BONDOWOSO, Suara Publik.
Bermimpi untuk menjadi desainer bagi Halimatus Sakdiyah, warga desa Kalianyar RT.14, RW.04 Kecamatan Tamanan tidak pernah terbayangkan, karena Ibu rumah tangga ini tidak pernah mengenyam pendidikan menjahit.
Itulah ungkapan yang disampai kepada Suara Publik, pada saat mengunjungi rumahnya yang berada dipinggir jalan raya Tamanan. “Saya tidak pernah bermimpi menjadi penjahit berbagai macam gaun perempuan maupun laki-laki,”kata perempuan beranak satu ini.
Ia mengungkapkan, dari kegiatan menjahit ini juga bisa menambah pemasukan keluarga. berkat kesenangannya di dunia menjahit dan merakit kain ternyata bisa jadi ladang bisnis. Dengan bisnis menjahit ini, ia bisa menambah belanja buat keluarga, meski peralatan yang dia miliki sangat sederhana.
“Bisa menjahit dan mendesainer baju mulai menikah dengan suaminya. awalnya hanya coba-coba membedah baju, dan kemudian dijahit lagi. Tapi bahannya dari kain kaos, karena harganya juga murah. Sejak saat itu saya terus mencoba-dan mencoba hingga sekarang,”ujarnya.
Perempuan yang akrab dipanggil Halimah ini mengungkapkan, setelah berhasil membuat beberapa gaun untuk dipakai sendiri, ternyata ada tetangga dan kerabat minta dibuatkan baju, meski ada perasaan ragu karena takut keliru memotong kaintapi ia pasrah dan percaya diri.
“Alhamdulillah, ternyata hasil jahitan saya sangat disukai banyak orang. Sejak saat itu mulai berdatangan menyuruh membuatkan baju kepada saya,”terangnya.
Tanpa dia sadari hasil menjahit baju juga mengiyurkan dan diminati masyarakat luas, khususnya kaum hawa. Namun tidak sedikit kaum Adam juga datang minta dibuatkan baju, tapi ia menolak, yang diterima hanya orang yang ada hubungan keluarga.
“Saya memang lebih suka membuat baju perempuan dan baju anak-anak. Tapi untuk baju laki-laki memang saya mencoba untuk menerima, namun terbatas,”ujarnya.
Perempuan kelahiran tahun 1987 ini pun mengaku karya-karyanya tersebut masih terinspirasi dengan desainer muda di Indonesia. Menurut dia, semua pekerjaan ataupun bisnis itu harus di dasari rasa suka.
“Saya juga senang membuat busana yang fashionable dan suka memadukan model baju menjadi lebih menarik lagi, tapi bahannya dari kain kaos,”tegasnya.
Selain rutinitasnya sebagai penjahit, ia juga pandai memasak nasi, kue, berdandan, suka menata rumah, suka berpakaian yang unik dan berhijab, Itulah potensi perempuan dan sering dilakukan sehari-hari.
Menjadi wanita yang sudah menikah dan mempunyai anak memang sebaiknya menjadi ibu rumah tangga agar bisa merawat anak dan melayani suami.
Namun, dibalik aktivitas Halima menjadi ibu rumah tangga yang memiliki bisnis tersebut ada sesuatu yang berharga, yaitu orang tua.
"Hasilnya bisnis menjahit ini selain untuk keluarga saya, masih ada orang lain diluar sana. Jadi kita harus berbagi dengan mereka, termasuk orang tua,”tambahnya.
Sementara itu, Suryadi suaminya, juga mempunyai bisnis lain, seperti merangkai bonsai, hingga ke luar jawa. Bahkan tidak jarang ia harus berhari-hari mendesainer pohon hingga menjadi tanaman yang unik dan indah.
“Kalau ayahnya anak Farel, memang berlatar belakang seorang seni, dia sering keluar rumah, tapi diundang untuk membuat bonsai, itulah kehidupan yang harus kami jalani bersama dengan sabar,”imbuhnya. (her)
Editor : Pak RW