SURABAYA (Suara Publik)-Ditengah situasi sulit pandemi covid-membuat para pelaku usaha menjerit, khususnya pedagang jenis buah-buahan segar di kawasan Tanjung Sari, Surabaya. Sejak indonesia dilanda wabah Covid-19 di bulan Februari 2020 lalu, perputaran modal para pedagang buah di kawasan Tanjung Sari dan Tambak Moyor Surabaya ini tersendat hingga omzet pedagang menurun 70 persen.
"Sebelum wabah covid-19 ini, saya dapat menjual dagangan semangka saya hingga 800 kilogram sehari, dengan pendapatan bersih 700 ribu rupiah. Tapi sekarang, saya nyaris gulung tikar karena omzet turun hingga 70 persen karena hanya dapat menjual 100 hingga 200 kilogram sehari dengan penghasilan bersih 200 ribu rupiah," ujar Achmad Farhan, pedagang buah di Pasar Tanjung Sari, Surabaya.
Farhan menambahkan, kondisi itu semakin berat ketika dagangan buah semangka tidak laku dan akhirnya membusuk. " Setiap dua hari sekali semangka ini kita sortir, dan jika pembeli dalam kondisi lesu, pasti ada sekitar 100 kilogram buah dalam dua hari sudah tidak layak jual , " imbuh Farhan kepada www.suara-publik.com, Minggu (13/12).
Kendati demikian, dalam situasi sulit akibat pendemi ini, para pedagang buah yang terkumpul dalam Paguyuban Pedagang Buah Jaya Abadi Pasar Tanjung Sari, Surabaya tetap mendorong kegiatan usahanya melalui progam peduli kesehatan. Seperti memampang spanduk himbauan protokol kesehatan bertuliskan kawasan wajib memakai masker, dan menyediakan masker gratis bagi pembeli.
"Spanduk itu upaya paguyuban agar pembeli dan pedagang buah peduli akan kesehatannya, mengingat wabah covid-19 masih belum berakhir. Langkah itu supaya pedagang dan pembeli tidak terlalu panik di situasi pandemi saat ini, sehingga nadi perekonomian tetap berjalan. "pungkas Wahyudis Muhardi, pengurus Paguyuban Pedagang Buah Jaya Abadi Pasar Tanjung Sari, Surabaya. Sedikitnya ada sekitar 20 pedagang buah yang bergabung dalam Paguyuban Pedagang Jaya Buah Abadi dengan jenis dagangan buah-buahan seperti semangka, pepaya, melon dan buah segar lainnya.
Mereka rata-rata menggelar dagangnya di bangunan berukuran 5 x 10 meter di kawasan Tanjung Sari dan Tambak Mayor, Surabaya. Bertahan di tengah pandemi sebagai bentuk konsistensi para pedagang untuk menjaga nadi ekonomi dari ting'kat petani hingga ke pendistribusian buah, selain itu juga sebagai pemenuhan kebutuhan akan konsumsi buah segar di Surabaya. (dwi/san)
Editor : Redaksi