BONDOWOSO, Suara Publik - Kapolres Bondowoso, AKBP Afrisal, akhirnya buka suara menyikapi aksi boikot yang dilakukan sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Forum Jurnalis Lintas Media (FJLM). Menurut Kapolres, aksi boikot yang berlangsung sejak kedatangan Kapolda Jawa Timur pada beberapa hari lalu, berawal dari salah paham semata.
“Ini hanya miss komunikasi saya kira, tidak ada niatan dari pihak kami untuk membatasi ruang gerak kawan – kawan saat melakukan tugas. Hanya saja perlu dipahami, ada beberapa hal yang memang tidak bisa disampaikan secara langsung seketika itu juga ketika ada proses hukum, terlebih terkait penyelidikan dan pengembangan,” kata Kapolres, Kamis (13/4/2016), saat bertemu koordinator FJLMB Bastiyar Arifin.
Menurut Kapolres, selama ini pihaknya berusaha terus menjalin kemitraan dengan media. Karena diakui atau tidak, berbagai kinerja dan capaian Polres Bondowoso juga atas bantuan publikasi dari media massa.
“tentu kami sangat menghormati kawan – kawan jurnalis. Kalau dibilang kami meremehkan kerja jurnalis saya pikir itu tidak benar, karena berbagai capaian Polres Bondowoso bisa diketahui masyarakat juga karena dipublikasikan di media kawan – kawan,” imbuhnya.
Meski begitu, Kapolres mengakui jika perlu ada pembenahan di internal Polres Bondowoso atas adanya aksi boikot ini. Untuk itu, pihaknya berjanji akan segera melakukan pembenahan utamanya kepada anggota Polisi yang kerap bersentuhan langsung dengan jurnalis di lapangan.
“Ini juga menjadi introspeksi bagi saya pribadi dan anggota juga, maka akan kami perhatikan untuk dilakukan pembenahan di internal kami agar bisa saling mendukung untuk kemajuan Bondowoso,” ujar Afrisal.
Sementara itu, Koordinator FJLM, Bastiyar Arifin mengaku telah bertemu dan mendengarkan langsung penjelasan Kapolres Bondowoso, AKBP Afrisal. Dalam kesempatan tersebut, dirinya mewakili FJLM dan telah menyampaikan beberapa aspirasi kepada Polres Bondowoso.
“beliau berjanji akan lebih kooperatif kepada para jurnalis. Tentu harus kita hargai karena beliau juga bersedia melakukan pembenahan secara internal. Sekarang tugas jurnalis adalah kembali menjalankan fungsinya sesuai koridor jurnalistik profesional,” kata Bastiyar.
Dikatakan Bastiyar, dengan adanya konsolidasi ini, pihaknya juga berharap pada rekan jurnalis khususnya yang tergabung dalam FJLMB untuk juga mengevaluasi diri. Sehingga, tidak mudah terprovokasi situasi yang sekira akan merugikan.
"Saya sampaikan juga kepada teman-teman bahwa jurnalis itu harus kreatif. Ya pintar-pintarnya jurnalislah dalam berkarya. Jangan sampai mudah tersinggung dengan hal yang sebenarnya bukan melanggar prinsip jurnalisme," tambahnya.
Harapannya, kata Bastiyar, moment ini akan menjadi awal terciptanya hubungan yang harmonis dan profesional antara institusi Kepolisian dan para pewarta.
Disisi lain, kasus ini juga memberikan pelajaran untuk seluruh jurnalis agar bekerja secara profesional dan mengedepankan etika saat melakukan tugas peliputan.
“Jangan lupa, meski profesi jurnalis dilindungi undang – undang, bukan berarti bisa bersikap semena – mena. Ada kode etik yang harus kita patuhi sehingga tidak ada yang merasa dirugikan,” pungkasnya.
Sebelumnya, sejumlah jurnalis di Bondowoso yang tergabung dalam Forum Jurnalis Lintas Media (FJLM) melakukan aksi boikot dengan tidak memberitakan segala hal yang terkait dengan Polres. Aksi ini menyusul adanya tindakan salah satu anggota polisi yang diduga menghambat jurnalis saat melakukan tugas peliputan. Selain itu tindakan tak kooperatif Polres Bondowoso juga menjadi salah satu alasan aksi boikot itu dilakukan.(her)
Editor : Pak RW