suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Dolly Ancam Boikot Pemilu Capres

avatar suara-publik.com
  • URL berhasil dicopy
dbs
dbs

SURABAYA (suara-publik.com)-Rencana penututan lokalisasi Dolly dan merubahnya menjadi salah satu sentra perdagangan, diperkirakan gagal. Masalahnya, para simpatisan Dolly mengancam memboikot Pemilu Capres RI pada 9 Juli mendatang. Demikian disampaikan Ketua Paguyupan Arek Jawa Timur (Pagar Jati), Bambang Hariyanto, SH.

"Kalau ngeyel ditutup, kita akan melakukan revolusi," ucapnya singkat. Dikatakan Bambang, menurut aturan yang ada, mulai ras dan agama, mendasar pada Pancasila dan mengerucut pada UUD 1945. "Semua sudah mengerucut di Undang-Undang. Kalau diajak debat justru menjurus pada, jelas itu berbuntut sara," kata Bambang, yang kecewa dengan kebijakan Pemkot Surabaya. 

Meski tidak ditutup paksa, Bambang mengaku selama bulan Ramadhan, lokalisasi Dolly dan Jarak sudah tutup dengan sendirinya. "Dolly ga pernah dibuka, trus kenapa ada penutupan. Kalau bicara agama, mereka sudah menghargai adanya bulan suci," lanjutnya di Posko Perlawanan Rakyat Dolly.

Menurutnya, penutupan Dolly nantinya bakal berbuntut panjang. Ia menilai, adanya kesan tebang pilih yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya melalui Walikota Tri Rismaharini. “Psikologis warga Dolly dan Jarak sudah dilakukan. Namun, jika benar-benar terjadi penutupan, sesuai Perda Surabaya, No 7 Tahun 1999 tentang pelarangan bangunan untuk asusila, Pagar Jati akan mensweping hiburan malam yang tidak tidak patuh aturan,” ujarnya.

Ditambahkan Bambang, "Banyak hiburan malam nakal, yang tidak ditertibkan, Pemerintah Surabaya sudah tebang pilih dan melanggar zoning, misal Simponi, Gandaria 1 dan 2, Madona, Monalisa, itu contoh lokalisasi terselubung," tegasnya, Senin (16/6/2014). 

Sebelumnya, Dian dari Save Children mengaku kepada suara-publik.com bahwa ia sangat setuju upaya Pemkot Surabaya untuk menutup lokalisasi Jarak dan Dolly. Alasan Dian, kaena ia sangat prihatin dengan anak-anak sekolah yang terganggu dengan lingkungan sekitar. “Bayangkan, setiap hari mulai pagi, siang, sore hingga malam hampir terdengar dentuman music yang mengganggu kenyamanan. Kapan belajar mereka? Kapan Ngaji mereka?” jelasnya.   

Di Dolly kini banyak terpampang spanduk yang menyatakan tidak pro lagi kepada Risma. Bahkan rata-rata para PSK mengaku tidak simpatik lagi kepada pasangan capres Jokowi-Jusuf Kalla. “Para wartawan yang datang ke sini (Dolly), kebanyakan pro sama Pemkot Surabaya. Apa yang diberitakan di korannya banyak yang tidak sesuai dengan fakta. Sudah ya mas, saya nanti takut dimarahi majikan. Tapi sampean bukan wartawan kan mas?” tanya wanita asal Kota Malang, yang wismanya berada di Dolly Gang Lebar. (ono) 

Editor :