Oleh : Kusworo Wartawan Suara Publik Group
Perseteruan antara aliran Sunni dan Syiah di Jatim di duga di scenario oleh kekuatan besar yang memiliki anggaran banyak. Dugaan itu bisa saja karena factor pengalihan isu, dukung mendukung Pilkada dan pihak asing yang tidak ingin Islam di Indonesia ini duduk berdampingan sesuai dengan keyakinan masing-masing. Sebagai Negara dengan penduduk penganut agama Islam terbesar di dunia, membuat semua kalangan memiliki kepentingan yang berbeda.
Surabaya Suara-Publik.com – Kyai Haji Tajul Muluk didampingi pengacara dari Ahl ul-Bait Indonesia Muhamad Hadun Al Hadat, Ketua LBH Surabaya Aries dan dari Kontras, Andi Irfan, mengadakan konferensi Pers. M Hadun pengacara Tajul Muluk mengatakan, Negara ini tidak mampu melindungi warga negaranya. Sebab kasus ini sebenarnya sejak lama terjadi.
Bahkan Kyai Tajul ini dipaksa mengungsi di Malang sudah dituruti mengapa pembakaran ini tetap terjadi, papar M Hadun. Lebih jauh Hadun mengatakan, dirinya membawa langsung Kyai Tajul ke tempat pengungsian para santrinya.
Masih Hadun, kami ini sudah memberitahu Polisi sejak lama, namun Kapolresnya tidak tanggap bahkan terkesan meremehkan. Ada apa dengan semua ini, kayak ada scenario untuk membasmi kaum minoritas. Bahkan klien kami akan dijadikan tersangka dengan pasal penistaan agama, penistaan yang bagaimana? Ungkap Hadun dengan nada gusar sambil menggebrak meja.
Bahkan Majelis Ulama Indonesia Cabang Sampang mengatakan kalau Syiah ini ajaran sesat, itu tidak benar. Ini pasti ada kepentingan besar dibalik kasus ini, apalagi KH Bochori Maksum meminta Kejaksaan utnuk menangkap klien kami, tambah Hadun dengan nada gusar.
ementara itu pada kesempatan yang sama, Andi Irfan dari Kontras menyatakan, Negara ini benar-benar sudah tidak mampu melindungi warga Negara minoritas. Berbagai kejadian akhir-akhir ini menunjukan ketidak mampuan itu. Mulai Mesuji Bima dan terakhir kasus Sampang ini, sebelumnya Ponpes Syiah di Bangil juga demikian. Undang-undang menjamin kententraman hidup berdampingan dari segala suku bangsa dan agama. Namun demikian banyak kasus kekerasan yang timbul akibat lemahnya Negara dalam menjamin hidup rakyatnya, papar Andi.
Kyai Tajul Muluk saat di Tanya para wartawan tentang apa sesungguhnya yang menjadi akar permasalahan menyatakan, ini hanya karena iri saja. Dan kami ini korban fitnah, dikatakan kami ini bebas bertukar istri. Padahal itu tidak benar, semua fitnah ditujukan pada kami sungguh kami tidak melakukan hal-hal diluar garis Islam, papar Tajul Muluk.
Beberapa menit setelah konferensi pers usai, datanglah 2 orang dari Komnas HAM. Dua
orang Komnas HAM itu adalah Komisioner Subkomisi Pemantauan dan
Penyelidikan Komnas HAM Kabul Supriyadhie dan Komisioner Subkomisi
Pendidikan dan Penyuluhan Hesti Armiwulan. Mereka berdua belum berani berkomentar karena baru mendegar sepihak. Besok mereka akan turun ke lapangan untk melakukan investigasi.
Dilain kesempatan Pimpinan Wilayah
(PW) Ansor Jawa Timur mengimbau masyarakat untuk mewaspadai adanya desain
konflik Sunni-Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur pada beberapa waktu lalu dikuti dari Antara.
"Kami menduga ada desain Sunni-Syiah untuk
merusak Jatim, karena kejadian yang sama dengan isu yang sama baru saja terjadi
di Bangil," kata Sekretaris PW Ansor Jatim Imron Rosyadi Hamid di
Surabaya, Minggu.
Ia mengemukakan hal itu menanggapi pembakaran madrasah
dan rumah warga Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben,
Kabupaten Sampang, Madura oleh sejumlah massa anti-Syiah, 29 Desember 2011.
Menurut dia, kewaspadaan tentang dugaan adanya desain
itu penting untuk masyarakat agar tidak mudah terpancing dengan hal-hal serupa,
karena tokoh masyarakat hendaknya mencegah kasus itu agar tidak meluas dan
berkembang.
"Untuk anggota Ansor dan Banser, kami minta
anggota Ansor dan warga NU untuk membantu aparat kepolisian guna mengembalikan
kondusifitas keadaan agar upaya memperluas dan mengembangkan konflik dapat
dicegah," katanya.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyesalkan peristiwa pembakaran pesantren Syiah oleh massa di Sampang, Madura, Jawa Timur. Hal itu juga menambah panjang daftar kekerasan yang mengatasnamakan agama.
"Saya nyatakan bahwa kekerasan atas nama apapun tidak dibenarkan oleh agama," kata Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, di Jakarta, Jumat (30/12).
Kiai Said meminta semua pihak bisa menahan diri, sehingga Islam "rahmatan lil alamin" (rahmat bagi semesta alam) benar-benar bisa ditunjukkan. "Dan wajah ketimuran kita tidak hilang karena tindak kekerasan," katanya.
"Ke depan, akar masalah peristiwa ini harus digali. Mengapa Pesantren Syiah bisa dirusak atau diserang, bisa jadi karena mereka (kaum Syiah) mengolok-olok, atau mencaci para sahabat Nabi Muhammad SAW," ujarnya.
PBNU juga mengimbau masyarakat tidak mudah main hakim sendiri jika ada persoalan di tengah pergaulan sosial. "Ini negara hukum, masyarakat tidak boleh main hakim sendiri," katanya menegaskan.
Terkait kasus pembakaran pesantren tersebut, PBNU meminta polisi segera mengambil langkah-langkah strategis supaya peristiwa ini tidak melebar. PBNU juga mendesak agar pemerintah bersungguh-sungguh dalam menunaikan kewajibannya menegakkan hukum serta memberikan perlindungan kepada segenap warga negara tanpa membedakan agama dan keyakinannya.
Terpisah Ketua Umum GP Ansor, Nusron Wahid, meminta Banser menjaga aset warga Syiah tersebut. "Kita menyesalkan, sedih dan mengecam tindakan pengrusakan yang dilakukan warga terhadap aset milik Syiah tersebut, apapun alasannya," ujarnya.(*)
Editor : Pak RW