suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Dhafir-Irwan Berpeluang Pimpin Bondowoso, Supriyanto Berpotensi Jadi Batu Sandungan.

avatar suara-publik.com
  • URL berhasil dicopy

Bondowoso, Suara Publik

            Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Bondowoso tinggal menghitung bulan. Pasalnya pada tahun 2017 mendatang Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Bondowoso segera menyusun tahapan pilkada yang direncanakan pada yahun 2018 mendatang.

            Namun, disisi lain, para kandidat bakal calon Bupati mulai bermunculan, meski tidak menampakkan secara terang-terangan untuk maju sebagai pemimpin Bondowoso yang akan menggantikan Amin Said Husni, yang akan berakhir pada tahun 2018.

            Hal itu diungkapkan oleh salah peneliti dari Lembaga Peduli Masyarakat Indonesia, Maruli Siahaan Sika, saat ditemui Suara Publik, disalah Hotel berbintang Bondowoso, Selasa kemarin, (27/12/2016).

            Dia mengungkapkan, bakal calon Bupati Bondowoso masih didominasi pemilih dari kalangan hijau dan merah, sementara sisanya masih belum menentukan sikap, karena masih menunggu kandidat lainnya muncul.

            Pilkada di Bondowoso ini tidak sulit untuk menentukan pemilih, karena simpul-simpul kekuatan pemilih dimasyarakat terlihat jelas, sementara pemilih dari kalangan hijau sudah mengakar, dan tidak jauh berbeda dengan pemilih militan dari kalangan merah.

            “Jadi, kalau tokoh dari Hijau dan Merah ini bersatu sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati, sebaut saja Ahmad Dhafir dengan Irwan Bachtiar Rahmat, maka dipastikan mereka inilah sebagai pemenangnya,”kata aktifis yang akrab dipanggil Sika ini.

            Menurutnya, dari hasil penelitian yang ia lakukan, kedua tokoh tersebut sangat memegang pranan penting dikancah perpolitikan di Bondowoso, sehingga kedua tokoh ini merupakan kekuata besar yang masih mendominasi, baik dikalangan parlemen maupun di masyarakat.

            “Selama saya melakukan investigasi di lapangan, masyarakat menyebutkan bahwa dua tokoh politik senior ini yang sangat dikenal oleh masyarakat, dan masyarakat cenderung menggandengkan kedua tokoh ini menjadi pasangan yang ideal,”tegasnya.

            Tentunya masyarakat sudah cerdas dalam memilih pemimpinya, sehingga apabila ada calon kandidat yang berkeinginan maju, maka harus bekerja ektra keras untuk menggaet calon pemilih dari kalangan hijau dan merah. Namun, tidak menutup kemungkinan bagi kandidat lain.

            Seperti meraih suara dari kalangan pemilih pemula dan pemilih dari kalangan organisasi kemasyarakatan. Karena dua kekuatan besar ini bisa menjadi batu sandungan.

“Sebab mereka saat ini masih lebih memilih diam. Tapi pada saatnya nanti mereka akan bersikap, apakah mereka mendukung hijau merah, atau sebaliknya memunculkan kandidat sendiri,”ungkapnya.

Menurut lulusan pasca sarjana S.3 dari Universitas di Australia ini, munculnya pendatang baru tidak bisa dipungkiri. Sebut saja Supriyanto, ia juga berpotensi menggaet pemilih dari kalangan campuran.

“Ini yang harus diwaspadai, karena hingga saat ini dia sering belusukan ke desa-desa, dengan menawarkan program dan misi-misinya. Dan Supriyanto bisa menjadi batu sandungan bagi kandidat yang lain,”urainya.

Sika menjelaskan, pilkada tahun 2018 mendatang itu berbeda dengan pilkada tahun sebelumnya, karena selain masyarakatnya sudah cerdas dalam menentukan pilihan, ada instrument lain yang turut serta berperan pada pelaksanaan pilkada yang akan datang. Sebab, pada pilkada nanti, ada banyak kekuatan besar yang akan mempengaruhi pelaksanaan pilkada.

“Meski keputusan akhir berada di KPU, tapi diluar sana banyak komponen yang ikut berperan mengawasi kinerja KPU, karena Pemerintah Pusat menghendaki Pilkada serentak itu berjalan sesuai demokrasi yang diinginkan Presiden Jokowi,”imbuhnya. (her)

Editor :