SURABAYA, (suara-publik.com) — Bambang Haryo Soekartono yang dikenal dengan sebutan (BHS) Ketum Kodrat Jatim mendorong agar kegiatan bela diri bisa memasuki di ekstrakurikuler sekolah. Langkah ini dilakukan guna memperkuat pembinaan olahraga bela diri di Jawa Timur dari berbagai sisi.
Hal tersebut disampaikan pada gelaran buka puasa bersama awak media, IPSI dan juga Tarung Derajat, di Hotel Elmi Surabaya, Jumat, (06/03/2026).
Selain pengenalan bela diri asli Indonesia di lingkungan sekolah, BHS menyebutkan, pembinaan atlet muda juga digencarkan untuk menyiapkan prestasi pada ajang nasional.
BHS yang juga Anggota DPR RI menilai bela diri asli Indonesia perlu diperkenalkan sejak dini melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk membentuk karakter generasi muda sekaligus menanamkan nilai kedisiplinan.
“Bela diri asli Indonesia ini harus bisa menjadi ekstrakurikuler di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat TK atau SD sampai SMP dan SMA. Tujuannya untuk membentuk karakter diri, kedisiplinan, sekaligus mengenalkan budaya peninggalan bangsa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pencak silat yang berada di bawah naungan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) juga merupakan cabang olahraga prestasi. Atlet yang meraih juara dapat memanfaatkan jalur prestasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Karena IPSI ini olahraga prestasi, tentu bisa mendapatkan poin dari juara-juara tadi untuk masuk ke sekolah jenjang yang lebih tinggi, sampai perguruan tinggi,” katanya.
Menurutnya, prestasi di bidang olahraga juga dapat membuka peluang karier di berbagai instansi, seperti kepolisian, aparatur sipil negara, hingga TNI.
Tarung Derajat Jatim Siapkan Atlet Muda
Sementara itu, Ketua Harian Kodrat Jatim Erwin H. Poedjono mengatakan, pembinaan atlet bela diri di Jawa Timur juga difokuskan pada pencarian talenta muda. Erwin yang juga menjabat Dirut PT DLU menyebut usia emas atlet Tarung Derajat kini cenderung lebih muda dibandingkan beberapa tahun lalu.
“Kalau dulu usia 27 tahun baru berada di puncak, sekarang usia 24 tahun sudah ada di puncak,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi keuntungan bagi Jawa Timur, terutama dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang menerapkan batas usia di bawah 21 tahun. Dengan demikian, daerah memiliki kesempatan lebih besar menjaring atlet muda berbakat.
Untuk memperluas penjaringan atlet, pengurus Tarung Derajat Jawa Timur kembali menggelar sirkuit bertajuk Edan Gelut yang tahun ini memasuki pelaksanaan ketiga dan akan digelar di Jombang.
Selain itu, pencarian bibit atlet juga dilakukan melalui berbagai kompetisi olahraga pelajar maupun mahasiswa. Pembinaan atlet tetap dilakukan melalui program pemusatan latihan daerah (puslatda), serta program pembinaan mandiri bagi atlet di daerah.
Melalui berbagai program tersebut, katanya, Tarung Derajat Jawa Timur diharapkan mampu mempersiapkan atlet terbaik untuk menghadapi Pekan Olahraga Nasional yang akan digelar di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. (vin)
Editor : Redaksi