal juga mengaku sempat tergelincir ketika bersama istrinya melintas di sekitar pemasangan U-Gutter. “Tanah bekas urugkan meluber ke jalan dan membahayakan para pengguna jalan,” sesalnya.
Salah satu tokoh pemuda Balongsari, A. Cholel menyayangkan sikap Pemkot Surabaya yang kurang tanggap dengan masalah ini. Menurutnya, jika proyek tersebut akan dilanjutkan lagi minimal 9 bulan ke depan, maka antisipasi meminimalisasikan jumlah korban harus dilakukan.
“Mayoritas warga Balongsari resah, dan jika tidak ada upaya pemkot untuk memberikan solusi, maka kami akan mendatangi Walikota Surabaya,” serunya.
Kabid Pematusan Pemkot Surabaya, Samsul Hariadi, berulang kali dikonfirmasi, selalu enggan menjawab pertanyaan suara-publik.com, dengan alasan tidak jelas.
Sementara Ali Zaini, selaku pemenang proyek ketika dikonfirmasi suara-publik.com, meminta agar bersabar. “Ini adalah musibah, uang sudah dibawa kabur dan di-black list selama Dua tahun. Pelakunya sudah kami laporkan ke pihak berwajib,” kata Ali Zaini yang juga pemimpin salah satu LSM ini. (ono)
Editor : Pak RW