suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Kekerasan Pada Anak Kembali Terjadi, Rafi 12 Tahun Tewas Oleh Tetangga Sendiri

avatar suara-publik.com
  • URL berhasil dicopy

SURABAYA-SUARA PUBLIK. Hari pertama bulan suci ramadhan, warga Perumahan Griya Citra Asri, Sememi Benowo Surabaya. Digemparkan dengan tewasnya seorang anak SD oleh tetangganya sendiri. Bocah 12 tahun bernama Rafi Perdana Saputra. Dia meregang nyawa setelah ditusuk pisau dapur oleh Bagus Raditiyo (35) tetangganya sendiri. Persoalanya sepele, Bagus emosi setelah Rafi (korban, red) mengejeknya sebagai orang gila (gendeng).

Peristiwa menggemparkan itu terjadi Senin (06/06/2016) sekitar pukul 08.00 Wib di depan warung TK Tunas Asri Sememi, Benowo Surabaya. Sementara korban (Rafi) dan pelaku (Bagus) merupakan tetangga dekat. Korban bertempat tinggal di blok RM 12/17, sementara pelaku tinggal di blok RM 24/09. Keduanya merupakan penduduk Perumahan Griya Citra Asri, Benowo, Surabaya. Lantas, bagaimana Rafi bisa tewas ditangan Bagus?

Informasi yang berhasil dihimpun Suara-Publik, siang tadi di lokasi kejadian, sebelum peristiwa berdarah tersebut, sekitar pukul 07.30 Wib. Pelaku awalnya berjalan dari rumahnya menuju toilet Masjid Baitul Taqwa untuk buang air besar. Sebab, toilet di rumahnya saat itu buntu. Nah, sebelum sampai di Masjid, pelaku bertemu dengan dua anak, satu diantaranya adalah korban. Entah karena sebab apa, korban tiba-tiba mengejek pelaku dengan kata-kata 'gila'.

"Saat itu, dia (pelaku, red) terlihat tidak memperdulikan dan bergegas masuk ke Masjid," kata seorang warga. Namun rupanya, pelaku sudah memendam amarahnya. Setelah balik dari masjid, pelaku kemudian pulang ke rumahnya untuk mengambil sebilah pisau dapur. Pisau itu diselipkan di pinggang sebelah kirinya. Sesaat kemudian, pelaku keluar rumah dan mencari keberadaan korban.

Beberapa menit kemudian, pelaku berhasil menemukan korban di depan TK Tunas Asri. Korban yang saat itu dalam posisi tengkurap sambil bermain HP, langsung dipukul kepalanya oleh pelaku. "Kamu pikir senang diejek begitu (gila, red)," bentak pelaku saat itu.

Dari sanalah, emosi pelaku tidak terbendung. Korban yang merasa terancam, akhirnya berusaha melarikan diri. Namun tubuh korban dipegang pelaku. Tetapi, korban ternyata berontak. Saat itulah, pisau yang dibawa pelaku, terjatuh. Pelaku dengan cepat mengambilnya, lalu menusukkan ke punggung sebelah kiri korban. "Korban masih sempat lari ke perempatan dan pelaku pulang ke rumahnya. Oleh warga, korban langsung dibawa ke RS Bunda jalan Raya Kandangan," sebut warga yang menolak namanya disebutkan. Sayangnya nyawa korban tidak terselamatkan.

Sementara itu, dari kesaksian Kholid, sopir ambulan yang membawa jenazah korban saat itu. Karena korban sudah meninggal, jenazah korban saat itu, ditempatkan di dalam mobil ambulans yang dikemudikannya, sambil menunggu polisi datang. "Saya tahan dulu agar jenazah tidak diturunkan dari mobil. Karena biasanya, polisi akan membawa jenazah ke RSU dr. Soetomo untuk diotopsi," ujarnya. Ketika polisi datang, lanjut Kholid. Jasad korban langsung dibawa ke kamar mayat RSU dr Soetomo. Sementara Bagus sang pelaku, langsung ditangkap dan diamankan ke Mapolsek Benowo.

Dikonfirmasi terpisah, AKP Didik, Kanit Reskrim Polsek Benowo, membenarkan pihaknya sudah mengamankan pelaku. Saat ini, pelaku dalam pemeriksaan pihaknya. AKP Didik mengemukakan, dari pemeriksaan awal, pelaku dalam kondisi sehat dan tidak ada tanda sakit jiwa. "Ditanya pernah ke rumah sakit mana, jawabnya tidak pernah dirawat. Dan untuk mengungkap motif sebenarnya, kami masih akan memeriksa pelaku," tegasnya.

Sementara itu, Bagus si pelaku saat ditemui di Mapolsek Benowo akhirnya hanya bisa meratapi perbuatannya. Dengan mengeluarkan air mata, pelaku mengaku, bahwa dirinya sudah memendam lama dendam itu. Sebab, korban dan teman-temannya, setiap bertemu pasti mengejeknya. "Yang selalu mengejek saya ya dia (korban, red) dan temannya satu lagi. Tapi pada saat itu, saya hanya bertemu dia," aku pria kelahiran Banjarmasin ini.

Kendati jasad anaknya tengah dilakukan otopsi di RSU dr Soetomo. Namun, kedua orang tua Rafi (korban) tidak kuasa mengikutinya. Sebab, Rafi merupakan anak semata wayang pasangan Tommy Natalyanto Kaswiantoko (46) dan Eko Winiarti (43). Saat ditemui di rumahnya, Tommy tidak kuasa bercerita. Apalagi Winiarti, ibu korban ini memilih menyendiri di dalam kamar. Sesekali terdengar isak tangis Winiarti. Kepada wartawan, hanya kakek korban yang bersedia bercerita.

"Cucu saya (Rafi, red) itu anak satu-satunya anak saya. Anak saya (Tommy dan Winiarti, red) baru dikaruniai anak, setelah mereka menikah 16 tahun. Kok tega Bagus (pelaku, red) membunuhnya. Bagus harus dihukum seberat-beratnya dan setimpal," kata Kasimo (74), kakek korban.

Kasimo juga mengatakan, ulah cucunya tersebut adalah wajar. Sebab cucunya masih tergolong anak-anak. "Cucunya saya kan baru sekolah kelas V di SDN Kandangan 3, dan baru mau naik kelas VI tahun ini. Masak kata-kata anak kecil dimasukkan hati. Saya tidak habis fikir," keluhnya. Terkait cucunya yang sering bermain usai sekolah, Kasimo tidak membantahnya. Sebab, teman kecil cucunya, banyak sekali di perumahan itu.

Kasimo bahkan menyebut, cucunya adalah anak yang santun kepada keluarga, sopan dan tidak pernah nakal. Cucunya memang anak yang aktif tapi tidak pernah ketinggalan pelajaran. Setiap kali ditegur orang tuanya, cucunya tersebut juga selalu nurut. "Namanya anak kecil. Nakalnya ya seperti itu, main, jajan, itu saja. Tidak pernah aneh-aneh," sambungnya.

Sementara tentang pelaku, Kasimo menyebut, jika Bagus tidak pernah memiliki riwayat gangguan jiwa. Hanya saja, Bagus tidak kunjung menikah (bujang lapuk) dan pengangguran. Tetapi, Kasimo juga tidak menampik jika Bagus adalah pemuda yang tempramen dan emosional. Bagus sendiri di perumahan itu, hanya tinggal bersama ibunya yang sudah tua. "Sekali lagi, kami meminta agar dia (Bagus, red) dihukum seberat-beratnya," pinta Kasimo mengakhiri perbincangannya.(TOM)

Editor :