suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Penjambret Senpi Brigadir Taufan di Dor

avatar suara-publik.com
  • URL berhasil dicopy

SURABAYA  - Suara Publik. Polres Tanjung Perak akhirnya menetapkan empat tersangka dari kasus perampasan senpi milik anggota Reskoba, Brigadir Taufan. Keempatnya merupakan anggota jaringan penjambret besar yang kerap beraksi di wilayah hukum PolresTanjung Perak maupun Polrestabes Surabaya.

Pitono Mulyo, Salah satu anggota jaringan penjambret ini bahkan harus meringis kesakitan kakinya ditembus timah panas anggota. Karena mencoba lari saat digerebek di Denpasar, Bali. Pitono dan satu pelaku berinisial R(DPO) menjadi aktor utama dalam aksi perampasan tas berisi senpi Brigadir Taufan 3 Februari silam.

Setelah berhasil mengambil tas milik anggota, pelaku langsung menjual beberapa barang yang ada di dalamnya. Handphone mereka jual seharga Rp 1 juta, semua benda dan uang mereka ambil, kecuali senpi. Mereka menitipkan senpi tersebut ke rumah kos salah satu anggota jaringan yang bernama Honsun di daerah Semeni, Benowo.

”Dua pelaku kemudian berpisah, Ada yang lari ke Madura ada yang ke Bali,” ucap Kapolres Tanjung Perak AKBP Arnapi.

Pitono kabur bersama rekannya Setiawan yang masih satu jaringan ke Denpasar, Bali. Mereka sementara tinggal di kosan milik Budi Panjaitan yang juga  dihuni jaringan penjambret bali. Seminggu dalam persembunyian Setiawan diperintahkan Pitono untuk mengambil senpi ke Honsun, dan kembali lagi ke Bali menggunakan jasa travel.

Namun, justru dari pengambilan senpi tersebut, polisi berhasil melacak keberadaan para pelaku. Unit Resmob Polres Tanjung Perak langsung bekerjasama dengan Jatanras Polrestabes Surabaya untuk melakukan upaya pengejaran. Mereka terbagi dalam dua tim, yakni mengejar pelaku yang ada di Bangkalan dan ke Bali.

Kasatreskrim Polres Tanjung Perak AKP Ardian Satrio mengungkapkan, pihaknya sempat kesulitan mendeteksi keberadaan pelaku. Sebab, para pelaku lihai dalam bersembunyi dan tertutup dari dunia luar termasuk akses komunikasi misalnya handphone. ”Tetapi berkat bantuan saksi-saksi lainnya dan kerjasama dengan Polda Bali, kami berhasil menemukan persembunyian pelaku,” terang Ardian.

Polisi segera melakukan penggerebekan di rumah kos yang ada di Denpasar tersebut dan menangkap Budi, Setiawan dan tentu saja Pitono beserta tiga orang pelaku penjambretan yang kini ditangani Polda Bali. Dalam penggerebekan tersebut Pitono berusaha kabur dari salah satu kamar kos menuju kebun. Beruntung aksinya ini dapat dilumpuhkan petugas dengan tembakan di kakinya.

Setelah introgasi singkat, senpi milik Brigadir Taufan ternyata disembunyikan oleh para pelaku di dalam tanah tepat di bawah kandang ayam di hahalaman belakang kos-kosan. Budi yang saat itu bertugas menyembunyikan segera menunjukkan lokasi disimpannya revolver 48 mm itu dan akhirnya mengeluarkan senpi yang dicari-cari pihak kepolisian.

Para pelaku bersihkeras mengaku bahwa senpi itu tidak mereka gunakan untuk melakukan aksi kejahatan. Meskipun pada kenyataannya jaringan ini kerap kali menggunakan Air Softgun saat beraksi di Bali.  Berdasarkan pengakuan para pelaku, senpi itu hendak mereka jual seharga Rp 7 juta. ”Sebelum senpinya laku kami simpan dulu di dalam tanah, takut meletus,” ucap Budi.(TOM)

Editor :