suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Hampir Seabad, Mbah Misem Masih Hebat

avatar suara-publik.com
  • URL berhasil dicopy

Nama Mak Wo di Desa Kalibareng dan sekitarnya memang tidak asing lagi. Meski usianya kurang lebih Satu Abad, nenek pemilik nama asli Misem ini tergolong wanita hebat. Bagaimana tidak, pendengaran dan pengelihatannya masih berfungsi dengan baik, bahkan sanggup berjalan jauh tanpa menggunakan alat bantu seperti tongkat. Padahal, jalan di Desa Kalibareng, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal-Jateng, memang naik turun karena wilayah perbukitan.

Pagi itu Suara Publik bertemu Mbah Misem yang kebetulan mampir mengunjungi kerabatnya di desa sebelah Kalibareng yakni Desa Kemloko. Sambil menikmati rokok kretek dan secangkir kopi, Mbah Misem yang selalu ceria itu menjawab pertanyaan Suara Publik.

Mbah Misem mengaku memiliki keturuan 4 orang anak yang semuanya sudah berkeluarga, bahkan anaknya tersebut telah memiliki cucu. “Inyong lali umure. (Saya lupa umur saya),” tutur Mbah Misem memulai bercerita.”Tapi pas enek PKI kae, Inyong wis dadi manten lawas. Tetapi waktu ada PKI dulu, saya sudah lama menjadi pengantin),” akunya, yang diamini oleh Ny. Sutarni.

Menantu Mbah Misem ini menjelaskan kepada Suara Publik kalau mertuanya itu akrab dipanggil dengan sebutan Mak Wo, karena umurnya memang jauh lebih tua, ketimbang teman atau kerabatnya. Bahkan yang sesusia atau yang lebih muda dari Mbah Misem, menurut Ny, Sutarni, sudah banyak yang terlebih dahulu menghadap kepada Yang Maha Kuasa.

“Almarhumah Mbah Lastri, yang tak lain adalah adik kandung bapak saya, umurnya lebih muda dari Mak Wo. Selain itu juga ibu saya, almarhumah Mbah Jemi, juga lebih muda dari Mak Wo,” kata Ny. Sutarni.

Ketika lagi asik berbincang, mendadak ada seorang ibu menggendong bocah kecil datang menghampiri Mak Wo. Ternyata, Mbah Misem atau Mak Wo sering membantu warga yang mempunyai balita dan membutuhkan pertolongannya.

Meski begitu, Mak Wo iklas membantu mereka, dan tujuan utamanya bukan semata-mata mengharap belas kasihan atas jerih payahnya . “Selama inyong iso mlaku ra nggawe teken, yo inyong ra nyerah (Salama saya mampu berjalan, tidak pakai tongkat,  ya saya tidak akan menyerah),” ujar Mak Wo, dengan senyum khasnya.

Ucapan Mbah Misem ini memang tidak salah. Bahkan anak-anaknya Mbah Misem sebenarnya telah melarang Mbah Misem untuk menerima pasien. Kalau toh ada, maka si calon pasien harus rela menjemput dan mengantar Mbah Misem kembali ke rumahnya, dimana Mbah Misem kesehariannya hidup sangat sederhana dan hanya berdua dengan salah satu cicit perempuan yang kini masih duduk di bangku sekolah dasar.

Suara Publik kembali dibuat heran oleh nenek yang suka dengan kesenian tradisional Wayang ini, manakala ia menolak saat diberi sejumlah uang oleh cucunya. “Bukane inyong nolak nduk. Tapi duite iku simpenen disik, mengko digawe keperluanmu wae. (Bukannya saya menolak nduk. Tapi uang itu kamu simpan dulu, nanti dibuat keperluanmu saja),” pinta Mak Wo, yang langsung berpamitan pulang.

Selain memiliki fisik yang masih baik, Mak Wo ternyata juga selalu menasehati agar kita selama hidup di dunia ini senantiasa melakukan kebaikan atau berbuat baik kepada siapa saja, kapan dan dimana saja kita berada. (ono)

 

 

 

Editor :