suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Jaksa Hadirkan 2 Lurah, Pada Persidangan Perkara Pemalsuan 3 Surat Untuk Urus SHM

avatar suara-publik.com
Foto atas: Terdakwa Djerman Prasetyawan ( tidak ditahan) menjalani sidang perkara pemalsuan 3 surat dijadikan SHM, diruang Garuda 2 PN.Surabaya, Kamis (09/09/2021). Foto bawah: Saksi Lurah Manukan Kulon dan Manukan Wetan
Foto atas: Terdakwa Djerman Prasetyawan ( tidak ditahan) menjalani sidang perkara pemalsuan 3 surat dijadikan SHM, diruang Garuda 2 PN.Surabaya, Kamis (09/09/2021). Foto bawah: Saksi Lurah Manukan Kulon dan Manukan Wetan
suara-publik.com leaderboard

Surabaya, Suara Publik - Sidang perkara pemalsuan tiga surat untuk menguasai tanah milik orang lain di Manukan wetan berbatasan dengan Manukan kulon, dengan terdakwa Djerman Prasetyawan 

Tiga surat yang dipalsukan Djerman. Yaitu surat pernyataan penguasaan fisik dan yuridis bidang tanah tertanggal 10 November 2019. Surat itu ditandatangani terdakwa Djerman dan tiga saksi, dua terdakwa lain yaitu Subagyo, samsul hadi dalam berkas terpisah.

Jaksa Darwis menghadirkan dua saksi dipersidangan, yaitu Didit Budi Putranto Lurah manukan wetan dan Misbahul Munir Lurah Manukan kulon.100%100%

Didit Budi Putranto sempat datang di lokasi tanah saat petugas juru sita Pengadilan Negeri (PN) Surabaya akan mengeksekusi tanah di Manukan Wetan yang tercatat di Petok Nomor 197. Lurah Manukan Wetan ini juga menolak tanda tangan berita acara eksekusi yang disodorkan kepadanya. 

Tanah itu akan dieksekusi setelah Remu dan Indriati sepakat berdamai dalam sidang perkara perdata abal-abal (rekayasa terdakwa Djerman), Berdasar putusan pengadilan, tanah itu menjadi hak Indriati. Skenarionya, setelah itu akan dialihkan menjadi atas nama terdakwa Djerman Prasetyawan.  

"Saya pernah diundang untuk eksekusi 197. Sebagai lurah saya tidak bersedia karena di situ batas-batas nomor petok yang diserahkan tidak sesuai dengan buku kelurahan," ujar Didit saat memberikan keterangan sebagai saksi untuk terdakwa Djerman, Subagyo dan Samsul Hadi dalam sidang di ruang Garuda 2 Pengadilan Negeri Surabaya kemarin (09/09/2021).

Tanah seluas 5,6 hektar itu memang masih tercatat pemiliknya atas nama Iksan dan Siti Marwijah. Namun, tanah yang tercatat berada di Persil 11 itu sebenarnya sudah habis dijual oleh pemilik asalnya. Jual beli itu tidak tercatat di buku kelurahan. 

"Atas namanya masih tercatat Iksan dan keluarganya. Tapi, sudah diperjualbelikan. Sudah habis terjual tapi tidak tercatat," katanya. 

Didit juga mengaku sempat diundang untuk menghadiri pertemuan di Kantor Pertanahan (Kantah) Surabaya I untuk membahas sengketa tanah tersebut. Ketika itu, Kantah menerima dua permohonan peta bidang dari dua pihak berbeda. Satu dari ahli waris Marwijah dan satunya lagi dari Djerman.

Ahli waris Marwijah juga menurutnya pernah mengajukan permohonan peta bidang melalui kelurahan. Namun, kantah tidak bisa memprosesnya karena tertindih peta bidang Djerman. 

"Bahwa peta bidangnya tumpang tindih. Yang diajukan Djerman ini ada di atas punya Iksan dan Marwijah," ucapnya. 

Secara terpisah, Lurah Manukan Kulon, Misbahul Munir menyatakan, di Manukan Kulon tidak ada tanah Persil 11 seperti yang diklaim Djerman. Karena itu, dia menolak memproses permohonan yang diajukan Djerman. Dalam permohonannya, terdakwa menyertakan dokumen yang menyebut lokasi tanah di Manukan Kulon. Nyatanya, lokasinya di Manukan Wetan.

"Persil 11 yang jadi alas hak pengajuan Djerman tidak masuk wilayah Manukan Kulon. Tidak terdaftar di buku kelurahan. Tidak ada pemilik atas nama Remu, Iksan dan Marwijah," tutur Munir. 

Lokasi obyek yang ditunjuk Djerman menurutnya ada di Persil 7. Tanah itu milik orang lain. "Di buku kelurahan tidak ada sehingga kami tidak menandatangani permohonan yang diajukan pemohon (Djerman)," katanya. 

Sementara itu, Djerman mengaku sebagai orang awam yang tidak tahu cara mengurus tanah. Dia juga mengeklaim bahwa permohonan peta bidang yang diajukannya sudah lebih dulu masuk daripada permohonan ahli waris Iksan dan Marwijah. "Saya awam karena itu tanya lurah tapi terkesan ditutupi," kata Djerman.(Sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper