suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Nyanyian Bandar Narkoba Lewat Kontras Gemparkan Indonesia.

avatar suara-publik.com
  • URL berhasil dicopy

Nyanyian gembong narkoba lewat Haris dari Kontras membuat gempar seluruh bangsa Indonesia. Sebab testimoni Fredy Budiman itu dibuka 4 jam menjelang eksekusi mati. Sehingga membuat semua pihak bertanya Tanya. Apakah ada tujuan tertentu dari Haris terkait testimony itu.

Redaksi Suara Publik tak mau ketinggalan dalam mengulas kegaduhan yang menyita perhatian banyak pihak. Tentu ulasan ini berdasarkan pemantauan redaksi selama ini tentang bisnis narkoba yang semakin marak dan masiv.

Memang dana partisipasi Bandar narkoba ke berbagai petugas itu sering dinyanyikan oleh para Bandar. Namun secara kasat mata tidak pernah terlihat. Namanya juga bisnis gelap, atensinya juga gelap pula. Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya peredaran narkoba di hiburan malam seakan bebas. Bila tidak ada atensi hal itu seakan mustahil.

Namun atensi itu diberikan pada siapa dan mengalir ke siapa saja itu yang tidak bisa dibuktikan. Hal itu menjadi pekerjaan rumah bagi Kapolri yang baru dan Kepala BNN untuk membenahinya.

Aparat penegak hokum yang bertanggung jawab pada peredaran illegal narkotika sudah semakin transparan dan tegas menindak anggotanya. Terbukti pangkat Kombespol di Kepolisian ditindak tegas. Demikian juga  Kombespol di BNN juga ditindak tegas. Tak ketinggalan pula Mabes TNI juga menindak anggotanya yang berpangkat Kolonel.

Disaat gencar-gencarnya aparat membenahi internalnya dalam penyalah gunaan narkoba. Haris mengeluarkan testimony Bandar narkoba kelas wahid Fredy Budiman. Tentu banyak pihak yang kebakaran jenggot karena kepercayaan public yang membaik menjadi turun kembali. Gara-gara nyanyian yang menyebut para Jendral disuap.

Tiga hari lalu para Jendral dari Kepolisian, BNN dan Mabes TNI berkumpul membahas nyanyian Fredy Budiman. Karena penyampaian Haris yang tidak pada tempat, waktu serta sikond yang tepat. Para Jendral sepakat melaporkan pencemaran nama baik Haris dari Kontras ke Bareskrim Mabes Polri.

Kini Haris menghadapi resiko sebagai terlapor pencemaran nama baik dan UU ITE karena testimony itu beredar luas di Media Sosial. Semoga kasus ini menjadi pelajaran berarti bagi semua lapisan masyarakat. Serta pembelajaran hokum bagi lembaga tinggi Negara dan lembaga swadaya masyarakat secara luas. Semua itu ada konsekuensinya, LSM harus bisa menahan diri bila ada kasus yang besar dan berdampak pada masyarakat luas. Demikian juga TNI Polri harus benar-benar membersihkan anggotanya dari pekerjaan sampingan di dunia malam(hiburan). Agar permasalahan semacam ini tidak terulang dikemudian hari. (kus/mul)

Editor :