Internasional Language Center (ILC) di Polisikan

suara-publik.com

SURABAYA - SUARA PUBLIK. Lienny Gunawan (34) tahun, warga Water Place Pakuwon Surabaya, bersama dua saudara kandungnya Selasa (5/4/2016) malam, mendatangi kantor Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Surabaya. Untuk melaporkan kasus dugaan penipuan yang dialaminya di salah satu Lembaga kursus bahasa Inggris yakni Internasional Language Center (ILC).

Menurut pengakuan Lienny Gunawan, penipuan dilakukan ILC di kawasan Pakuwon Trade Center (PTC) berawal dari ketika berjalan-jalan di sekitar Mall. Dirinya melihat ada sebuah lembaga kursus yakni ILC, mengenalkan ada promo untuk tujuh bahasa yaitu Korea, Mandarin, Inggris, Prancis, Arab, Jerman dan Jepang.

Merasa tertarik untuk mencobanya, Lieny pun mendatangi ILC.  "Awalnya saya ingin mencoba dua bulan saja. Karena, banyak promo dengam model paketan, akhirnya saya ambil paketan dengan tiga setengah tahun membayar biaya kursus sebesar Rp20 juta rupiah," kata Lienny Gunawan, saat ditemui Tim Suara Publik di Polrestabes Surabaya, Selasa (5/4/2016) malam sekitar pukul 21.30 wib.

Dari pembayaran tersebut, Lienny bersama saudaranya langsung melakukan registrasi, bila sudah membayar, tentu bisa mengikuti kelas kursus di lembaga Internasional Language Center (ILC) yang ada di komplek PTC (Super Mall) Surabaya.

Saat registrasi, yang dilakukan bulan Maret tahun 2016 itu, dia mendapatkan bonus, mulai dari  kursus belajar bahasa yang seperti diinginkan siswa, kemudian buku panduan.

Tapi, berjalannya waktu, memasuki bulan April, siswa yang mengikuti kursus mulai terus berkurang. Penyebabnya, banyak guru pengajar tidak masuk, waktu jam kursus sering berubah, dengan alasan karena itu fleksibel mudah diatur.

"Saat itu kita sudah mulai komplain. Tapi, tidak begitu banyak, waktu itu sebagian banyak yang cuek. Karena, dari kita masih menyadari, kalau saat itu masih lembaga kursus baru," ujar dia.

Tapi, lama kelamaan, ternyata lembaga kursus tersebut banyak komplain dari siswa dan orang tua. Karena, pengajarnya juga sering ganti dan waktu juga sama seperti sebelumnya, berubah tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu.

"Akhirnya, saya juga mempertanyakan, ternyata sudah tidak ada lagi pengajaran. Karena sepi, sehingga ada karyawan dari ILC juga diangkat untuk menjadi seorang marketing dan pengajar, untuk menjaga kantor, kalau ada yang nanya bahwa masih ada pengajaram kursus," kata Lienny kepada Suara Publik Selasa malam.

Secara terpisah Diana Gunawan (35) tahun mengaku, kalau yang menjadi korban tidak dirinya dan saudarnya saja. Tapi banyak juga warga sekitar lokasi dekat lembaga kursus, rata-rata juga menjadi korban promo program ILC.

"Kebetulan ini tadi saat mendatangi kantor ILC, korbannya ada sekitar 20-30 orang. Dan mereka semua rata-rata juga sudah membayar dari Rp 6 juta rupiah hingga Rp 35 juta rupiah, karena ada paketan murah," tutup Diana..(TOM)

Editor : Pak RW

Birokrasi
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru